Showing posts with label surat cinta #29. Show all posts
Showing posts with label surat cinta #29. Show all posts

14 February 2012

PENUNJUK WAKTU, SURAT HIJAU, DAN PITA MAGENTA



Teruntuk : Seisi Semesta Yang Berkonspirasi
Tembusan: Pencinta Kejutan dan Peri Baik Hati, dan Korbannya Yang Berbahagia

*
Halo, Seisi Semesta Yang Berkonspirasi.
Aku akan menceritakan sebuah kisah. Kisah yang terjadi tadi malam, Jumat, 10-02-2012. Dengan dua pelakon yang berkomplot, dan satu korban yang anehnya menikmati perannya. Kenapa? Karena ia tahu bahwa kisah yang terjadi hari itu mungkin bisa menjadi awal dari hidup bahagianya.

Aku harus mulai dari mana? Ah ya, mungkin dari scene saat si korban melompat-lompat kegirangan sepanjang jalan menuju kamarnya malam tadi. Aku heran, apa yang terjadi dengannya? Karena yang aku tahu, seharian ini merupakan hari yang cukup berat baginya. Hmm coba aku ingat-ingat. Ah ya, diawali dengan demam yang berkepanjangan dan perut yang mual, ia pergi dari rumah. Tertatih ia memenuhi janji masa depannya. Seharian bergelut dengan urusan perkuliahan dan kerja praktek yang menguras tenaga dan pikiran, akhirnya dengan wajah pucat ia kembali ke peraduan.

Oh tapi tunggu. Sesaat setelah membuka pintu, ia menjerit kecil. Aku mengawasi sorot matanya yang membulat. Ternyata ia melihat wadah terbungkus rapi bertuliskan “Jangan Dibanting”. Senyum yang lebar terlihat menghiasi wajahnya. Memang mengapa? Ada apa? Sekarang ia menjerit kecil dan tertawa. Ah tentu saja! Bungkusan itu untuk dia! Deretan huruf terketik rapi membentuk rangkaian namanya. Dan nama siapa lagi itu di bagian pengirim? Ah, Peri Baik Hati?

Wahai Seisi Semesta, kalian tahu apa yang kemudian ia lakukan? Ya, ia melompat-lompat menunju kamarnya. Aku lihat butuh sekira 5 menit untuk ia bisa menguasai diri dari kegirangan yang menyedot seluruh oksigen dalam ruangan. Dia gila! Ya, dia gila karena yang ia lakukan selanjutnya adalah mengabadikan bungkusan tersebut sebelum dibuka. Ia ingin bukti rupanya, bahwa itu bukanlah imajinasi di malam hari belaka.

Oh Seisi Semesta, ia semakin gila saja! Dengan tertawa ia merobek-robek pembungkusnya. Dan jeritan semakin keras saat ia menemukan bungkusan panjang berpita magenta dan sepucuk surat dalam amplop berwarna hijau bertuliskan “Tolong baca aku terlebih dulu.” Tentu saja!, teriaknya. Coba lihat, tangannya bergetar, begitu pun mulutnya. Tidak, apa itu yang keluar dari matanya? Air? Ah, cengeng!

Penasaran aku mencoba mencuri pandang ke lembaran surat. Deretan huruf tertulis dengan manis. Aku coba membaca, dari awal sampai selesai. Siapa penulisnya? Si Pencinta Kejutan? Siapa dia? Siapa yang bisa membuat seluruh tubuhnya bergetar diliputi kegembiraan? Siapa dia yang menulis kata dengan begitu manisnya? “Dia malaikatku, kamu tahu?”, bisiknya dengan senyum yang masih merekah."Dia malaikatku."

Ah, Seisi Semesta. Apakah akhirnya kalian benar-benar berkonspirasi untuk membantuku membuatnya bahagia? Dan siapakah kalian wahai Pencinta Kejutan dan Peri baik Hati? Di mana kalian? Aku ingin bertemu. Aku ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga. Berkat kalian dia akan mengingat Jumat, 10-02-2012 sebagai salah satu hari terbaik yang tak terlupakan dalam hidupnya. Kejutan dari kalian ia rasakan bagaikan oase penutup hari yang sangat menyegarkan! Percayalah, aku bukan mengada-ada. Dan dia pun tidak berpura-pura.
*
Doanya di penghujung malam itu.
“Wahai Seisi Semesta. Tolong sampaikan kepada Pencinta Kejutan dan Peri Baik Hati, terima kasih. Terima kasih.”

*
Dan ia pun tertidur dalam malam yang tak lagi gelap.


Oleh:

Malam yang bernama minggu



Selamat senja abu-abu yang di temani langit bermurung durja.
Tampak nya si cuaca mengerti perasaan ku saat ini, lihat saja tingkah pola nya. Sore ini di tempat ku matahari sedang bersembunyi, mungkin ia berkelahi lagi dengan awan-awan di atas sana. Si matahari tampak malas menampakkan dirinya, mungkin karena masalah dia dan awan. sedangkan si awan, ia lelah menahan kesabaran dan lebih memilih murung sehingga berwarna gelap pekat, tampaknya sebenatar lagi ia akan menangis.

haha... lucu ya, mereka terlihat seperti kita,
kamu matahari dan aku awan. Tak jelas masalahnya apa, tiba-tiba saja kamu menjauh, tak mau menghubungi ku, menelantarkan aku, dan menggantungkan semua hubungan kita ini.

kamu yang terus-terusan muncul di setiap surat ku,
Bagaimana kabar mu sore ini? pasti menyenangkan seperti biasanya nya. kamu bisa pergi bersama teman-teman mu hingga larut malam. sedangkan aku? aku lebih banyak termenung, tersiksa, dan terpenjara dengan sikap mu yang sungguh luar biasa. luar biasa JAHANAM!

entah sudah berapa malam yang aku lewati tanpa mu, hingga akhirnya aku lupa bahwa malam itu ada. bahkan hari ini pun, sama sekali aku tak ingat bahwa malam ini adalah malam nya. hahaha... kamu jahat sayang. kamu bahkan membuat ku amnesia akan adanya malam ini, hanya karena kamu tak menyapa dan membiarkan aku melewatinya sendiri. andai bukan karena kicauan seseorang, mungkin malam ini akan sama seperti malam sebelum nya, aku lupa akan adanya malam yang di bernama minggu.

kamu si penjemur hati,
hallo....!? mau sampai kapan itu hati di perlakuin kayak pakaian? cukup ya, ga perlu di jemur gitu. kalo mau balikin, langsung balikin aja. kotor-kotor juga ga apa-apa yang penting bisa balik ke pemilik nya. sekali lagi aku tanya biar kamu ga lupa terus, kapan mau balikin hati aku?!


How are you mom? I miss you...



