31 January 2012

Variatio 17. a 2 Clav.

untuk Tuan Youri Dolgoruki, yang pedangnya masih berlumuran darah.





Tuan, apa Saya salah?

Apa keliru berarti harus dibunuh Tuan?

Aku mengenal banyak manusia yang hidup, tapi sesungguhnya sudah mati Tuan.

Aku mengenal banyak manusia ber-Tuhan yang membunuh, tuan.

tapi tidak merasakannya langsung seperti yang tuan lakukan padaku.



Kenapa Aku harus dihakimi olehmu tuan?

di saat Aku punya cara yang lain untuk menyembah Tuhan?

Ataukah Tuhan harus disembah hanya dengan satu cara?

kalau memang begitu, sungguh tidak adil-lah Tuhan itu, telah memasukkan berjuta pikiran berbeda yang ada di dunia ini, tuan.



Kenapa Aku harus harus disebut sesat tuan?

di saat Aku merasa lebih dekat dan tentram dengan cara yang lain, tuan?

Ataukah Tuhan harus dipuja lewat satu jalan saja?

Kalau memang begitu, sungguh jahatnya Tuhan itu, telah menciptakan banyak manusia, dan sekedar memainkan peran sebagai penyesat.



Kenapa Aku harus dihina karena Atheis tuan?

di saat Aku merasa lebih mengerti inginMu dari jauh?

Ataukah Tuhan harus disembah dengan cara-cara yang ditetapkan manusia?

Kalau memang begitu, sungguh menyedihkan Tuhan itu, harus tunduk pada aturan-aturan manusia.



Kenapa Aku harus disebut teroris tuan?

di saat Aku hanya mengenakan sorban putih dan berjanggut?

Ataukah Tuhan harus dihormati hanya lewat kedagingan?

Kalau memang begitu, sungguh tidak pedulinya Tuhan itu akan kedalaman cinta padaNya yang tersembunyi dalam hati dan perasaan.



Kenapa Aku harus disebut gila tuan?

di saat Aku hanya menemukanNya lewat menyembah batu dan pepohonan?

Ataukah Tuhan harus dihormati sambil menengadahkan wajah ke langit?

Kalau memang begitu, sungguh buta-lah Tuhan itu. Karena tak melihat betapa Aku memanusiakan manusia lebih dari apapun di bumi.



Tuan, jika malam ini anda bertemu Tuhan itu.

Tolong sampaikan pertanyaan - pertanyaanku tuan.





- oleh manusia yang telah mati dibunuh.












oleh @MungareMike

diambil dari http://mungaremike.tumblr.com/

Penny for your thoughts.

Dear Money,

If someone gave me a penny each time they ask what i’m thinking of, i’d be a rich girl by now. God knows my mind is never quiet and always busy thinking, thinking and thinking…but nobody asks, let alone gives me a penny.

Do you know what I think of you? you’re a celebrity, people want you, looking for you, flashing you here, there and everywhere. You’re the apple of the world’s eye just like the saying, “Money makes the world go round” and i guess for someone like me who doesn’t own you, i stay in the same place all the time, must be dizzying to move around and around eh?

I don’t want you but I do need you, I don’t love you but I also don’t hate you, it’s a mixed up feeling that i have right now for you and of course i do care about you, i care how i use you each time i have you though it’s always for a brief moment. There’s an emptiness in my purse, longing for you, waiting for you but you never came.

I wish my parents gave me a name “Money Penny” just like in James Bond’s movies, maybe then i’ll be blessed with you all the time, maybe then you’ll stick with me like a magnet, but i’m just a jobless, poor girl who needs you so bad. Will you at least be kind to me?

Pretty Please?

PS: I’m needing you right now, so bad that it aches, to pay my bills, to save a little for food and transport especially in July where for the first time after 4 long years someone was kind enough to buy me a plane ticket to go back home to my hometown, but i need you to get by.





oleh @NonaHujan_

diambil dari http://strangerinengland.tumblr.com/

Surat Untuk Mama (Aja)

