29 January 2012

Haru Tanpa Biru

Teruntuk, Biru.

Haru biru? Kita, haru dan biru. Aku selalu bertanya kepada seseorang yang bersemayam dalam kalbu jiwaku, pertanyaan yang mungkin akan dianggap terlewat bodoh. Aku bertanya tentang warna biru di dalam haru, ada apa dengan biru yang bersembunyi di balik kenistaan haru.

Hari berganti angin berhembus cuaca berubah dedaunan tetap tumbuh. Namun, kata hatiku tetap tak tersentuh oleh apa yang dinamakan biru dalam haru. Bukankah haru itu kelabu? Jawab! Mengapa mesti biru? Bodoh, tak akan ada orang yang tahu. Percuma aku terus bertanya kepada sebuah jalan pikiran yang ia sendiri tak pernah menjawab. Pantas saja, aku bertanya kepada sebuah jalan pikiran yang berjuluk perasaan.

Seiring dua iring waktu bergulir, dengan sedikit hembusan semilir, pencitraan anugerah Tuhan yang kumiliki pun mengalir. Gumpalan air dan lendir yang mencoba untuk berpikir, kapan sebuah pertanyaan bodoh segera berakhir. Tak ayal jika seorang tua berpandir, berpikirlah dengan logikamu lalu kau singgung sedikit dengan perasaan niscaya kau akan mahir tanpa tergelincir.

Kutinggalkan cara berpikir dengan perasaan itu, kucari logikaku. Ya, memang ia telah lama menghilang dari pola pikirku. Tak jenak aku meninggalkan perasaanku, ia datang kembali. Aku mulai dihantui perasaan kehilangan diriku yang lama, yang selalu berpikir dengan logika diiringi perasaan. Jika kau berpikir dengan logika, perasaan akan senantiasa mengiringi langkahmu, namun jika kau berpikir dengan perasaan, niscaya logika akan meninggalkanmu, ia tertelan oleh semua perasaan.

Persetan dengan perasaan, aku harus menemukan kembali logikaku. Aku menatap ke sudut lorong gelap di hati, kemudian menapaktilasi jejak ambisi menggugah logika kembali ke sisi terang pandangan mata sebuah batin. Gemerlap bintang menemani jutaan makna ambigu dari logika dan perasaan, mereka bersatu, menggumpal dalam genggaman, di antara lima jari mengepal dengan telapak tangan seorang anak manusia. Perasaan berubah, ia tak lagi hanya menguasai, sekarang ia juga melindungi, melindungi agar logika tak pergi lagi. Yap! Kembali kudapatkan logikaku.

Kupikirkan kembali apa itu biru dalam haru. Aku berjalan, tak sengaja aku membentur kaki meja di kehidupan nyata. Sakit, itu yang kurasa. Aku melihat warna di permukaan kulitku, agak kemerahan. Tak lama kemudian, merah pun berubah, perlahan berubah gelap menjadi kebiruan. Di luar, rasa sakit akibat terbentur telah menghilang. Di dalam, masih mengendap kelam.

Aku belajar dari luka. Luka tak selamanya tampak, ia juga bisa mengendap bersembunyi di balik sebuah bayangan masa lalu yang tak lagi tampak. Dari merah, kemudian biru, dan dapat lenyap sebelum menjadi hitam kelabu. Merah itu melambangkan luka, luka yang terbuka dangat lebar sehingga menyimbahkan darah, merah merekah dengan pasrah. Sepintas, ia perlahan tapi pasti menjadi biru. Biru mengartikan sebuah pilu, rasa sakit yang sungguh kelu, tanpa malu ia mengungkapkan diri dengan sedikit ragu. Ragu, akankah harus lenyap, ataukah menggelap.

Jika memang harus lenyap, ia akan pergi dengan senyap, mengepakkan sayap mengan mantap, agar tak lagi ditatap. Namun jika ia mesti menggelap, akan ada banyak orang yang menatap, memandangnya dengan gelap bagai asap yang tak terhisap dengan lahap, dengan kata lain ia merupakan luka yang menetap.