Hai mom, apa kabar? Hampir 9 bulan, kita tidak bertemu face to face, semoga mama bahagia ya di rumah Bapa sana, so many things happen lately, aku kangen kita curhat-curhatan lagi seperti dulu, sambil tiduran di kamarku, dan aku menyentuh tangan mama yang hangat, aku menggenggamnya dan mama membalasnya menggenggam tanganku erat, jemari kita saling bertautan dan beberapa saat genggaman hangat itu saling menguatkan, seolah berbicara dengan keyakinan yang lantang bahwa everything its gonna be alright, we can fix it.
Aku kangen malam-malam yang nyaman, ketika mama duduk di sofa dan aku membasuh kaki mama dengan air hangat dalam ember, membersihkan jemari kaki dan kuku-kuku mama, lalu memulasnya dengan cat kuku warna merah tua, atau coklat tua, warna-warna kesukaan mama, hal itu sangat menyenangkan.
Aku kangen kita duduk berdoa bersama, kangen parah mendengar suaramu, dan mendengar mama menyebut namaku dalam untaian doa itu, sekarang aku hanya bisa mengulang rekaman doa terakhir yang mama ucapkan di rekaman handphone, 3 hari sebelum mama kembali ke rumah Bapa. Dan mama sempat mendoakan yang terbaik untukku, yang nilainya melebihi seluruh cinta di dunia.
Aku kangen when you are texting me, ketika aku berpergian ke luar kota, “cantik, sudah sampai mana?” perhatian yang takkan tergantikan oleh siapapun juga, sapaan yang membuatku merasa aku adalah putri mama tercantik sedunia. I’m proud to have you in my life.
Aku kangen kita pergi ke gereja bersama, ahhhh... how i miss that time, rasa kangen itu mengegebu-gebu ketika membuka lemari mama dan menyentuh pakaian-pakaian yang biasa mama pakai ke gereja, dan ketika merapikan sepatu-sepatu mama dirak, suatu kali aku pernah memakai sepatu mama ke gereja, dulu ukuran kaki kita sama, tapi kemarin ternyata sepatu wedges putih mama mulai sempit dikakiku, tapi aku tak peduli, aku tetap pakai sepatunya, dan merasa ada bagian dari dirimu ikut aku ke gereja kala itu.
Gereja yang mama perkenalkan semenjak aku kecil, tempat aku bertumbuh, duduk di bangku gereja, ada kenangan-kenangan berkelebat yang membuatku tersenyum, waktu kecil dibangku barisan itu aku pernah ketiduran dipangkuan mama, di bangku barisan itu juga mama pernah memberiku permen dan cemilan-cemilan dalam kantong kecil berwarna merah muda berenda dengan motif bunga-bunga supaya aku tidak rewel, ya aku memang tidak pernah rewel, aku selalu menikmati saat-saat seperti itu bersama mama, rasanya manis, semanis permen yang aku kulum.
Di bangku barisan itu juga mama duduk melihatku perform untuk perayaan natal, melantunkan pujian, menari, bermain drama, melihat aku disidi, melihat pelayanan-pelayananku, dari depan aku mencari tatapan matamu, dan mama melihatku dengan tatapan hangat sehangat matahari yang penuh kepercayaan.
Dan setiap aku terbangun dipagi hari, merasakan hangatnya sentuhan matahari pagi di permukaan kulitku, aku selalu menyadari, mama selalu ada disana mengharapkan yang terbaik untukku. Dan aku akan mengucapkan I love you mom, like usually when you wake up in the morning, sampai nanti kita bertemu lagi, ketika waktunya kita bisa sama-sama berkumpul dan berpelukan kembali di rumah Bapa.


Oleh:

Untuk Sang Perempuan

Hai, kalian para gadis,

ah, banyak sekali ekspektasi masyarakat kita terhadap kalian

kalau kau belum menikah di usia 25, dipandang negatif

kalian harus cantik, namun jika kalian memakai kosmetik, dibilang palsu hanya mementingkan penampilan luar

Terkadang bahkan jika di mata masyarakat kalian “kurang cantik”, kalian dianggap tak seberapa bernilai

untuk kalian para wanita,

Mengapa? mengapa jika kaum lawan jenismu melepaskan keperjakaannya sebelum menikah, itu bukan sebuah persoalan besar, namun jika kau melepaskan keperawananmu sebelum menikah, kau dicap perempuan nakal?

Kau dianggap harus menjaga dirimu, dibilang kau adalah perhiasan yang harus disimpan dalam lemari kaca

Ah, itu semua omong kosong, kau bukanlah objek.

Tubuhmu adalah milikmu, adalah hakmu sepenuhnya apa yang kau lakukan dengan tubuhmu.

para perempuan cantik,

ya, jika kau seorang perempuan dan kau membaca ini,

sadarkah kau, kau cantik sekali hari ini,

dan kemarin-kemarin, dan sampai kapanpun

bukan karena kulitmu putih mulus, rambutmu lurus, dan tubuhmu ramping semampai

namun karena kau wanita seutuhnya

Kau bukan warna kulitmu,

kau bukan ukuran pakaianmu

kau bukan jenis rambutmu

kau bukan perhiasan yang menempel di tubuhmu

pikiranmu adalah kau

kepribadianmu adalah kau

kecerdasanmu adalah kau

kau adalah personamu

Ketahuilah, jika nanti kita bertemu, aku tak akan berkomentar tentang ukuran bajumu yang bertambah atau berkurang

aku juga tak peduli akan berapa jumlah kerutan di wajahmu

aku akan bertanya tentang buku yang kau baca

atau tentang film yang kau tonton

aku akan bertanya pendapatmu tentang berita di TV hari ini

Ah, menyenangkan sekali kan jika ada yang memandangmu tidak dari atribut luarmu

Hai para wanita,

ingatlah, kau adalah wanita seutuhnya

kata siapa wanita seutuhnya adalah mereka yang punya tubuh seperti ini, seperti itu, harus memiliki suami dan anak dan sebagainya?

Kau bisa berambut pendek atau panjang, atau bahkan tak memiliki rambut sekalipun, dan tetap menjadi wanita seutuhnya.

kau bisa kurus atau gemuk, dan kau adalah wanita seutuhnya.

Kau boleh memiliki anak, ataupun tidak, ataupun memang tidak bisa mengandung seorang anak, dan kau tetap wanita seutuhnya.

Kau boleh memiliki suami, tidak memiliki pasangan hidup atau bahkan memiliki seorang istri, dan kau tetap wanita seutuhnya.

Perempuan cantik, tersenyumlah! Kuharap harimu menyenangkan


Surat Untuk kalian

Kalian yang indah terendap di dalam kenangan.

Setiap waktu yang berlalu terasa jadi lebih menyenangkan, karen ada percikan tawa di dalamnya. Selalu ada rencana- rencana indah yang kita susun setiap bertemu.

Ah sedih sekali ketika akhirnya saya harus mengambil keputusan untuk berpisah dengan kalian. Semalam saya kembali rindu saat-saat makan malam rame-rame dengan kalian. Di sini sepi sekali, mungkin penghuninya masih pada asyik menikmati liburannya di kampung halamannya masing- masing. Tapi saya bersyukur pernah punya pengalaman liburan-yang-tak-akan- pernah saya lupakan-seumur-hidup.