Ma,
Pagi ini 25 Januari, mama berangkat ke Ujung Pandang, maaf ya aku ga bisa ikut nganterin mama ke bandara, karena aku harus kerja dan belum bisa ambil cuti lagi.
Aku tahu mama bangun pagi-pagi sekali menyiapkan segala sesuatunya sebelum berangkat, nasi, lauk, bahkan teh manis juga kopi untuk di rumah, tapi aku yang selalu benci dengan perpisahan yang bahkan hanya untuk sementara, satu minggu saja, tak berani bangun lebih cepat. Bukan apa-apa, walaupun mama hanya berangkat satu minggu, aku merasa tetap takut menghadapi keadaan di mana harus melihat mama bersiap-siap, packing dan segala macam yang terus memperjelas keadaan selama seminggu ke depan mama ga ada di rumah. Dan bodohnya saat membuat surat ini di kantor pun, airmata ini berdesak-desakan ingin segera membebaskan diri dari kungkungan rongga mata yang memenjaranya. :( :( :(

Ma, jikalau, seandainya,  mama baca surat ini mama pasti akan ngetawain aku ya kan? Soalnya bukan sekali dua kita beda pendapat, yang di akhiri dengan "Ya udah bagusnya gimana menurut kamu aja."
lalu pernah pula kita hanya saling diam ketika pembicaraan kita tak menemukan titik tujuan yang sama.
Tapi tetap saja, entah kenapa, siapa yang memulainya, tetiba kita sudah duduk lagi berdua, sambil makan bersama, atau sekedar minum kopi saat aku pulang dari berkerja ataupun hanya sekedar obrolan sepintas sebelum aku ke kamar dan ketiduran... Kita pernah selisih paham ya ma, karna hal-hal sederhana, dan oleh alasan sederhana pula kita kembali bisa bersikap seperti biasa bahkan tanpa mengingat kembali apa yang telah terjadi sesaat sebelumnya. :)

Apapun yang terjadi, oleh sebab apapun, kapanpun, kita saling mencintai kan Ma?
Oleh karena itulah perpisahan yang sementara denganmu seringkali membuatku merasa kehilangan, banyak hal yang akan aku rindukan Ma, bukan hanya perhatianmu yang terselip dari setiap teguranmu, bahkan sekedar omelan kecil karena sikap dan sifatku yang seringkali acuh pada hal-hal detail yang Mama inginkan dan yakin bisa kulakukan dengan lebih baik lagi.
Lalu ketika ingat tak ada masakan Mama di meja makan untuk sementara saat aku pulang kerja, kembali menambah kesedihan dan melenyapkan semangatku sejak bangun tadi pagi, Mama tahu kan kalau aku cerewet soal makanan? Tahu kan apa-apa yang aku sukai dan makanan apa yang tidak akan aku makan meski sudah tersaji di meja makan? Ahhh, Mama memang Ibu paling Te-O-Pe dech
Sewaktu merantaupun saat kangen kita bisa ngobrol di telpon berjam-jam lamanya sebelum memutuskan tidur ya Ma?

Ma, baik-baik ya di sana, cuaca sedang tak menentu seperti ini, seperti yang mama sering bilang ke aku, jangan telat makan, biar ga masuk angin, dan usahain biar cepet tidur ahh ini yang selalu bikin aku khawatir kalau Mama berangkat, karna Mama pasti akan susah tidur selain di rumah sendiri.:(
Tenang aja segala sesuatu di rumah pasti akan baik-baik saja, Papa akan aku buatkan sarapan, kopi dan berusaha bangun lebih pagi supaya sempat memasak sebelum berangkat ke kantor, aku juga ga akan pulang terlalu larut malam, secepatnya setelah keluar kantor aku langsung pulang deh :P
Aku juga ga akan tidur larut malam, segala urusan krucils akan aman dan ga akan ketiduran ketika sedang mengerjakan pekerjaan di rumah :D

Ma, kita saling mencintai tapi jarang sekali mengucapkannya secara lisan ya Ma? Tapi we love each other right?
dan aku baru bisa menyelesaikan suratnya hari ini tepat lima hari setelah memulainya
aku sayang mama, dan rasa sepi tanpa mama membuat aku berpikir semoga Tuhan memberikan umur yang panjang agar aku bisa punya lebih banyak waktu dan kesempatan untuk membahagiakan mama.
Aku sayang mama ga lebih kurang dari rasa sayangku pada papa, dan lebih darirasa sayangku pada diri sendiri, selamanya.




Palembang, 30 Januari 2012
Teruntuk mama tercinta, setiap sudut rumah sepi tanpamu ma, tapi tidak dengan hatiku meskipun ketika engkau jauh.





oleh @lia3x

diambil dari http://lia3x.blogspot.com/

Ketiga

Ketiga kalinya kuketikkan sebuah surat penuh kagum untukmu, Kak @adimasimmanuel
Dari yang tak pernah bosan akan semua tulisanmu….