Kupahami sedikit makna biru di dalam haru itu. Mengapa biru? Karena ia masih ragu, menunggu logika menjawab sebuah keputusan yang harus ia ambil dengan makna bukan ambigu. Ia terlalu lugu dan terus menunggu. Biru walau kelu masih bisa mengubah dirinya menjadi lebih baik, dengan menghilang atau menetap. Jika hilang ia akan dikenang, jika menetap ia hanya diratap. Ya, biru menang, ia lebih memilih untuk dikenang, ia memutuskan untuk menghilang.

Biru bukan lagi warna, ia merupakan simbol. Biru, kau selalu mengisi sendu dalam batin ragu. Haru dan biru adalah rindu yang kelu, suatu huru yang terus berburu, membuat keributan tatapan sayu sebuah batin yang membisu. Biru, lenyapkanlah dirimu. Agar tercipta sebuah haru yang tersenyum.. :’)
Aku, Haru.




oleh @kyogas

diambil dari http://kyogas.tumblr.com/

Merindukan Oranyemu

Oranye, sore itu aku datang. Ak sudah berdandan dari siang lho. Dandanan special buat kamu. Rok bunga-bunga ringan dan sendal jepit. Aku merasa cantik dan pede menemuimu.
Oranye, ak menunggumu sambil berlarian dibelai angin di peraduanmu. Menggoda ombak
untuk datang, tp lalu kutinggal berlari. Aku nakal ya, tapi ombak tak pernah bosan diajak bermain.
Bermain, berlari, sambil melihat ke langit barat. Menantikan langit biru berangsur menjadi oranye. Lalu laut akan menelan matahari. Tapi laut baik. Laut tidak egois. Dia menyisakan buat kami tumpahan warna oranye yang cantik.
Senja di pantai kuta,
Undang aku lagi untuk sekedar menikmati oranyemu.

oleh: @proyek30hari
diambil dari: http://proyek30hari.tumblr.com/

I Love Me

Kepada jiwa pemilik raga ini…..
Aku memang hanya timbunan daging dan tulang belulang. Tapi Tuhanlah yang memahat. DigambarNya dengan teliti pola demi pola. Sangat detil, dibentuk menurut citra Tuhan. Dipoles supaya halus, persis seperti pemahat profesional. Tak dibiarkanNya ada yang tak sempurna pada diriku. Ia ciptakan gambaran manusia menurut kuasaNya. Dan menurut Tuhan, semua ciptaanNya itu baik.
Setelah Tuhan menganggap semua yang Dia inginkan selesai, Tuhan menghembusi aku. Seketika aku merasa aku hidup. Ya aku bernyawa. Itu kau sayang. Jadi apa yang membuat kamu merasa tak sempurna jiika Tuhan sendiri yang turun tangan?
Aku tahu banyak yang meremehkanmu. Tapi apa salahku sehingga kau harus membenci diriku. Aku tahu perasaanmu, tapi tak bisakah kau mencoba tidak mendengarkan apa kata orang. Bersyukurlah sayang! Kau ini istimewa, unik. Kasih sayang kedua orang tuamu tercurah padamu, lalu kenapa kau harus mendengar kata orang yang tak ada andil atas hidupmu?
Apa salahnya menjadi kecil, pendek, tidak cantik? Kau ini sempurna di mata Tuhan. Kau ini alat Tuhan di dunia, kau diciptakan bukan tanpa maksud. Jadi cerialah! Jangan pikirkan apa yang orang lain lihat, karena manusia melihat dengan mata tapi Tuhan melihat hatimu. Fokuslah pada suara Tuhan, kerjakan saja tugasmu di dunia ini. Bahagialah karena hidup begitu singkat, nikmati setiap detik menit jam dan tahun dimana kamu bisa membuat orang tesenyum karena kehadiranmu. Maka kecantikan akan terpancar dengan sendirinya dari dirimu, dari hatimu.
Percaya dirilah, Tuhan besertamu. Di luar sana banyak yang merindukan senyuman manismu. Hanya saja kau belum tahu ;p
Yang menyayangimu sampai kau menghembuskan nafas terakhirmu,
Raga yang selalu terhina.