Ah kenapa sih liburan ini terasa singkat sekali, kenapa harus ada ujungnya juga? Kenapa di akhir hari liburan ini justru ada sepercik rindu juga untuk teman-teman di kampus?

Surat ini khusus untuk yang selalu meminta saya mengulang- ulang kalimat: ‘Sudah makan dulu sanah’
Untuk yang memutar lagu Kahitna atau Terry setiap malamnya sebelum tidur.
Untuk yang pernah tiba- tiba mengatakan: ‘Cinta dan politik itu sebenarnya sama’
Untuk yang susah bilang huruf F dan mengubahnya menjadi P.
Untuk yang selalu melempar koin untuk diperebutkan saat berenang.
Untuk yang menyanyikan lagu ‘Kudaku lari gagah berani’ saat perjalanan ke Bromo dan mengajarkanku untuk menyenandungkannya kala dalam perjalanan.
Untuk yang tak pernah bisa bahasa Jawa dan vocabnya terbatas di kata: ojo dan ono, sehingga kerap mengucapkan ‘ojo-ojo’.
Untuk yang tergolek sakit beberapa hari setelah ke Bromo.
Untuk yang berpose seperti personel Peterpan ketika kamera mengarah kepadanya.
Untuk kalian yang turut berjabat tangan mengantarkan kepulanganku dan Amil ke Solo.

Surat hari ke- 29 ini kutujukan kepada kalian yang turut memeriahkan tamasya Bromo, ikut berenang, makan malam rame-rame, karaoke bareng, dan merencakan perjalanan (yang untuk sementara waktu gagal) ke Blitar. Terima kasih karena telah mengisi hari ku dengan begitu indahnya, terima kasih untuk pertemanan (atau malah persahabatan?) dihari-hari liburan yang singkat di Pare. Terima kasih untuk segenap kegembiraan yang turut mewarnai hari –hari itu. Maafkan saya jika selama kita bersama banyak kesalahan yang kuperbuat. Maaf saya tak sempat pamit langsung, dan mungkin tak kuasa untuk menahan tangis jika pamit langsung.

This letter is for you all guys.


Oleh:

Wangi Hujan

Kedah, 11 Februari 2012

Untuk kamu,

yang pernah sempat saya menyerah, tanpa tau akhirnya saya perjuangkan juga

Hey..

Sukakah kamu pada hujan?

Tetes-tetes yang mengetuk jendela kamarmu saat langit tiba-tiba menggelap. Yang terkadang kamu keluhkan karena ia jatuhi keningmu saat kamu tengah tertidur lelap.

“Atap diatas kasurku bocor. Jadi kalau hujan, airnya netes ke mukaku langsung,” katamu waktu itu. Saya dengar suaramu begitu gusar saat ceritakannya di telepon. Lucu sekali. :))

Sukakah kamu pada hujan?

Tingkah alam yang banyak orang bicarakan. Bikin orang-orang ingat kenangan lama lah, ingat pacar yang jauh lah, ingat gebetan lah, dan blahblahblah lainnya. Hujannya sedikit, galaunya seharian.

Kalau kamu, siapa yang kamu ingat saat lihat tetes hujan turun pelan-pelan di kaca spion motormu?

Sukakah kamu pada hujan?

Yang saya tau, saya dan kamu sukanya nonton film. Semua jenis film. Dan hujan tentu saja ada di beberapa scene di dalamnya.

Kurang sedap dirasa sebuah film drama cinta jika tanpa scene hujan-hujanan bersama. Tentu saja nantinya si aktor ganteng dan si aktris cantik biasanya akan berjalan bersama dibawah satu payung. Atau, si aktris menunggu si aktor yang sedang selingkuh sampai basah kuyup kehujanan. Mungkin pula sesederhana si aktor dan si aktris yang lari-lari kecil mencari tempat berteduh saat mereka pertama kali bertemu, lalu berkenalan.

Apakah 5 tahun lalu hujan sedang turun saat kita pertama kali berkenalan?

Jangan. Jangan kamu tanyakan sukakah saya pada hujan.

Saya jatuh cinta pada hujan. Pada suara gemericik tetesannya. Pada hawa sejuknya. Pada tebar wanginya di udara.

Wangi hujan seringkali bius saya untuk membayangkan tentang kamu lebih lama. Tentang ceritamu yang saat hujan tak pernah mau pakai payung. Tentang helm motormu yang basah terguyur hujan karena tanpa dilengkapi kaca. Dan tentang betapa kesalnya kamu saat tiba-tiba hujan, listrik padam, lalu baterai ponselmu hanya tersisa setengah.

Wangi hujanpun yang sadarkan saya betapa saya perhatikan kamu begitu dalam. Saya ingat setiap detail cerita-cerita yang kita tukar bersama. Saya ingat apa yang kamu suka, yang kamu kurang suka, yang mungkin akan kamu lakukan, dan yang mungkin akan kamu pilih untuk gak dilakukan.

Ya, memang. Setiap detik waktu kamu bersama saya, saya berusaha pelajari kamu. Lalu tiba-tiba, saya terjebak dalam dunia kamu, sampai sekarang.

Mungkin diri kamu sendiri juga belum sadari itu.. :))

Dari saya,

yang masih terjebak, tapi belum juga mau beranjak

Oleh:

Surat Untuk Hati

Dear Hati,
Apa kabarmu? Masih sakit? Semoga kau baik-baik saja, jangan sampai patah lagi dan lagi. Istirahatlah yang cukup dari rasa pilu agar kau bisa segera bangkit kembali bekerja mendampingi aku.
Hati, kumohon padamu, mulai detik ini mulailah dengarkan aku. Jika dengan matamu kau sudah melihat keganjilan, mulai serahkan tugas padaku untuk berpikir hal yang realistis. Janganlah kau terlalu baik, Hati. Tidak semua makhluk diluaran sana memikirkan kamu. Mereka pun menggunakan pikirannya namun sedikit yang melibatkan hatinya. Tapi kamu, selalu bekerja sendiri tanpa aku. Pemilik kita disebut makhluk yang lugu pada akhirnya, kamu tahu? Karena kau tidak mengijinkan aku untuk ikut bekerja bersama denganmu.
Hati, kini aku berjanji akan selalu menjagamu. Kau harus mengijinkan aku mendampingimu setiap saat. Kamu harus mendengarkan aku. Aku hanya tidak ingin kau merasakan pilu lagi, sakit lagi dan patah lagi. Aku sayang padamu. Aku tak ingin melihatmu menangis lagi dan membiru.
Hati, lepaskanlah genggamanmu dari hati miliknya. Kau hanya dibawa lari ke sana kemari hingga terseok tanpa ia sedikit pun memandang ke arahmu. Dia tidak peduli lagi, Hati. Sudah. Cukup. Dan lepaskanlah. Aku akan membantumu menemukan hati lain yang lebih baik daripada miliknya. Yang tidak akan mengkhianati kesetiaanmu, dan tidak akan menghancurkanmu di dalam genggamannya. Percayalah, aku mampu membantumu.
Hati, janganlah kau ragu kemudian menghakimi dirimu sendirilah yang buruk. Tidak. Kau setia, kau berhak mendapat bahagia. Dia khianat, dia tidak berhak mendapatkan setia, darimu tentunya. Semudah itu bukan? Maka, lepaskanlah segala hal yang akan menyakitimu. Genggam tanganku untuk mendampingimu bekerja demi pemilik kita. Semoga pilumu kemarin adalah pilu yang terakhir. Aku harap kau segera meraih bahagia. Bersama aku dan juga pemilik kita tentunya.
Salam sayangku,
Aku, Otak dengan segala pikirannya.