Kuharap Kakak tidak bosan, jengah, kesal, atau apapun itu, saat menerima suratku. Kuharap juga aku bisa menahan diri untuk menjadikan ini adalah surat yang terakhir. Aku janji, ini surat yang terakhir yang akan kutuliskan untukmu, Kak. Atau mungkin hanya akan menjadi yang terakhir kukirimkan, meski bukan yang terakhir kutuliskan.
Malam yang indah kembali kita nikmati bersama didinginnya suhu puncak. Ini adalah tempat favoritku bersama sepupu-sepupuku. Puncak pas. Di mana semua cahaya yang berasal dari rumah-rumah penduduk yang ada di bawah sana, terlihat dengan jelas. Cahaya mereka yang berkilauan seakan menyatakan betapa bahagianya aku dapat kembali duduk di sisimu, meski untuk yang terakhir kalinya.
Niat bersikap seadanya, aku malah kikuk. Ya mungkin kikukku adalah seadanya aku. Kelirik kau sesaat, dan jantungku copot seketika. Lekukan wajahmu dari samping sambil melihat ke langit penuh bintang adalah hal terindah yang mematikan. Aku menunduk, entah mengapa seketika itu tanah di bawah terasa lebih menarik dari pada bintang di langit sana.
Aku mencoba menghirup udara dingin yang bersih. Tersangkut wangi tubuhmu. Tubuhku bergetar hebat, jantungku apalagi. Sampai detik ini, masih tidak masuk akal betapa aku bisa sangat merinding karena wangimu. Akan kuhafal dan kubawa pulang ke Jakarta. Ingat kan, ini pertemuan terakhir kita? Jadi biarkan aku menghafal wangimu dan kubawa pulang.
Aku mendongak. Ternyata bintang-bintang masih anteng di sana. Kakak tau kenapa di puncak dan pantai jauh lebih banyak bintang dari pada di bagian-bagian kota lain? Mungkin karena di sini gak ada polusi cahaya seperti di sana. Di sini gak ada gedung pencakar langit! Gak akan ada bintang yang enggan bermalam di sini. Mungkin gak kalau nanti kita sudah pulang ke kota kita masing-masing, kita bisa melihat bintang yang sama meski dilain tempat? Kuharap mungkin.
Kembali ingat bahwa ini pertemuan terakhir kita. Kamu tau apa yang lebih baik dari bintang malam ketimbang senja pada pantai Kak? Bintang malam memiliki waktu yang lebih lama dari pada senja pada pantai. Betul kan? Ya betapa pintarnya aku memilih pertemuan terakhir kita ini pada malam penuh sesak dengan bintang.
Sudah sejak lama aku mengagumi bintang, begitupun pada rangkain indah milikmu Kak. Sudah sejak lama aku merindu malam berbintang, begitupun pertemuan kita ini Kak. Dan sudah sejak lama aku ingin membawa pulang bintang-bintang itu seperti betapa inginnya aku membawa wangimu pulang ke rumah. Wangimu sudah kusimpan dan masih kunikmati sekarang.
Kutarik nafas panjang lalu kuhembuskan sepanjang jarak yang terbentang di antara kita. Kembali kuselipkan kedua tanganku pada ketiak, dingin. Kelirik kembali dirimu yang masih anteng mengamati ribuan bintang di sana. Aku hanya ingin tau apa isi pikiranmu saat ini. Apakah ingin tetap tinggal untuk beberapa saat, atau malah ingin segera kembali ke kotamu. Kuharap pilihan kedua adalah hal yang paling tidak kamu pikirkan Kak.
When You Love Someone milik Endah n’ Rhesa tetiba hadir menusuk pendengaranku. Entah datang dari mana, mungkin kotak musik Tuhan. Mari kita nikmati bagaimana irama demi irama mereka rangkai sampai menyejukkan hati. Petikan gitar ringannya membuatku terbang.
Tiba saatnya kita harus berpisah. Aku sudah ingat semuanya. Gerakanmu, wajahmu, wangimu, suaramu, dan semuanya. Hanya saja aku tidak dapat mengingat betapa bahagianya aku duduk bersisian denganmu di bawah senja pantai serta malam penuh bintang di puncak. Iya, yang kuingat dari itu semua hanyalah betapa bahagianya aku. Begitu saja sudah cukup bukan?
Secangkit cokelat panas, segenggam kehangatan, sepiring kisah romantis, dan sebuah pelukan hangat. Alasan yang mana yang membuatku ingin pergi? Alasan yang mana yang membuatku tidak nyaman? Alasan yang mana yang harus kuhapus? Aku, ingin tetap berada di sini, tak ingin kemana-mana.