Jumat sendu, 27 Jan 2012

oleh: @peribiroe
diambil dari: http://theresiafafa.tumblr.com

Pertemuan Kita, Mimpi

Kepada dirimu sang bunga tidur

Mimpi.
Hei kawan, terima kasih ya sudah menemaniku di saat aku menutup mata kemarin malam. Kamu sudah bercerita, bernyanyi, dan memainkan dawai indah untuk tenangkanku melewati duniamu kemarin malam. Kau temaniku bukan hanya sebagai pendamping, kau bahkan menyajikan film yang hanya bisa aku nikmati tepat di saat aku tertidur, dan hanya aku satu - satunya penikmat film darimu itu. Dan tepat di pagi ini, ketika sinar mentari menyusup masuk melewati celah - celah jendela, kau dengan senyum melambaikan tanganku dan seolah berkata "Bangunlah, sampai ketemu nanti malam lagi ya,"

Kini aku sudah terbangun. Untuk sementara waktu aku harus bisa menyesuaikan diri untuk lewati shift sang raja siang. Dunianya awan - awan putih menari, iya seperti yang orang katakan. "Pagi Hari". Tapi entah kenapa, aku seakan tak rela tinggalkanmu. Walaupun kamu sudah berjanji akan datang lagi nanti malam temaniku, tapi aku masih tak rela pergi darimu walau hanya sesaat saja. Aku terkadang paksakan untuk terlelap lagi, tapi apa daya mataku selalu menolak dan membuatku terjaga, dia malah marah - marah "Hei pemalas, jangan tidur terus," aduh, padahal aku tidak malas. Aku hanya mau bertemu sang mimpi sesaat saja koq.

Siang nanti, sang raja sinar akan tempati takhta tertingginya. Iya berada di tempat teratas dalam bumi ini. Bersinar, panasi bumi yang kini semakin lama sepertinya makin berkeringat. Tahukah kamu? terkadang di saat seperti ini. Aku biasanya masuk ke dalam persinggahanku, nyalakan A.C, tarik selimut, dan mengadakan rapat dadakan bersamamu. Dahulu, di saat aku masih kecil, kita masih sering bertemu di siang hari. Bahkan aku harus dipaksa sama mama untuk bertemu kamu. Tapi, sekarang di saat aku makin besar, aku dituntut untuk meninggalkanmu. Padahal, aku selalu mau bertemu kamu. Ya sudahlah. Mau bagaimanapun itu, aku akan tetap diam - diam menyelinap untuk mengadakan janji dadakan bertemu denganmu kawan. Seperti yang kita ketahui, pertemuan diam - diam ini kita namakan "Tidur Siang".

Saat senja nanti, ketika keteduhan mulai selimuti kota ini. Aku semangat untuk beraktivitas. Buatku saat yang tepat untuk menghabiskan waktu bersama dunia ini, sebelum aku bertemu kamu lagi. Bermain bersama segerombolan sahabat, menonton tv bersama segenap keluarga, hingga menghabiskan waktu sendiri berkutat dengan buku - buku ataupun playstation. Apapun itu, di saat petang aku akan habiskan waktuku tanpa memikirkanmu kawan. Maafkanlah diriku, tapi kan di malam nanti kita bertemu.

Nah, inilah di saat aku bertemu denganmu. Di saat warna gelap menjadi dominan selimuti daerahku. Di saat semua orang menyebutkan kata "Malam Hari". Satu hari sudah ku berputar lewati hidupku. Banyak cerita juga yang aku kantongi dan masuk ke dalam sela - sela sanubari. Melewati rotasi cerita hidupku ini ragaku lelah. Bahkan bila terlalu lelah, jiwaku semakin memaksaku untuk istirahatkan badan ini ke singgasana lembutku, kasur. Bila semua ini terjadi, maka pertemuan kita tak lama lagi. Ketika aku menutup mata, kau akan datang sesuka hatimu. Kau peluk aku, seakan sahabat yang lama sekali tak bertemu. Sehabis itu, seperti yang biasa kamu lakukan. Kamu akan berikan aku fantasi luar biasa yang dunia tak bisa tawarkan. Sesuatu yang terkadang di luar kenyataan, tapi kau selalu posisikan itu menjadi hal biasa. Tapi, bukan hanya hal indah atau fantasi saja yang kau berikan. Terkadang kalau kau lagi iseng, kau tidak segan untuk ceritakan tentang hantu, atau kejadian menakutkan yang spontan buat raga asliku mencucurkan keringat panik kan. Dan setelah itu, aku sendiri terbangun gelisah. Huuu, kamu itu baik banget, tapi kalau keluar isengnya jahatnya tak tertolong.