Aku Tak Mau Jadi Juliet

Hi ..
Okay, to the point saja ya..
Jadi begini, ah bagaimana harus memulainya ya.
Ehem., jadi begini, aku tau kau itu Romeo, tapi boleh tidak aku tak jadi Juliet?
Ah tunggu dulu, jangan berburuk sangka padaku, bukannya aku tak mau mendampingimu, atau tak mau menjadi pasanganmu.
Hanya saja aku tak ingin kisah kita berakhir tragis seperti Romeo dan Juliet.
Aku tak mau akhirnya kita tak pernah menyatu.
Aku tak mau kita berakhir dengan bunuh diri.
Mungkin orang-orang berpikir pasti Romeo dan Juliet hidup bahagia di surga.
Itu tidak mungkin, karena jelas-jelas agamaku mengatakan orang yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri itu takkan pernah diterima bumi.
Jadi, aku tak mau jadi Juliet.
Aku sungguh tak mau jadi Juliet, aku tak mau kisah kita seperti kisah mereka, harus diam-diam untuk bertemu.
Setiap hari harus menelan mentah-mentah segala ocehan kedua orang kita.
Menyuruh kita untuk memutuskan segala ikatan.
Aku tak mau yang seperti itu.
Aku ingin kita menjalani kisah yang menyenangkan.
Aku ingin kita bisa bertemu di akhir pekan, sembari duduk di taman, berbagi keluh kesah dan cerita penuh kebahagian.
Kita berbincang sambil minum teh, ah tunggu kau mau apa? Teh atau kopi?
Aku ingin kedua orang tua kita saling bertemu, sembari berbincang ramah tentang kita.
Pokoknya aku tak mau jadi Juliet, tapi aku tak mungkin merubahmu, kau sudah keburu jadi Romeo.
Jadi bagaimana? Kau mau tidak merubah judul kisah kita?
Jadi tidak usah “Romeo and Juliet”.
Misalnya “Romeo dan Cinderella” saja.
Jadi nanti kita bertemu di sebuah pesta dansa, lalu tepat pukul 12 malam aku berlari sembari menanggalkan sepatu kacaku di tangga istana.
Lalu kau mencariku di seantero kota.
Lalu kita bertemu , kau menerima segala kekuranganku.
Kau menerima aku apa adanya.
Dan kita hidup bahagia selamanya.
Atau, kau mau “Romeo dan Putri Tidur”??
Jadi saat aku terkena sihir dan tak bisa terbangun dari tidurku, kau datang dengan kuda putih nan gagah, lalu kau kecup lembut dahiku, aku terbangun dan lalu kita pun selalu bahagia bersama.
Atau - atau bagaimana dengan “putri salju”?
Ah bagaimana?
Yang Cinderella saja ya?
Aku lebih suka yang itu, bagaimana? Boleh ya? Ya?
Jadi nanti judulnya “Romeo dan Cinderella”.
Not bad kan??
Ya kan?
Apa kau tak suka yang Cinderella?
Lalu kau mau yang mana??
Ah terserah aku menurut saja, aku ikut saja maumu.
Tapi yang jelas, aku tak mau jadi Juliet,
Aku tak mau kita menjadi “Romeo dan Juliet”


Sepucuk surat cinta untuk cintaku

Cinta,

Seandainya hatimu adalah sebuah system, maka aku akan scan kamu untuk mengetahui port mana yang terbuka Sehingga tidak ada keraguan saat aku c:> nc -l -o -v -e ke hatimu,tapi aku hanya berani ping di belakang anonymouse proxy, inikah rasanya jatuh cinta sehingga membuatku seperti pecundang atau aku memang pecundang sejati whatever!

Seandainya hatimu adalah sebuah system,
ingin rasanya aku manfaatkan vulnerabilitiesmu, pake PHP injection Terus aku ls -la; find / -perm 777 -type d,sehingga aku tau kalo di hatimu ada folder yang bisa ditulisi atau adakah free space buat aku?. apa aku harus pasang backdor “Remote Connect-Back Shell”jadi aku tinggal nunggu koneksi dari kamu saja, biar aku tidak merana seperti ini.

Seandainya hatimu adalah sebuah system,
saat semua request-ku diterima aku akan nogkrong terus di bugtraq untuk mengetahui bug terbarumu maka aku akan patch n pacth terus,aku akan jaga service-mu jangan sampai crash n aku akan menjadi firewallmu aku akan pasang portsentry, dan menyeting error pagemu ” The page cannot be found Coz Has Been Owned by Someone get out!” aku janji gak bakalan ada macelinious program atau service yang hidden, karena aku sangat sayang dan mencintaimu.

Seandainya hatimu adalah sebuah system,
jangan ada kata “You dont have permission to access it” untuk aku, kalau ga mau di ping flood Atau DDos Attack jangan ah….! kamu harus menjadi sang bidadari penyelamatku.

Seandainya hatimu adalah sebuah system, …?

Tapi sayang hatimu bukanlah sebuah system,
kamu adalah sang bidadari impianku, yang telah mengacaukan systemku!
Suatu saat nanti aku akan datang n mengatakan kalau di hatiku sudah terinfeksi virus yang Menghanyutkan, Ga ada anti virus yang dapat menangkalnya selain …kamu.


Oleh:

Pak Beye

Selamat pagi, Pak.
Salam hormat dari saya, satu dari ratusan juta penduduk negeri yang sudah bapak imami sejak tahun 2004 dulu, sampai tahun 2014 nanti. Wah, sepuluh tahun dari hidup bapak dihabiskan untuk menjadi orang nomor satu dari Sabang sampai Merauke. Bagaimana rasanya Pak? Saya tidak sanggup membayangkan. Tanggung jawab yang pastilah teramat besar ya, Pak? Semoga tuhan mendengar doa saya untuk bapak. Doa sederhana supaya bapak diberi kekuatan untuk melindungi kami dan berjuang sekuat tenaga untuk negeri ini.