Rasanya sangat enggan meninggalkan detik-detik indah ini.
Segini dulu surat kekaguman dan khayalanku Kak. Kuharap ini tidak membuat kamu benci, marah, kesal, atau apapun itu, terhadapku. Anggap saja ini surat cinta biasa. Boleh kamu sobek-sobek, atau kamu masukkan ke dalam botol dan kamu lempar jauh ke laut sana.
Dalam selembar surat cinta ini, kuselipkan jutaan kekagumanku
Dalam selembar surat khayalan ini, kuselipkan jutaan kehangatan
Dalam selembar surat cinta ini, kuselipkan jutaan kisah romantis meski tak seromantis kisah Bella dan Edward
Dan dalam selembar surat cinta ini, kuselipkan sepucuk janji untuk kembali hanya menjadi pengagummu, tanpa sebuah surat lagi

“I used to hide and watch you from a distance and I knew you realized
I was looking for a time to get closer at least to say...hello”

Tertanda,
Dari kehangatan senja pada pantai,
Annisa Fitrianda.
Teruntuk,
Diri sedingin malam hari di puncak pas,
Adimas Immanuel.





oleh @nisfp

diambil dari http://wordsroom.blogspot.com/

As Simple As That

Ini adalah surat balasan untukmu, teh. Iya, lama, maaf, ehehehe. Hmmm, mulai darimana, ya? Sebenernya, kalo dibilang kagum, emang iya, dibilang sayang, iya juga, dibilang cinta, wah cinta itu satu hal yang berat, tapi kalo dirasain, emang iya sih. hehe, blak-blakan aja lah, daripada dibilang munafik.. :p

Nah, di tulisan itu kamu bilang ga suka sama aku yang sering gonta-ganti pacar? Wah berarti jarang baca blog aku sama updatean twitter ya? Aku itu kenapa gampang pacaran dan gampang putus itu soalnya si cewenya, teh. Yang terakhir tuh yang kamu bahas, aku itu diselingkuhin, to be honest. Mantan aku itu selingkuh sama sahabat aku sendiri (try to feel what i’m feeling that time, teh). Dan ya aku langsung putusin aja, ya ngapain juga dilanjutin haha. Dan aku langsung move-on, soalnya prinsip aku mah ngapain nge-galauin orang yang udah nyakitin kita. As simple as that sih, tapi ya itu kalo kasusnya kita yang disakitin, kalo kasusnya kita putus secara baik-baik atau lainnya, ya itu balik lagi ke kita. Misal kalo kita pengen balikan lagi, tapi si cewenya ga mau, ya galau sih wajar, tapi ngapain juga galau? Toh si cewenya udah ga mau haha, mau digimaian lagi, masa mau maksa-maksa minta balikan? :p Dan you must know that i always serious in a relationship, tapi ya semuanya juga tergantung pasangan kita, kalo pasangan kita serius, ya pasti hubungannya awet, tapi, ya, hampir beberapa tahun terakhir ini pasangan saya ga ada yang serius. Ada yang selingkuh lah (dua kali), ada yang mutusin tanpa sebab (dan ujung-ujungnya punya pacar baru dalam waktu yang deket), dan ada juga yang aku putus gara-gara aku harus pindah kota dulu. Dan sekarang ya kalo kamu mau serius, aku bakalan lebih serius teh kayak ngerjain soal snmptn, hahahahahaha :p

Bahas apa lagi ya, oh iya, gombal. Nah, kalo soal gombalan, ya ada yang serius ada yang engga. Contohnya aja nih, “Kepala aku berat soalnya mikirin kamu terus”, bayangin, kalo kepala kita berat, pasti kita susah jalan, dan kepala kita terus-terusan ada di lantai soalnya susah ngangkat, hahaha. Tapi, kalo mikirin kamunya sih ya itu serius. Ya, yang kayak gitunya sih serius, hehe. Anyway, kalo misalkan suatu saat kamu beneran ada hati sama aku, aku serius kok, bukannya bercanda, teh. :)

Ngomong-ngomong, udah move-on, ya? :3

Aku kasih bonus foto kamu, nih, niiiih.. :p










oleh @mirzapw untuk @atte_yanti

diambil dari http://malaikatdanberuang.tumblr.com/

Hei @Anggarief, Mari Tertawakan Hidup!

Hujannnnnnnnnnnnnnn…
Hujan untuk sang Fajar Bumi.


Dear,
@Anggaarief, Kekasih Sajakku..

Belum semenit hujan turun di langit kotaku, jiwa ini menjadi sangat merindukanmu. Entah kapan terakhir celoteh kita bersambut. Hei, kemana saja kamu? Terlalu sibuk bermain dengan Hujan dan Senja di kotamu? Hei, aku merindukan sajak-sajak kita! :’)

Hei bagaimana langit di kotamu pagi ini? Apakah serupa dengan milik kotaku? Hujan turun dengan begitu bersemangat, mendinginkan hati yang pilu. Harusnya kamu ada di sini, menikmati setiap rintik dan ritme air langit itu bersamaku. Lagi tawa dan canda kita saling bercumbu. Berharap rintiknya juga sedang menyejukkan kotamu.

Hei Pria Pecinta Senja, bagaimana kabar hidupmu? Bagaimana hatimu? Fine? Ahh serupa dengan hatiku. sepertinya.. Hidup ini lucu! Seperti kata kamu, Tuhan bercandanya suka kelewatan. Iya, Tuhan bercandanya suka nyakitin juga. Hei, hati ini… Okay! Hati ini baik-baik saja. Juga seperti kata kamu, semua akan baik-baik saja. Aku percaya itu. Hei, haruskah aku mempercayaimu kali ini? Okay, aku akan memantapkan hati untuk yakin bahwa semua akan baik-baik saja. Karena Hidup ini tentang semua kebaikan semesta, kan?! Semesta mengatur hal-hal baik untuk kita, kan?

Hei, bagaimana dengan milikmu? Hatimu! Apakah sudah benar-benar sembuh? Jangan biarkan luka itu menganga semakin lebar. Ambil air hujan, rona senja, sajak basa-basi kita dan juga senyumku untuk mengobatinya! Jiwa yang tergambar jelas oleh senyummu itu terlalu kuat untuk digempur cidera luka, bahkan yang sekuat dentaman bom sekalipun. Hatiku punya keyakinan hebat tentang jiwamu. Pastikan kamu punya keyakinan yang sama dengan yang aku miliki.

Jangan biarkan sajak indah kita tercipta dari secuil hati yang pekat karena pilu. Aku yakin, Semesta lebih menginginkan senyum dan semangat kita. Hei, maaf aku belom bisa berada lagi dekat denganmu. Kota kita belom mau mendekat. Ingin rasanya memberikan bahu ini untukmu, pun untuk setiap tangismu. Dan ingin sekali rasanya menyewa bahumu untukku.

@Anggarief, Pria Pecinta Kata..
Mungkin ini akhir pesanku saat ini, pagi ini, waktu pembuka senja kita. Kata-kataku selalu merindukan sajakmu, sebanyak dengan aku yang selalu menginginkan pertemuan selanjutnya dengan kamu. Celoteh, cerita dan canda yang semakin mesra kala kita berjumpa.

Hei mari kita tersenyum. Aku di sini selalu siap berbagi tawa termanisku untukmu! Well bagaimana kalau kita tertawa saja!?! Mari tertawakan kesedihan kita! Mari tertawakan hidup!!




Bye now kamu!


Salam,
Kekasih Sajakmu.

PS : Aku mau kamu membalas Surat Cinta ku ini. luangkan waktumu untuk membuatkan sajak dalam sebuat Surat Cinta. XD










oleh @nilaayu

diambil dari http://nilaayu.tumblr.com/

Untuk Nyonya Pengarang

Selamat pagi nyonya pengarang..

Senang sekali bisa menulis surat cinta untuk sosok kamu, sosok penulis yang selalu aku nanti tulisan - tulisan terbaik nya. Aku selalu senang membaca semua tulisan kamu mbak, dan cukup banyak aku belajar dari sana. Tulisan yang bisa bikin aku masuk ke dalam nya, yang mampu membaut imajinasi ku berjalan pada apa yang kamu ceritakan dan gambarkan lewat tulisan - tulisan kamu.

Semua selalu menyenangkan dan tidak bosan untuk lagi dan lagi membaca nya. Aku juga sedang berusaha keras dan belajar untuk bisa mengembangkan sebuah imajinasi aku dan menuangkan nya pada tulisan, tapi memang benar - benar masih belajar. Tulisan - tulisan kecil aku masih sangat acak - acakan dan perlu banyak di perbaiki hehehe. Dan tentu nya akan selalu terus termotivasi dari setiap tulisan - tulisan kamu mbak, yang selalu di tunjukan untuk tuan arsitek.


Menulis memang bukan hal mudah menurut aku mbak , banyak sekali yang harus kita perhatikan. Salah sedikit aja penguraian nya maka akan berpengaruh pada maksud penyampaian dari tulisan nya itu sendiri , bener gak sih ? hehehe. Menulis bukan hanya tentang sekedar menyelesaikan tulisan nya tapi aku juga ingin sekali bisa membuat tulisan yang bisa jauh lebih hidup, membawa sang pembaca ke dalam apa yang sedang aku ceritakan lewat tulisan - tulisan ku. Dan itu bukan hal yang mudah, aku masih harus banyak belajar hehehe.

Nyonya pengarang, terima kasih untuk waktu nya. Meluangkan sejenak membaca tulisan kecil aku kemarin pagi, dan memberi aku masukan yang akan membawa aku ke hal yang lebih baik. Terutama dalam proses aku belajar menulis yang baik. Suatu kehormatan dan menjadi kebanggan tersendiri untuk aku mendapat kan masukan dari penulis hebat seperti mbak adit, yang tulisan - tulisan nya selalu aku tunggu. Sukses selalu nyonya pengarang, dan semoga berbahagia dengan tuan arsitek nya.Dan semoga tidak bosan menerima pertanyaan - pertanyaan aku tentang menulis yah nyonya, aku harap suatu hari nanti bisa seperti kamu. Menulis sebuah perasaan dari hati untuk sosok lelaki yang aku cintai, menyenangkan sekali pasti nya.



Penggemar tulisan mu,


Rahmawati

*teruntuk nyonya pengarang @adit_adit





oleh @OdetRahma

diambil dari http://suratcintaperempuan.blogspot.com/

Maaf. Tugasku bukan merindukanmu (lagi)..

Maaf. Karena aku tidak bisa mencintaimu, lagi.

Aku tidak bisa mencintaimu lagi, seperti bagaimana dulu aku selalu menjaga senyummu tiap pagi, menanyakan kabarmu tiap siang, merindukanmu tiap sore, dan memimpikanmu tiap malam.

Maaf. Karena aku tidak mampu lagi mencintaimu seperti itu.
Mencintaimu dengan menemanimu berhujan-hujanan, walau aku benci melakukan itu. Mencintaimu dengan selalu menulis puisi tentang sepasang kekasih yang duduk berdua di taman, lalu menyelipkannya di lokermu.

Aku menyerah..

Aku tidak mampu lagi mencintaimu seperti itu. Karena..

Karena kau pun tahu.

Aku telah cukup berbahagia dengan 'dia' yang mencintaiku, seperti aku mencintaimu dulu.
Aku cukup berbahagia dengan 'dia' untuk sekedar mengingat siapa kamu.

Aku cukup berbahagia dengan 'dia' yang setiap pagi datang memelukku dari belakang, yang menangis ketika aku menatapnya datar, yang mengagumi apapun yang aku lakukan.

Aku cukup berbahagia dengan 'dia', untuk sekedar menatapmu dan merasakan amukan rindu di dadaku.

Maaf.





oleh @Nurulkhaliza

diambil dari http://thenurulkhaliza.blogspot.com/

Ingat Setahun Yang Lalu?


Kemeja kotak-kotak, celana jeans belel dan tatanan rambut semi mohawk yang gagal. Yep, dengan dandanan mirip pengamen itu, aku berangkat dari tempatku dengan menggunakan taksi yang pengap oleh bau ketek supirnya, untuk menuju sebuah pusat keramaian di Selatan Jakarta, untuk menemuimu yang mungkin sudah menunggu.

Entah konspirasi apa yang terjadi hingga akhirnya taksi yang aku tumpangi terjebak macet di jalan kecil yang ramai oleh mobil pribadi itu. Merasa panik dengan kenyataan bahwa waktu tinggal beberapa menit lagi dan jarak yang ditempuh masih lumayan jauh, aku berpindah haluan ke Bus Transjakarta yang jalurnya masih lumayan steril dari kendaraan lain.

Setelah lari-larian naik tangga penyebrangan, aku akhirnya bisa berdiri sempit-sempitan dengan puluhan orang bau ketek lainnya di dalam sebuah Bus Transjakarta berwarna abu-abu itu. Alhamdulillah, nggak sampai sepuluh menit aku sampai di tempat kita berdua janjian dengan kondisi mengenaskan karena sepanjang jalan diketekin abang-abang.

Berbekal petunjuk seadanya dari seorang satpam yang kumisnya lebat naudzubillah, aku pun berlarian menuju tempat yang kamu sebutkan di sebuah pesan pendek beberapa menit sebelumnya tadi. Aroma cologne yang aku pakai asal-asalan sesaat sebelum pergi, sekarang terasa aneh setelah bercampur dengan keringat hasil lari-larian sedari tadi. Hasilnya, aku memiliki bau seperti anak sapi belum mandi yang dipakein cologne.

“keluar lift di lantai empat, langsung belok kanan. Di sana tempatnya. Makanannya enak-enak, Mas.” Begitulah pesan dari satpam berkumis aneh tadi. Dan ternyata benar, itu tempatnya. Lalu demi meyakinkan diri, aku membuka pesan pendek darimu sekali lagi.


Aku di depan resto kebab nih. Kamu udah di mana? – xxxxx (+628560909898)

Setelah membaca pesan pendek itu, aku langsung mencari resto yang kamu maksud. Beruntung, resto kebab hanya ada satu di sana. Dengan perlahan, aku pun mendekat ke deretan-deretan kursi dan meja yang berada di depannya.

Lalu, di situlah kamu berada. Di antara sebuah meja dan kursi dengan sandaran yang cukup tinggi. kamu sedang meminum lemon tea dari gelas plastik berwarna putih, ketika untuk pertama kalinya aku melihat sekaligus menyadari kalau ternyata kamu sangat cantik hari itu. Rambutmu yang dibiarkan tergerai manis, terlihat pas dengan baju yang kamu kenakan. Sweet. Samar-samar lagu You’re buatiful milik James Blunt bermain di kepalaku.

Sedetik kemudian, mendadak perutku mules. Kegugupan yang luar biasa besar menyergap dada dan mulai naik ke kepala. Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari masuk ke lorong tempat di mana wastafel tempat cuci tangan berada. Dengan tidak sabaran, aku mencuci muka sambil berharap semoga ketegangan ini bisa lekas menghilang. Larut bersama debu dan kotoran yang sebelumnya menempel di wajahku yang kusam dan jerawatan.

Setelah membasuh wajah dengan handuk kecil yang selalu aku bawa di dalam tas, aku mencoba mematut diri di depan cermin sekali lagi. Baju kotak-kotak yang tadi rapi, kini sudah kusut mungkin karena berdesak-desakkan di dalam Bus Transjakarta. Celana jeans yang tadi belel, jadi makin belel entah karena alasan apa. Hanya rambut semi mohawk gagalku yang masih berdiri dengan gagahnya.

Tapi lepas dari itu, ada ketakutan luar biasa besar yang aku rasakan di dalam dada. Aku takut ada penolakan yang harus aku tangkap, ketika kamu mendapatiku yang mungkin tidak sesuai dengan harapan yang sudah kamu bangun sendiri di dalam kepalamu. Iya, ketakutan-ketakutan seperti ini selalu berhasil membunuh rasa pede pada setiap blind date di seluruh dunia.

Ketika sibuk mengatasi gugup itu, tanpa sengaja aku menangkap bayanganmu di cermin yang ada di hadapanku. Dari sana terlihat jelas kalau kamu sedang makan dengan pelan, sambil sesekali melihat ke sembarang arah. Mungkin kamu sedang mencariku.

Demi memastikan bahwa itu beneran kamu, aku pun mengambil ponsel dan memencet tanda gagang telepon berwarna hijau setelah mencatut namamu dari dalam phonebook. Sambungan telepon masuk, dan dari bayangan kaca di hadapanku, terlihat jelas reaksi kamu yang terburu-buru mengangkat ponsel. Lalu aku menutup teleponnya, sedetik sebelum sempat diangkat oleh kamu yang lalu kebingungan.

Iya. Itu ternyata benar kamu. Dan mulesku makin menjadi-jadi.

Tapi aku harus berani menghampiri. Tidak ada kata mundur dalam kamusku. Mau nggak mau aku harus berani. Aku terus-terusan menyemangati diri sendiri.

Sekali lagi aku mematut diri di depan cermin. Tampilan kusam tadi, kini berganti menjadi tampilan tidak kusam-kusam amat setelah mencuci muka. Sambil melafadzkan doa-doa langit, aku pun bergegas menghampiri kamu dari arah belakang.

“Hai..” Aku nyengir dan kamu kaget.

“Hei..”

Tidak ada tanda-tanda penolakan, dan kita lalu bersalaman.

Dan detik-detik setelahnya, aku langsung jatuh cinta sama cara kamu tersenyum.

* * *

Sekarang adalah satu tahun setelah hari itu, kita sudah menjadi lebih dewasa, lebih mengenal satu sama lain, lebih bisa saling menghargai dan lebih saling menyayangi. Kita sudah tahu kebiasaan masing-masing, kita sudah tahu keinginan masing-masing, kita sudah hapal cara untuk berbaikan ketika salah satu dari kita ngambek seharian. Kita sering tertawa bersama, tidak jarang pula menangis bersama. Tangisan atau tawa yang akhirnya kita habiskan di bawah selimut sampai ketiduran.

Kita sudah semakin pandai sebagai sepasang orang yang saling sayang.

Ada luka, ada tawa, ada sedih, ada kecewa, ada penolakan, ada penyesalan, ada kita. Ada kamu, ada aku, saling mengisi di saat-saat paling terpuruk dalam hidup kita masing-masing. Saling menguatkan, saling menunjukkan rasa sayang. Saling melengkapi, seperti sela-sela jemari yang saling mengisi ketika tangan kita berpegangan.

Sekarang kita semakin dewasa dan terus tumbuh bersama. Aku makin kecanduan keberadaan kamu. Aku pun semakin sering mengalami proses jatuh cinta pada orang yang sama, pada kamu. Aku juga semakin meyadari kalau secara pelan namun pasti, kamu sudah menjadi salah satu bagian paling penting dalam kehidupanku.

Ya. Ini aku, orang yang sama yang selalu berusaha menjadi sebab bahagianya kamu sejak satu tahun belakangan. Orang yang sama yang akan berbagi peluk kapanpun kamu mau. orang yang sama yang akan selalu berada di tempatnya, hanya demi memastikan kamu baik-baik saja. Orang yang sama yang bersama-sama dengan kamu sudah banyak menyusun mimpi ini itu. Orang yang sama yang ingin menghabiskan hidup dengan terus menjadi partner-mu. Orang yang sama yang akan sayangi kamu apa adanya.

Selamat satu tahun hubungan ini, kamu. Dan.. Selamat menempuh hidup yang baru, kita.

I love you, sayang.


fin

P.s : Surat ini ditulis sambil mendengarkan lagu When You Say Nothing At All-nya Ronan Keeting secara berulang-ulang. Lagu kesukaan kamu.


syubidubiduu~ mati kau!

ini goresan tak bermakna, agar kau tahu bahwa kau jauh lebih tak bermakna nya.


syubidubidu~
dendangan kecil untuk pagi yang tak secerah biasanya.
hei, kenapa kau tampak murung, sedang aku berusaha untuk seceria mu kemarin.

syubidubidu~
nyinyiran untuk kicau serak burung pagi ini.
ada apakah gerangan? terlalu capek kah engkau mengejek ku kemarin?
oke.. hari ini gantian aku yang melakukannya :))


syubidubidu~
salam hangat untuk dunia baru yang tak mendukung ku hari ini! damn!


syubidubidu~
begitu bunyi ketukan belati, sebelum kau, aku kuliti dan kebiri.


syubidubidu~
alunan kebencian merasuk diri, menggerakan ku sesuka hati. ku cabik-cabik kau dari segala sisi.


syubidubidu~
ah kau yang disana, bagaimana melodi tusukan-tusukan pada malam kemarin? perih bukan!
ah itu belum seperih yang pernah aku rasakan.

syubidubidu~
hei! ini nada ejekan untuk mu! terkapar kau! haha... mati kau sekarang.


syubidubidu~
harmoni kepuasan mengalir deras. hitam, pekat, dan manis, tampak seperti kopi pagi ini. ya.. sama seperti aku yang teramat puas menghabisi semua sudut kau, wahai kenangan yang bercokol manis di ruang hati.
MATI KAU!

syubidubidu~
begini cara ku mengakhiri, agar kau tak datang lagi.