Ya sudahlah mimpi. Pagi ini tepat di saat aku membuka mata. Aku langsung mengingatmu. Jadi bila memang kau bisa membaca. Baca ya surat cintaku ini. Semoga kau senang dan akan selalu temani malam - malamku.

Tambahan : Thanks berat ya buat cerita malam tadi. Kau berikan Princess Noela sebagai dream tale. Nanti malam, dilanjutin ya ceritanya. Pokoknya harus happy ending. Thanks once again, Dream.

oleh: @sunoesche
diambil dari: http://essayoflove.blogspot.com

Kamarmu, Kurasa

Untuk kamu, yang tak ingin kutahu kabarmu.
Iya. Akhirnya tadi malam aku mimpikan kamu. Di dalam mimpi, aku seperti menonton televisi. Sebuah kotak dengan nyala berpendar yang berisikan kita berdua. Ah, aku lupa. Sudah lama aku tak memakai kata ‘kita’. Aku dan kamu, lebih tepatnya.
Aku dan kamu tak baik, tak bicara satu sama lain. Aku dan kamu seperti gambar-gambar yang tersusun rapi dan membentuk gerakan yang urut. Stop motion, dengan laju sangat lambat. Seperti Tuhan mengabulkan doaku yang pernah aku ucapkan dulu sekali, agar ketika bersamamu, semoga waktu melambat sejenak.
Aku berdiri di depan, dalam jarak sekian meter darimu. Aku menatap langit, dan kamu menatapku. Lama. Lama sekali. Aku bisa merasakan, banyak sekali balon kata-kata yang ingin kamu utarakan, tapi nyalimu selalu pergi entah ke mana tiap bibirmu sudah menganga, siap bicara.
Masih dalam stop motion, tanganmu terulur, seperti ingin menarik lenganku. Tapi, masih saja, dalam jarak sekian meter, aku memilih menjauhimu. Aku membiarkan kehidupanku tak terjamah olehmu barang seruas jari pun. Dan kamu, terus berusaha memanggil dan meraihku.
Kamu tahu ? Mimpi itu berlangsung lama dengan latar-latar berbeda, namun adegan yang kita perankan tetap sama. Ya, itu saja. Dan kamu tahu ? Aku terbangun dengan perasaan luar biasa puas. Puas menangkap raut sedihmu yang tiap kali gagal membuatku membalikkan badan ke arahmu. Raut kesedihan yang tak pernah sekalipun kusaksikan sebelumnya. Apa ini namanya ? Aku tak pernah mendendamimu. Hanya saja, aku bisa merasakan dengan jelas bagaimana karmamu. Bagaimana kamu mengais-ngais yang dulu pernah kamu buang begitu saja.
Lihat kan ? Bahkan dalam mimpipun aku begitu konsisten membuatmu menyesal. Robeklah aku. Sepuasmu. Tapi ingat, suatu hari nanti kamu akan mencari keping-kepingku yang kau hancurkan, lantas kamu akan setengah mati berusaha menyusunnya.
Lalu menangislah ketika kamu sadar bahwa kamu tidak akan bisa mengembalikan segala sesuatu di masa lalu. Kamu adalah kritikus terbaik yang pernah aku kenal, yang terlalu buta untuk sekedar mengkritisi kesalahanmu sendiri. Dan ya, terima kasih. Segala komentarmu tentang atribut hidupku, membuatku lebih baik. Tanpa kamu.