Saya tahu bapak bukan orang baru di dunia politik. Bapak pernah jadi menteri kan dulunya? Tapi saya yang waktu itu masih pakai seragam merah putih tidak terlalu mengerti urusan pemerintahan. Sampai sekarang pun sebenarnya belum ngerti, Pak. Mungkin memang saya yang malas dan tidak mau mencoba untuk mengerti. Tapi saya janji sama bapak, saya yang sekarang mahasiswa hukum ini akan lebih sering baca koran. Lebih sering nonton berita. Supaya saya bisa lebih mengerti bapak. Saya mau belajar memahami bapak.

Saya ingat waktu bapak sedang sibuk kampanye, tiap hari saya merengek pada ayah dan ibu saya supaya memilih bapak sebagai presiden. Alasannya sederhana. Wajah bapak terlihat paling jujur dan mengayomi dibanding calon yang lain. Bapak juga yang wajahnya paling ganteng. Saya ngga tahu apa ayah dan ibu saya menuruti permintaan saya yang lugu dan tak tahu malu itu, tapi toh bapak tetap menang. Waktu itu saya ikut senang.

Tapi setelah bertahun-tahun lewat, kenapa keadaan bangsa kita -bisa dibilang- masih begini-begini saja? Malah ada beberapa hal yang semakin parah. Saya takut Pak. Saya takut tapi bingung harus berbuat apa. Mungkin masalah kita memang segitu banyak dan kompleksnya ya Pak? Mungkin bapak merasa bingung juga. Tapi bedanya, bapak-semoga- tahu apa yang harus dilakukan. Lakukan apapun yang harus bapak lakukan, Pak. Masih ada waktu dua tahun lagi. Jangan sampai bapak turun lalu jadi satu dari sekian banyak yang dicaci. Saya mendoakan yang terbaik untuk bapak.


Bapak Dokter? Saya Takis!

Dok,
Sepertinya saya sakit. Saya bisa buat janji untuk bertemu dengan dokter? Hari apa saja tidak jadi masalah bagi saya. Yang penting sesuai dengan jadwal praktek dokter. Tolong saya jangan dilimpahkan ke dokter yang lainnya. Yang mau saya temui ya hanya dokter saja.

Sebenarnya alasan saya memaksa ingin bertemu dengan dokter karena ini konsultasi. Sudah beberapa minggu terakhir ini saya sulit tidur. Selera makan saya juga menurun drastis. Kalau biasanya saya sanggup menghabiskan nasi padang dengan porsi 1 1/2, tapi sekarang untuk makan lebih dari lima sendok saja susah sekali, dok. Saya juga merasa lemas. Jadinya sekarang saya lebih sering menghabiskan waktu di tempat tidur. Saya merasa kurang produktif.

Ketika saya ceritakan masalah saya ini kepada teman-teman, mereka bilang saya ini terserang malarindu tropikangen. Bagaimana ini, dok? Bisa kan dokter bantu sembuhkan saya? Saya ingin sekali segera pulih. Minum obat berapa banyak pun saya sanggup, dok. Yang penting saya bisa berkegiatan seperti biasanya.

Dok,
saya jadi berpikir ulang. Jangan-jangan yang dikatakan oleh teman-teman saya ini benar. Sebetulnya, dikepala saya ini memang sedang dipenuhi oleh satu orang ini. Saya sudah lama sekali tidak bertemu dengan dia.

Orang ini sibuk sekali, dok. Setiap hari berangkat kerja sebelum matahari menampakkan diri dan pulang saat bulan sudah muncul. Padahal dulu saya sering menghabiskan waktu bersama dia. Sekedar pergi untuk minum kopi dan makan pancake, juga sesekali pergi berenang. Kami juga dulu sering menghabiskan waktu untuk saling bercerita tentang orang yang sedang kami taksir.

Saya ini hanya ingin bertemu dia, dok. Menghabiskan malam berdua. Main game sampai salah satu dari kita lelah dan tertidur lebih dulu. Lalu tidur bersebelahan sampai pagi di kasur yang sebenarnya sempit sekali untuk ditempati oleh kami. Saya juga sudah lama sekali tidak memasakkan makanan kesukaannya.

Dokter bisa bantu saya kan? Tolong kabari saya, kapan saya bisa bertemu dengan dokter. Terimakasih banyak, dok.


Tertanda,
Pasienmu yang Paling Setia.





P.S. : Dokter tahu kan saya ini sebenarnya membicarakan dokter sendiri? Pulang dong, dok. Adikmu ini kangen, ingin peluk.




Oleh:

KEPADA SAHABAT YANG MENETESKAN RINDU SETIAP HARINYA

Konnichiwa Hime!

Aku harap kau selalu baik-baik saja karena ketidakbaikkanmu akan membuatku sedih. Aku hanya ingin menyampaikan kerinduanku melalui surat ini. Aku tahu kau akan menangis, jadi siapkanlah sekotak tisu di sampingmu.

Bertahun-tahun ku mengenalmu, bertahun-tahun ku bersenang-senang denganmu, bertahun-tahun pula ku merindukanmu. Awalnya yang ku tahu, aku punya seorang teman yang sangat baik hati. Tapi sekarang kau lebih dari sekedar sahabat. Kau seseorang yang sangat ingin aku lindungi. Tak peduli seberapa jauhnya kita saat ini. Tak peduli seberapa banyaknya teman kita, tak ada yang bisa menggantikan posisimu di kehidupanku. Tak pernah sekalipun aku membayangkan kehilanganmu. Aku terlalu takut untuk itu.

Saat ini yang aku tahu tentangmu hanyalah rindu. Rindu yang mengalahkan segala perasaan lainnya. Rindu yang mendinginkan secangkir kopi panas di pagi hari. Rindu yang membasahi banyak tisu di malam hari. Kursi dihadapanku, rindu untuk kau duduki. Tempat tidur ini, menunggu untuk kau tempati lagi. Dan tubuh ini, rindu untuk kau peluk kembali.

Hime, terima kasih sudah setia mengisi hidupku. Maaf jika aku belum menjadi sahabat yang sempurna. Karena denganmulah, kawan, persahabatan kita menjadi sempurna. Kita ini salah satu bentuk nasib. Nasib baik. Percayalah, seburuk apapun hidup kita, kita masih punya mimpi yang harus diraih. Jangan pernah merasa sendiri. Percayalah segalanya bisa terjadi dan hidupmu akan terus lebih baik. Jangan pernah lelah untuk berdiri bila jatuh. Jangan pernah kehilangan semangat. Suatu saat kita pasti bisa sama-sama lagi. Tenang saja, masa depan kita pasti cerah meski kita berbeda tempat. Jaga dirimu baik-baik.



Aku yang sedang merindukanmu, Hime.
Teruntuk sahabat kecil @mphiewz
Ore wa hime no ninja :)





12 February 2012

Tukang Pos Cinta

Hai, kau. Iyaa, kau. Yang sedang membaca deretan kata yang mungkin tak akan berarti untukmu.
Si tukang pos yang selalu sabar (atau mungkin ogah-ogahan) membaca seiap surat yang dimention ke akun twitter. Si tukang pos yang kadang muncul di timelineku dengan tweet-tweet galau. Atau sajak yang mungkin kadang tak kumengerti artinya.

Adimas Immanuel.

Awalnya namamu terasa asing di teligaku. Namun lambat laun, aku jadi terbiasa.
Haha, aku bingung sendiri membuat surat cinta untuk tukang posku sendiri.
Tapi semalam, ide ini muncul begitu saja, menguap seiring dengan kata-kata yang sedang kau baca ini.
Taukah kau? Rasanya tak rela setelah ini tanggal 14 akan datang. Saat kegiatan ini harus diakhiri. Saat tidak ada alasan lagi untuk mention. Saat rasanya malas sekali menulis tanpa alamat.

Aku tidak mengenalmu. Apalagi sok kenal.
Aku hanya mengagumi deretan kata yang kau buat. Mengagumi kesabaranmu membaca puluhan atau bahkan ratusan surat yang masuk setiap harinya. Pasti repot. Mungkin lelah. Atau bosan setiap hari membaca hal itu-itu saja.
Kau hebat. Haha. Dan sabar sekali lagi.

Untukmu, si lelaki tukang pos.
Ini adalah luapan kagumku. Yang (semoga) tersampaikan lewat kalimat dalam surat ini.
Nah, bekerjalah lagi. Masih banyak hal-hal yang menantimu di luar sana. Bersemangatlah!

untuk Adimas Immanuel, si lelaki tukang pos.

oleh: @saraahaghnia
diambil dari: http://uncoloursky.blogspot.com/2012/02/hari-ke-dua-puluh-sembilan-tukang-pos.html

Janji Kelingking

Untuk : Kamu
Dari : Aku

ehem :)
ini surat kelima belas, tapi belum juga kamu membalas, ya iya, kamu emang jarang online, lebih tepatnya gak bisa online :p


aku ingin mencetak ingatanku, biar aku bisa mereview setiap waktu
ingat, aku pelupa yang (tak) kau lupakan :)


tapi yang saat ini masih di segar kepala, masih tentang kamu, lebih tepatnya tentang kamu dan aku.
tentang awal awal kita menjadi satu, hihi. lucu sekali
tapi yang paling aku suka, janji kelingking aku dan kamu,
kita mengulangnya lagi, setelah pertama kali berikat kelingking di depan kosmu,
iya, tepat ! itu waktu aku menyampaikan perasaan dan meminta kepastian :)
tapi untuk kali ini, kita berjanji kelingking lewat pesan singkat, inginnya romantis, tapi apa daya, si waktu selalu mengganggu
sepertinya aku harus ketik setiap kata, supaya tak lupa

kamu : eh mas, punya jas ujan warna gelap nggak? yg ga egois tapi, buat diklat soale
aku : ada, warna doreng, ntar aku tanyain ayahku
kamu : doreng itu yang gimana mas? gelap deh pentinge, bener bener? gapapa? makasi makasi #mau sujud ini
aku : lak lebe, haha.. ya ntar tak tanyain ayahku dulu, soalnya ayahku mau latihan perang
kamu : itulah efek diklat (?) woo perang? sama siapa?
aku : latihan perang sayangku cintaku kasihku pujaan hatiku --'
kamu : hehe, sabar mas.. latihan perang, semangat semangat buat ayahnya :D, makasih banyak pokoke, besok tolong ya mas, pliss :D
aku : ------- *saya lupa balas apa*
kamu : besok aku pinjem boleh ya mas? makasi banyak mas :D tadi wes keliling aku nyari, capeek
aku : wani piro?
kamu : inget iklan aku --' maune opo wes?
aku : *akal bulus keluar* jangan tinggalin aku, mudah kan?
kamu : okeok, retweet :D aku ga mau kemana mana mas pacar, suer :p
aku : janji? *nyodorin kelingking*
kamu : Janji *pake kelingking juga* :)
---------------dan pembicaraan menjadi gak penting :p

ya itu aku dan kamu, haha. dari jas hujan, menjadi percintaan
kamu jangan sampai bosan dengan kata kata ya, kata kata itu apik, apalagi kalau ada aku dan kamu di dalamnya :)

oleh: @rupmakrup
diambil dari: http://anotherpart.blogspot.com/2012/02/surat-kelimabelas-janji-kelingking.html

Sepertinya jatuh cinta lagi..

Dearest kamu..

Kamu tau gimana rasanya menunggu-nunggu seseorang online untuk sekedar menulis beberapa kata di twitter miliknya sendiri?
Saya tau rasanya..

Kamu tau gimana rasanya seperti ada kupu-kupu diperutmu saat sekedar chit chat dengan seseorang spesial?
Saya tau rasanya..

Kamu tau gimana rasanya ketika disapa terlebih dahulu dengan messenger itu disaat sedang asik-asiknya mengerjakan sesuatu? Dan menghentikan semua kegiatan untuk fokus kepada pembicaraan itu?
Saya tau rasanya..

Kamu tau gimana rasanya ketika menyadari seseorang yang terus-menerus berlari-lari difikiranmu saat akan tidur pada malam hari? Dan alhasil kamu jadi lebuh susah untuk tidur karna memikirkannya?
Saya tau rasanya..

Kamu tau gimana rasanya saat menyadari dia sedang membutuhkan seseorang untuk sekedar bercerita, sekedar mengeluh tentang kehidupan. Tetapi lebih memilih untuk pura-pura tidak tau dan berdiam diri. Hanya mendoakan segala masalah yang menyesakan jiwanya itu telah diselesaikan?
Saya tau rasanya..

Untuk seseorang yang bisa membuat hati saya terbuka dan jatuh cinta lagi setelah sekian lama menutup hati :’)

oleh: @SeptyDI
diambil dari: http://septydwiindriani.tumblr.com/post/17418660557/sepertinya-jatuh-cinta-lagi

Cincin Di Jemari Manis

Kepada: Cincin di jari manis.



Hari ini, setelah bertahun-tahun lamanya dia menetap di jemari manis sebelah kananku, kuungsikan juga ke jemari lainnya. Setelah semalam ada yang menghampiri dan bertanya, “Itu cincin di jari manis, memang kamu sudah menikah?” lagi aku tersenyum tanpa memberi jawaban. Cincin polos perak yang sudah ada sekitar 5 tahunan ini tidak pernah barang sedetik pun berpindah, bahkan saat aku mandi.



Mereka bilang orang yang bercincin di jari manis sebelah kanan otomatis memberi tahukan ke orang lain bahwa ia sudah menikah. Haruskah aku menikah dahulu hanya untuk memperindah si manis? Haruskah aku mengikat janji hanya untuk merias si manis?



Bekas cincin itu kini memutih di jemari. Memberikan tanda ada yang memang pernah bertahta di sana. Seperti hatiku yang memang sudah ada pemiliknya, si pemberi cincin polos berwarna perak. Tanda itu mengingatkan aku kepada kekasihku, pemilik hatiku, yang pernah menikahi hatiku bertahun lamanya.



Si pemberi cincin yang kini sudah tiada.

Yang sudah mati dan menuju surga.









……………………… mati. mati. mati. mati. mati. mati. mati ……………………….



Meski si cincin ini sudah harus berpindah jemari, hatiku masih tak bisa berpindah ke tempat lain. Hatiku ikut mati, bersama pemiliknya.



oleh: @starlian
diambil dari: http://starlian24.wordpress.com/2012/02/10/cincin-di-jemari-manis/

Passion

Niet,



Niet, kamu suka musik? bisa nyanyi? Tapi kamu ngga suka karaokean. Kamu pernah cerita itu. Setiap kali kamu diajak karaokean temen-temenmu, kamu pasti menolak jika memang tidak benar-benar mendesak seperti ketika yang ngajak adalah bosmu. Kamu bilang kamu memang ngga bisa nyanyi. Ngga bisa nyanyi dalam artian bukan berarti ngga bisa menghafal lirik, tapi kamu kurang pede dengan performamu.

Aku juga seperti kamu Niet, ngga bisa nyanyi. Bisa pun setengah-setengah. Seingatku, aku memang jarang bisa menghafal satu lirik lagu secara utuh kecuali beberapa lagu. Aku lebih sering hanya menghafal bagian reff-nya. Bagiku mengulang-ulang bagian reff terkadang serasa kita menyanyikannya secara utuh. Kau boleh tertawa jika menganggapnya lucu.

Pengetahuanku tentang musik juga tergolong minim. Paling-paling beberapa tembang lawas yang cukup terkenal saja yang aku ketahui. Aku malas update musik. Aku tidak begitu mengetahui perkembangan musik zaman sekarang. Entahlah, meski beberapa acara televisi gencar-gencarnya menayangkan acara musik, bahkan bisa setiap hari mereka konser, tapi itu tak membuat aku semakin tertarik dengan update musik sekarang ini. Aku juga tak tahu, musik-musik yang disajikan seolah kehilangan daya tariknya di telingaku ini.

Semalam aku membaca sebuah buku. Bukan tentang buku musik. Tapi ada satu bagiannya yang menyinggung tentang maestro musik Ludwig van Beethoven. Terus terang aku tidak begitu tahu tentang karya-karya Beethoven. Salah satu karya terbesar Ludwig van Beethoven adalah Simfoni nomor sembilan. Inilah yang menarik buatku. Konon Simfoni nomor sembilan ini dibuat saat Beethoven benar-benar tuli sempurna.

Aku tertarik dengan cerita itu. Lalu aku sengaja jalan-jalan di internet untuk mengetahui rekam jejak Beethoven. Aku semakin kagum. Beethoven adalah maestro besar. Namun siapa sangka jika perjalanannya sejauh itu dilalui dengan begitu berat. Sejak usia muda dia mengalami gejala tuli. Tuli adalah ancaman yang paling serius bagi seorang pemusik. Ia bisa menjadi akhir dari segalanya. Sejak saat itu Beethoven mulai menarik diri dari pergaulan. Karya-karyanya juga mulai seret. Hidupnya semakin nelangsa.

Dalam kondisi yang buruk seperti itu ditambah satu kenyataan bahwa hingga umurnya yang semakin menua dia belum memiliki pendamping hidup, itu membuatnya semakin frustasi. Hidupnya mulai goyah dalam segala aspek. Kehidupannya semakin asosial, krisis keuangan,hingga karya-karyanya pun semakin minim.

Usia empat puluh, ia seratus persen tuli. Satu kenyataan yang kejam bagi seorang komponis sebesar Beethoven. Tapi ia tidak pernah menyerah. Dalam kondisinya yang tuli sempurna tersebut, siapa sangka justru ia menghasilkan karya yang disebut-sebut karya terbesar Beethoven sepanjang hidupnya. Simfoni nomor sembilan. Karyanya sendiri yang tak pernah bisa didengar oleh telinganya yang tuli. Namun kata-kata terakhirnya sungguh tepat, “aku akan mendengarnya di surga”.

Beethoven menghadapi penderitaannya dengan elegan!

Sebenarnya aku pernah mengatakan hal senada itu. Meski seingatku, aku mengatakannya dalam keadaan sedikit goyah.

Niet, kamu pernah patah hati? Itu terlihat seperti pertanyaan bodoh melihat kondisimu setegar ini. Dimataku kamu selalu terlihat ceria. Kamu benar-benar menikmati hidup. Aku tahu kamu seorang wanita mandiri, tidak pernah menggantungkan apa pun kepada orang lain. Setiap kali ada masalah, kamu selalu bisa mengatasinya sendiri.

Tapi lika-liku kehidupan seseorang memang berbeda Niet. Semua orang memiliki ceritanya masing-masing. Aku pun begitu. Dalam perjalananku, tidak bisa dipungkiri, aku menginginkan kondisi yang lurus-lurus saja. Cari sekolah gampang, kuliah lancar, rejeki mengalir, menabung, membantu orang tua dll. Termasuk satu hal, cinta. Semua orang menginginkan mendapatkannya bukan? Hidup memang terasa kurang sempurna tanpa cinta. Kalau tidak salah itu ada lagunya.

Ah Niet, kadang semua yang kita inginkan tak selamanya bisa kita dapatkan. Aku tahu itu. Aku pun demikian. Aku pernah memiliki seorang teman wanita yang begitu aku cintai. Teman SMA. Aku sempat berfikir dia cinta sejatiku. Karena kami pun saling mencintai. Aku berharap akan menikahinya suatu hari nanti. Sebelum semuanya dikacaukan dengan kejadian itu. Dia dijodohkan dengan orang lain. Aku tahu itu sepenuhnya salahku. Karena aku terlalu lambat dalam memberikan kepastian kepanya. Cinta masih terlalu sulit buatku waktu itu. Hingga akhirnya digantikan kekecewaan yang datang begitu menyakitkan.

Hari-hari kami lalui dengan penuh kekecewaan. Dia pun sering mengeluhkan bahwa laki-laki yang dijodohkannya itu, yang sekarang menjadi suaminya, sering melukai hatinya. Tapi toh aku tak lagi bisa berbuat apa-apa. Satu-satunya jalan adalah mendo’akannya agar mampu mengarungi bahtera rumah tangga bersama suaminya dengan penuh kebahagiaan.

Aku pun mencari kehidupanku sendiri. Berusaha bersikap realistis dengan kejadian itu. Tapi toh kekecewaan tak bisa dipungkiri Niet. Pernah suatu ketika aku begitu merasa depresi. Muncul suatu pertanyaan konyol menyisakan rasa penasaran dalam kepalaku. Akhirnya kutanyakan kepada salah seorang sahabatku. “Kang, semisal seseorang tidak ditakdirkan bersama di dunia, apakah mungkin mereka akan bisa bersama di akhirat?”, jawab sahabatku waktu itu,”mungkin”. “Meskipun ia sudah menjadi istri orang lain?” Sahabatku terdiam.

Aku tahu pertanyaan itu sungguh konyol Niet. Pertanyaan yang tidak sepatutnya keluar dari mulut orang normal. Tapi aku memang merasa tidak normal Niet. Aku limbung waktu itu. Ditambah suatu kenyataan bahwa ketika aku merasa harus menemukan penggantinya, aku kembali dikecewakan oleh kekasihku setelahnya. Seseorang yang begitu kuharapkan mampu mengobati kegelisahanku, ternyata menambah beban beratku.

Itupun tak sepenuhnya salah dia. Kata seorang sahabat yang lain, she’s just not into me. Ya, memang pada akhirnya, ketika kami putus, kata-kata mirip itu memang keluar dari email darinya. Hanya email? Benar, hanya email. Ia wanita yang lembut Niet. Terlalu lembut untuk mengatakannya langsung dihadapanku. Itu alasan ia hanya mengirimkan email. Dan seperti yang dia katakan, ia hanya tak merasa nyaman denganku. Everything okay, dia hanya tak mencintaiku. Menyadari ini memang menyakitkan, tapi mengetahui kenyataan tetap merupakan hal yang terbaik. Setidaknya untuk diambil pelajaran.

Meski demikian, perjalanan harus tetap dilanjutkan bukan? Ujian hanyalah sarana agar kita mampu mengambil pelajaran, bukan untuk menghentikan langkah kita. Kita harus tetap melangkah dengan gairah yang baru. Hasrat yang disebut passion. Aku mengetahui istilah itu dari buku Kevin Hall pada bab ketiga bukunya yang berjudul Aspire. Seperti judulnya, buku ini begitu menginspirasi. Meski pada dasarnya bukan karena buku ini aku bisa menghadapi pengalaman itu, tapi setidaknya buku ini menginspirasiku untuk menuliskan surat ini. Mengingatkanku bahwa setiap penderitaan yang kita alami adalah perlu. Bukan merupakan suatu kesalahan. Apalagi menyalahkan Tuhan. Aku sadar, perjuangan-perjuangan setelahnya harus tetap dilakukan. Hingga suatu saat aku menemukanmu. Cerita kita, tentu tidak akan aku ceritakan di sini. Terlalu berjejal jika dituliskan disini

Niet, semalam aku memposting catatan. Kukatakan,

“Niet, kamu itu seperti malam, bahkan dalam setiap perjuanganku mengejar siang-siang, kini aku tahu, tempat melabuhkan mimpi-mimpiku adalah kamu. Gud nite.”

oleh: @pung_kamaludin
diambil dari: http://wildworldwords.wordpress.com/2012/02/11/passion/

Viognier



Kepada perempuan yang berada di tepi jendela,

Apa yang membuatmu membentengi diri dengan rutinitas demi hidup di masa lalu?

Aku mengerti masa lalu bersama ayahmu adalah kebahagiaan; menunggunya pulang dari bepergian, membawa berbotol-botol anggur dan menyimpannya dalam wine cellar. Ikut mencicip rasa-rasa anggur yang bahkan ketika itu belum mampu kamu lafalkan namanya karena begitu rumit; Cabernet sauvignon… Gewurztraminer… Viognier… Meskipun pada akhirnya kamu menemukannya pergi dengan senyum di wajahnya.

Aku mengerti masa lalu bersama Remy adalah kebahagiaan; membunuh waktu dengan menulis berlembar-lembar manuskrip. Menunggunya hingga tertidur demi dia mendapatkan dua karakter utama untuk cerita yang tengah ditulisnya. Meskipun pada akhirnya dia pergi dalam pelukanmu sendiri.

Sama seperti lelaki yang pada akhirnya mampu menembus benteng pertahananmu, aku selalu bertanya apa yang kamu tulis dalam laptop di hadapanmu itu setiap harinya. Dan aku meragukan benarkah kamu hanya menulis kisah-kisah misteri dengan karakter detektif dan usahanya memecahkan misteri itu? Ah, betul, aku tidak salah menulis; aku menulis menembus bentengmu, karena meski lelaki itu dan kamu dapat menjalin dialog-dialog tanpa rasa kikuk, bentengmu masih berdiri kokoh. Kamu masih hidup di masa lalu.

Hei, apakah kamu pernah berpikir bahwa lelaki itu suatu saat akan melupakanmu? Ya, saat ini ia pun terluka atas pilihan yang telah kalian buat. Tapi lelaki itu tidak sendiri sekarang. Seseorang pernah berkata, bahwa cinta bisa datang karena terbiasa.

Apakah kamu masih takut dengan kesendirian sehingga membuatmu tetap memutuskan tenggelam di masa lalu – dengan benteng deretan kata dalam laptopmu, bangku di tepi jendela, dan gelas-gelas anggur? Bukankah Layla pernah berkata bahwa cinta itu punya bentuk yang berbeda-beda. Terasa beda dengan setiap orang. Jadi, kamu tidak perlu takut, bukan?

Karena, jika kamu ingin tahu, sejatinya perpisahan akan menuntunmu pada pertemuan baru.

Penuh cinta,
A.

—------
*a tribute to @WinnaEfendi‘s new book – Unforgettable

oleh: @prameswary
diambil dari: http://ayuprameswary.wordpress.com/2012/02/11/surat-29-viognier/

Sebelas

Selamat pagi. Ini tanggal 11!
Ya, aku selalu ingat pada tanggal 11, angka 11, dan segala hal yang berkaitan dengan angka kembar ini. Semua selalu ada kaitannya dengan kamu. Si fanatik sebelas tanpa sebab. Aku tau kamu lahir pada tanggal 11, dengan beralamat rumah di nomor 11, semua pemain bola yang kamu suka adalah para pemilik nomor punggung 11, hingga sampai nomor ponselmu berakhir di angka 11. Konyol memang kamu terlalu mengaitkan segala sesuatunya dengan angka. Apalagi jika kamu melihat jam tepat pukul 11:11, kamu akan sumringah dan selalu berteriak “Waaah, jam 11:11! Keren angkanya!” Sebenarnya, apa kerennya sih dengan 4 deret angka kurus tersebut? Hah, aneh. Tapi kini 11-11-11 sudah lewat dan kamu melewatinya tidak sesuai harapanmu. Sedih tidak? Hahaha, tenang saja, masih ada aku. Nanti kubuat kau mencintai angka lain selain angka 11.
Bahkan di ponselmu saja, semua lagu kamu masukkan yang di albumnya mendapat nomer urut 11! Menurut kepercayaan orang Sunda memang angka 11 merupakan angka yang baik. Aku memang orang baik, tapi aku bukan seseorang ke-11 yang akan kamu cintai, tapi yang pertama!
Omong-omong jika mau dikaitkan dengan angka 11, surat cinta ini sudah memasuki hari ke-29! 2+9=11 kan?

oleh: @sebutmawar
diambil dari: http://sebutmawar.wordpress.com/2012/02/11/sebelas/