“And all the pictures that you try to loose
Will follow you behind like ghosts do
And all the lies you try to keep
Have fall behind to catch you even more”

-Forget Jakarta, Adhitia Sofyan-
oleh: @pupusupup

Big Brother Complex

hampir tiga minggu dan saya sangat menikmati ini,
ya sebenarnya tidak benar benar nikmat, tiga minggu ini berat,
tapi bukankah karna berat itu tugas kita menikmatinya semakin kuat?
dan saya sedang melakukannya.
maafkan kalau surat surat saya tahun ini lebih banyak menceritakan tentang mutasi dan kehidupan baru disini, saya hanya merasa saya harus mengurangi tekanannya dengan menumpahkannnya sebagian pada layar kosong ini.
berbagi itu membuat beberapa menjadi ringan bukan?
dan alasan selanjutnya adalah, saya rasa hidup saya pantas saya kirimi surat cinta bahkan berpuluh puluh kali, karena ia sudah bekerja begitu luar biasa akhir akhir ini.

dan hidup sendiri -meskipun ada mami (nenek)-disini membuat saya harus bermetamorfosis seperti baja, menangkal semuanya sendirian, maju ke depan dan menghalau semuanya dengan tangan sendiri.
dan di beberapa keterbatasan, saya merasa saya mulai mengidap big brother complex.
toh sekuat kuatnya saya berdiri dengan kaki saya sendiri, ada beberapa hal yang tuhan tidak menginginkan saya turun langsung menghadapinya. memang keterbatasanlah yang hanya bisa mengunci kita untuk tidak lari menjadi angkuh sendiri kan, bahwa kita masih membutuhkan orang lain, se-survive apapun kita.

I'm so lucky to have u.
iya, ini bukan surat cinta yang harus kamu baca sambil bersimpul merah jambu di ujung ujung pipimu.
ini hanya surat terima kasih, sebesar besarnya, atas kerepotan dan keberisikan yang menggaduhkan hidupmu. kamu boleh GR saat membaca surat ini, karna saya tau kamu akan mampir mengunjungi blog saya untuk membaca baca, dan kali ini surat yang kamu baca untukmu, benar benar untukmu dengan rasa terima kasih yang besar.
mungkin keningmu berkerut saat membaca barisan tulisan ini, mungkin agak berlebihan, dan aka ada tawa mengejek bagaimana saya bisa begitu manis menulis surat terima kasih ini untukmu.
tapi ini kenyataannya, saya tidak bisa menghandle semua urusan disini sendirian, pun hanya untuk sekedar bertanya tanya, terima kasih untuk tetap disana, dan menjadi kepercayaan mama.
kita akan selalu menjadi teman yang baik.


dari temanmu yang berisik dan super cerewet.

oleh: @tashafairus
diambil dari: http://berbagicangkir.blogspot.com

Ghe

Bongsor, Teman Kecil

Hai (sebut saja) Bongsor!
Rupanya masih saja kau menempati rumah nomer 11 itu. Mungkin kini rupanya sudah buruk, aku tau apa yang menimpamu dan keluargamu. Ibuku bercerita semuanya. Aku turut prihatin. Tapi tampaknya kau semakin baik, tinggal di kota B membuatmu jadi beda ya? Cantik, meski tambah bongsor!
Minggu kemarin aku melihatmu di Facebook, kamu menulis status “pathetic” rupanya sudah mahir bahasa Inggris! Kita berteman di jejaring sosial seakan tidak saling kenal, pernah mau aku sapa, takutnya kamu lupa. Aku iseng melihat profile dan foto kamu. Wajahmu berbeda tapi tidak berubah. Tahi lalat di samping kanan hidung pesekmu masih ada, lengkap dengan bekas cacar dan bekas luka jatuh terkena besi! Kamu itu hebat, tertancap besi tapi tidak nangis. Malah tertawa. Aku ingat itu loh! Ibuku yang memberikan obat merahnya.
Heh bongsor! Kamu sadar gak kita itu satu kota? Gak mungkin kamu lupa kan orang setampan aku, yang pernah kamu taksir saat masih umur 7 tahun? Hahaha. Konyol. Rumah kita bersebelahan, kakakmu itu sahabatku dan adikku itu sahabatmu, kita setiap hari main bersama. Dulu itu kulitmu cokelat dengan banyak luka di kaki akibat jatuh dari belajar sepeda. Kita berempat sering main sepeda, kamu yang selalu tertinggal karena belum bisa. Begitu sudah bisa, justru menyombong! Pamer!
Kita juga menggunakan sepeda itu untuk berkeliling komplek dan main bola. Kamu cewek, bermain bola! Bola main bola! Sepulangnya, kita mencari belalang di salah satu rumah kosong dan kamu selalu tidak bisa menangkapnya. Jadi aku yang cari, kamu yang menyimpan belalang itu di plastik. Sering aku digoda anak perempuan cantik di komplek, kamu kemudian akan terlihat marah. Pernah saking cemburunya kamu malah lari, pulang ke rumah! Aku senang melihat kamu nangis. Lucu.
Kebiasaan kita setiap hari Sabtu sore itu berenang di danau dekat rumah, mencari udang dan ikan untuk dipelihara. Kamu selalu senang dengan air, walaupun pulang nanti bau amis. Malamnya menginap di rumahku, aku tidur dengan kakakmu dan kamu tidur dengan adikku. Mengisi malam kita bermain karambol atau bermain game. Pernah waktu itu tiba-tiba pukul 4 pagi kamu merengek pulang ke rumah, dengan alasan kangen ibumu. Padahal beliau ada di sebelah rumahku. Tau-tau siang harinya, kasur yang kamu pakai tidur dijemur oleh ibu. Katanya, bekas si Bongsor ngompol! Seminggu aku ledek kau tiada henti.
Sampai akhirnya aku sekeluarga harus pindah ke kota lain. Kita bertukar surat. Namun, suratmu sudah hilang, maaf ya. Makanya aku tulis surat ini. Sebagai penggantinya. Mungkin kita akan canggung jika berbincang secara langsung, tidak seperti dulu. Masa kecil kita itu sungguh berarti ya!
Oh iya, tahun depan aku berencana untuk menikah. Waktu berjalan begitu cepat bahkan tergesa-gesa, ingin rasanya mengulang dan memperlambat waktu. Usiaku sudah matang, nanti saat aku punya anak, maka anakku harus sebahagia bapaknya dulu! Nanti kuberikan surat undangan pernikahanku padamu ya, tunggu saja!
Teman kecilmu,
(sebut saja) Irian.

oleh: @sebutmawar
diambil dari: http://sebutmawar.wordpress.com

Dear Si Eksotik, Sunset

Dear Sunset,
Tolong kirimkan surat saya untuk sunset, di manapun ia berada. Tolong katakan saya benar-benar mencintainya. Saya rela menghabiskan waktu dan tenaga untuk sekadar melihatnya. Beberapa tempat di berbagai daerah sengaja saya kunjungi. Ya, hanya untuk mencarinya dan menemukannya.
Tidak percaya? Saya selalu mengabadikan keindahannya di kamera saya. Mungkin kamu bisa lihat sendiri. Oh, sunset, mengapa dirimu begitu seksi? Kau berhasil membuat saya dan mungkin kebanyakan dari mereka selalu menunggu dan tidak sabar melihat kedatanganmu yang mungkin tidak lama. Ya, kau tidak pernah muncul sangat lama. Tapi, itu cukup untuk saya.
Dear Sunset,
Saya hanya ingin kamu tahu bahwa ada seseorang yang menulis surat ini yang selalu menunggu kehadiranmu dan mengabadikanmu. Ia memiliki keinginan untuk menjelajahi setiap pelosok dunia hanya untuk merekam keindahan dan keeksotikanmu, sunset. Tidakkah kau sadar betapa pentingnya kau untuk kehidupannya?
Sunset di Bali….
Saya sudah mengunjungi beberapa tempat yang menyuguhkan keindahan sunset, mulai dari pantai, bukit, sampai tanah lapang. Tapi, sampai saat ini, pantai di Bali-lah yang terindah. Sunset di sana benar-benar membuat saya kagum atas segala nikmat yang Allah berikan kepada saya. Ia memberikan keindahan yang luar biasa untuk saya nikmati dan abadikan di kamera saya. Gabungan dan gradasi warna yang ditimbulkan dari sunset di setiap tempat itu berbeda. Subhanallah sekali. Tidak seorangpun yang dapat menciptakan keindahan itu dengan kemampuan dan kepintarannya, selain Allah swt.
dear sunset,
Saya sempat berpikir, sepertinya enak menjadi kamu. Hadirmu selalu ditunggu banyak orang, mereka sengaja mengorbankan tenaga dan materi hanya untuk mencarimu. Betapa beruntungnya menjadi kamu, Sunset.
Saya janji, bila saya rindu kamu, saya akan pergi ke tempat yang menguguhkan keindahan dirimu. Saya rela mengorbankan tenaga dan materi saya hanya untuk melihatmu dan membuat kenangan tentangmu. Dengar, sunset. Dengarlah janji saya.
by: Sunset Seekers

oleh: @tami_imat

Sebuah Surat di Draft, Setahun yang Lalu

Okaaay. This is the truth.
My heart just broke. That’s the point.
Untuk pertama kalinya dalam hidup ini, aku akhirnya merasakan, bahwa being in love could be that hurt. Di usia aku yang menjelang dua puluh ini, aku belajar banyak sekali hal. Untuk tidak berlebihan dalam mencintai, untuk tidak terburu-buru berharap, untuk mencintai sesuai porsinya.
Aku baru saja jatuh cinta pada seseorang yang sangat logis. Maksud logis disini adalah dia hampir memenuhi semua kriteria pria idaman aku. Logika aku dibredel habis sama pria satu ini.
Iya, dia berkualitas, tapi bukan itu intinya.
Ini adalah titik dimana semua kualitas itu tidak lagi berarti ketika dia tidak memiliki satu-satunya aset yang paling esensial… mencintai aku. Dia tidak mencintai aku. 4 kata yang memiliki arti begitu dalam. Yang memiliki efek sangat magis untuk hidup aku, di usia aku yang kesembilan belas ini.
Aku cuma mau bilang, aku tidak mau tenggelam dalam rasa cinta yang salah. Tidak mau tenggelam dalam imaji tanpa ujung tentang kemungkinan-kemungkinan yang mungkin akan terjadi di antara kita. Aku punya kehidupan, kamu punya kehidupan.
Mungkin aku kemarin akan berkata dengan lantang, bahwa kamu mengambil keputusan yang salah dengan tidak memilihku. Bahwa kamu tidak akan sebahagia ketika sedang bersamaku, bahwa kamu bodoh karena menyia-nyiakan cinta yang semenakjubkan yang kumiliki.
Lalu akhirnya aku sadar, bahwa itu semua bukan kebahagiaan.
Aku belajar merelakan kamu. Tidak sekedar merelakan, namun juga sadar bahwa mungkin kamu akan lebih baik jika tidak bersama aku dan aku akan lebih baik jika tidak bersamamu.
Berulang kali aku berperang dengan egoku sendiri. Menyangkal dan bersikeras bahwa kamu adalah yang terbaik bagiku. Iya, bagaimana mungkin seseorang yang sangat logis bisa tidak menjadi yang terbaik? Tentu saja dia terbaik. Aku nggak bakalan bisa menemukan yang selogis kamu.
Namun kali ini si ego harus mengalah. Kenyataannya… KAMU BUKAN YANG TERBAIK BUAT AKU. Kamu membuat puzzleku kacau, kamu tidak mampu mengapresiasi aku sebagaimana aku mengapresiasi kamu.
Itulah intinya, kita tidak saling mencintai. Kita tidak bisa bersama karena kamu tidak mencintaiku dengan cara yang sama denganku mencintaimu.
Di titik ini, aku mulai berpikir, apakah aku benar-benar mencintaimu? Aku punya sejuta alasan mengapa aku mencintaimu. Kamu kan logis banget.
Sehingga dunia pun harus bertanya, ketika kelogisan itu hilang, akankah aku tetap mencintaimu? Tidak tahu, dan juga tidak perlu dijawab.
Aku merelakanmu bahagia bersama dia. Iya, aku bohong kalo aku bilang aku telah ikhlas dan rela seratus persen. Namun aku terus berdoa kepada Tuhan semoga menganugerahkan keikhlasan itu padaku secepat mungkin.
“saat kamu berani merelakan seseorang dengan orang lain, suatu saat nanti ada seseorang yang akan berterima kasih padanya untuk tidak terus menerus menahanmu.”
Tyraz
“Terima kasih. For giving me such a great story. Now, I’m blessed we were not ended up together. Because, if we we’re still together, aku nggak bakalan bertemu dengannya :) Terima kasih yah..”
Do you want to send or save it?
Saving
Message saved to draft

oleh: