26 January 2012

surat cinta tentang surat cinta

Dear Mama,

“Mama, saya ingin punya celana panjang dan Majalah Bobo. Kalau tidak bisa beli yang baru, yang bekas juga saya terima.”
Kamu ingat surat berisi permintaan bodoh yang saya letakkan di bantalmu itu? Saya berpikir selama berhari-hari sebelum berani menuliskannya. Kamu membalasnya dengan permohonan maaf, cuma mampu membeli Majalah Bobo. Uang kamu tidak cukup membeli celana panjang. Kamu tahu, waktu itu, saya ingin sekali punya celana panjang seperti teman-teman saya. Seorang anak kelas tiga Sekolah Dasar yang belum punya sehelai pun celana panjang adalah lelucon bagi teman-temannya. Tetapi saya menyesal telah mengirim surat itu. Hari itu, saya tahu bahwa ada keinginan harus saya relakan mendekam di dada saja—atau keinginan itu melukai orang lain lalu berbalik melukai saya lebih dalam.
Saya selalu mengenang masa-masa ketika kita seperti orang asing satu sama lain. Kamar kita cuma dipisahkan dinding tipis, tetapi saya harus mengirim surat ketika hendak mengatakan sesuatu. Ketika kamu berangkat ke pasar membawa jualan-jualan kamu yang tidak seberapa itu, saya akan diam-diam meletakkan surat saya di bantal kamu. Besok harinya, kamu akan meletakkan surat balasan di tempat tidur saya. Tulisan kamu selalu lebih rapi. Saya heran, kenapa kamu mau ikut hidup dalam permainan saya itu tanpa pernah mengeluh. Kamu tahu, alangkah pemalu anakmu.
Masa kecil aneh itu hadiah bagi saya. Saya pikir, kebiasaan menulis surat kepada Mama dan siapapun yang tidak mampu saya tatap matanya ketika bicara telah melatih saya menulis. Kemampuan saya menulis hari ini buah dari surat-surat di masa kecil saya. Kamu pasti ingat bagaimana anakmu ini lebih memilih beli perangko daripada beli gula-gula. Kamu juga pasti ingat, saya rela jadi penjual kantong plastik di pasar dekat penjual ikan dan penjual kacang goreng di sekolah agar bisa punya uang untuk membalas surat-surat sahabat pena saya.
Kamu tahu kebiasaan saya menulis surat tidak sembuh ketika menginjak masa remaja. Kamu pasti ingat saat saya pertama kali punya pacar— adik kelas saya yang ternyata anak teman sekolahmu. Saya dan dia bertukar surat setiap pagi, kecuali hari libur dan Minggu, di depan perpustakaan sebelum kami digiring bel sekolah ke kelas masing-masing. Kamu tertawa ketika membaca kisah itu ada di novel saya. Saya menyatakan cinta kepadanya juga lewat surat, Mama. Saya menulis surat di salah satu halaman buku catatannya. Hahaha. Sekarang dia sudah punya dua orang anak. Terakhir saya bertemu dia di toko buku. Dia memberi saya satu buku tebal, biografi seorang terkenal dan kaya yang meninggal karena penyakit yang dia rahasiakan selama hidupnya.
Waktu kuliah saya juga punya kebiasaan berkirim surat dengan Kukila, mantan pacar saya yang paling dekat denganmu itu. Saya membeli buku tebal bersampul biru—kami sama menyukai warna itu. Di halaman pertama, saya menulis surat cinta kepadanya. Besok harinya, saya meminta dia membalasnya di halaman berikutnya. Keesokan harinya lagi, saya membalas surat di halaman setelah suratnya. Begitu seterusnya, hingga buku tebal itu penuh surat, hingga kami memutuskan mengakhiri hubungan karena dia pindah ke Jakarta dan menikah dengan lelaki pilihan ayahnya. Hahaha. Dia juga sudah punya dua anak. Dia masih sering mengirim surat lewatFacebook dan tidak pernah lupa menanyakan kabarmu.
Mengirim surat kepadamu dan kepada pacar, bukan hal aneh lagi bagimu. Tetapi, kamu pernah menyebut saya gila ketika pertama menerima surat yang saya kirim kepada diri sendiri. Saya berada di Jakarta waktu itu. Saya mengirim catatan perjalanan saya ke rumah kita di Balikpapan. Tetapi lama-lama kamu paham, anakmu memang gila, setiap berkunjung ke kota mana pun selalu mengirimkan catatan perjalanannya dalam bentuk surat ke rumah. Saya jarang pulang ke rumah, dan surat-surat saya sendiri adalah kejutan bagi saya setiap saya pulang ke Balikpapan.
Saya juga punya setumpuk surat-surat yang tidak pernah saya kirim kepada orang yang seharusnya membaca surat-surat itu. Ya, sejak kecil saya sering menulis surat kepada Ayah. Surat pertama saya kepada Ayah tentang celana panjang. Sebelum dia berangkat dia berjanji ingin membawa pulang ole-ole celana panjang untuk saya. Dia tidak mungkin lagi menepati janjinya itu. Saya tidak pernah mendengar dan membaca ada penjual celana panjang di alam kubur sana. Hahaha. Jika pun ada, dia pasti tidak tahu harus membeli celana panjang nomor berapa untuk saya. Dia pasti cuma mampu membayangkan setinggi dan sebesar apa anaknya setelah kepergiannya dari rumah lebih dari 20 tahun lalu itu.
Soal celana panjang itu, saya pernah mengirim surat kepada Nenek. Saya ingat, dia membuat saya menangis karena membeli celana panjang untuk saya. Waktu itu menjelang lebaran. Saya masuk kamar dan memeluk celana panjang itu sambil membayangkan memeluk Ayah. Saya lalu menulis surat buat Nenek untuk berterima kasih. Saya lupa, Nenek cuma bisa membaca aksara Arab dan Bugis. Saya harus membacakan surat itu sendiri. Itu surat pertama yang saya baca di depan orang yang saya kirimi surat.
Mama, bersama beberapa sahabat di internet yang sebagian besar belum pernah saya lihat secara langsung wajahnya, saya membuat satu proyek sederhana bernama ’30 Hari Menulis Surat Cinta’. Setiap hari ada ratusan orang menulis surat cinta. Setiap hari saya membaca surat cinta mereka. Itulah kenapa saya menulis surat berisi cerita tentang surat-surat ini. Setiap saya membaca surat cinta, saya tidak bisa tidak mengingat kamu. Bagi saya, Mama adalah surat cinta yang tidak berhenti dikirimkan kepada saya. Saya berharap saya bisa jadi surat cinta balasan bagi Mama, meskipun saya tahu tidak pernah mampu setimpal.
Terima kasih, Mama. Saya mencintai kamu.
Aan
P.S. Bagaimana kacamata barumu? Saya ingin sekali melihatnya kamu mengenakannya. Ciye, Mama punya kacamata baru! Hahaha.


Kata dan Suara

(Ditulis 24 Januari, 2012.)
Saat sedang menganggur begini saya bingung apa yang hendak dilakukan. Semua to-do-list sudah habis saya kerjakan. Daripada melamun tidak pada tempatnya, makanya saya menulis ini semua. Bhik. Halo. Iya. Halo. Iya. Halo. Iya. Halo. *rauwisuwis.* Apakabar kamu? Masih sehat dan menyenangkan seperti biasanya, kan? Halah. Saya terusmembual padahal sedang binal. (?) Ehem. Kita dulu itu kenal dari mana hayo kalo aku bisa dikasih tauin? Ngga inget apa bukan? Aku dong, UDAH LUPAK. Bhahak.
Lagi-lagi Twitter. Microblogging ini berhasil mempertemukan saya dengan berbagai macam orang. Untuk dikenal, dijadikan teman, pacar, mantan, sekutu, musuh, haduh, banyak itu pokoknya itu. Lewat ribuan rangkaian kata, saya semacam berhasil menyelami berbagai ‘pencitraan’ orang lain. Tidak sedikit, kagum bisa muncul dengan seseorang juga lewat alfabet yang dia susun. Ajaib? Engga ah, biasa saja.
Jadi kenapa ini ngelantur ke mana-mana? Hah? KENAPAH? AKU NULIS BEGINI INI KARENA AKU LAGI BISIK-BISIK TAU NGGA? AKU BISIK-BISIK DI DEPAN ALAT YANG ADA DI MASJID-MASJID ITU. NAMANYA APA GITU. TAPI INI MAU DIBALIKIN KARENA SEDANG AKAN DILAKSANAKAN SEBUAH AZAN. ENTAR YAK AKU BALIKIN. *balikin* Nah, udah aku balikin. Jadi aku bisa bisik-bisik dalam keadaan normal sekarang. Kamu lagi diem ngga? Kalo engga, lagi ngapain hayo? Kamu laper ngga? Kalo ngga laper pasti sudah makan. Ya udah.
Ini bukan surat. Ini bukan cinta. Karena aku sudah malas untuk ‘terikat’ oleh ‘cinta’. Kalo oleh ‘cina’ aku mau. Itu lucu-lucu sih si koko-koko. Apalagi yang punya mekbuk. :3. Hish! *tendang keluar kucing yang abis nulis itu barusan.* Aku ini lagi kenapa sih sebenernya? Terus itu kenapa judulnya “Kata dan Suara” gitu? Aku ngga tau. Ini semua penyebabnya adalah aku mengenal kamu lewat ‘kata’, dan semalam aku baru mendengar ‘suara’ kamu. Itu bagus banget. Aku sukak! AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK. BENTAR YAK, AKU BALIKIN LAGI INI KE MASJID. *balikin.* Nah terus apalagi? Ngga ada. Kenapa tuh kira-kira? Biarin.
Apa aku sudahin aja ini nulisin ini semua? Udah aja yes. Aku ngga capek kok. Malahan nih ya, aku seneng nulis ini. Kenapa cobak? Karena pas lagi nulis ini aku dikasih egimsama kakak. \(^o^)/. Aku makan egim dulu. Kamu sana gih ngapain gitu. Etapi ikut makan aja bareng aku. Tapi bukan makan egim aku. Ini cuma satu. Bukannya pelit, tapi memang aku ngga suka berbagi egim kepada khalayak ramai. Tau ngga kenapa? Iya bener, karena AKU PELIT! Hih. Tau aja. Ya udah. Dikarenakan aku anaknya baik tak terkira sepanjang masa, maka akan aku persembahkan ini buat kamu. Nih, donat. (<^o^)>


Untuk Sebuah Nama (1)

Untuk sebuah nama yang di mana ku gantungkan angan

Masih sedikit ragu menuliskan kata berisikan namamu. Mungkin akan ada senyum seringaimu saat membaca surat ini lalu menebak “Ya Tuhan, belum move on juga dia”. Jadi begini, ini surat cinta untukmu. Surat cinta yang biasa kamu dapatkan di message facebookmu atau emailmu dahulu. Surat cinta yang selalu mendekatkan kita, hingga kamu pun jarang membalasnya dan pada akhirnya tidak ada yang dibalas, seperti cintaku.

Sebenarnya aku juga belum tahu pasti istilah move on sebenarnya. Berpindah hati untuk orang lain pun aku pernah, tapi tetap saja yang terbaik, ya kamu meski kamu pernah bilang “kamu terlalu baik untuk aku” apa aku harus menjadi orang jahat untuk bersama kamu? Aku mau menghabiskan quality time ya sama kamu, waktu dan hariku yang terbaik ya sama kamu. Ya itu sih menurutku tapi Tuhan lebih tahu mana yang akan menjadi seseorang yang terbaik buat aku.

Dua hari lalu tanggal 22 Januari. Dan apakah kamu ingat 22 Januari 2010? Kamu ingat pertama kali kita berpaut tangan dan membiarkan ada sesuatu hangat menjalar keseluruh tubuh lalu kupu-kupu berterbangan di perutku. Status kita bukan sepasang orang yang berpacaran. Tapi kita membiarkan perasaan ini begitu saja terus menumpuk menjadi perasaan cinta. Bisakah kamu biarkan perasaan ini begitu saja? Bisakah kamu membuka hatimu lagi? Ya aku sih sepertinya tahu jawabanmu seperti apa. Tapi tidak salah kan jika aku bertanya?

Jadi gini, suratku sih intinya ini aja. Baca ya dengan seksama: Aku masih sayang kamu, aku kangen kamu, apa kabar kamu? Masihkah menyimpan foto yang menurut kamu kita seperti pasangan romantis korea. Jadi kapan kamu mau kembali?

Untuk sebuah nama, AnggitPras.

Dariku, yang menjadikanmu mantan terindah


mesin tertawa

Dear, mesin tertawaku

terasa asing ya istilah mesin tertawa? aku sendiri yang bikin istilah itu, merasa asing kok. bahkan merasa aneh dan jelek. tapi dalam perjalanan hidupku, kamu benar-benar istimewa walau terasa asing, aneh, dan jelek. istimewa karena kamu selalu mampu membuat aku senang layaknya anak kecil yang diberi gula-gula. saking istimewanya, dalam tangis yang membuat suara serak dan mataku sembab, kamu membuatku tertawa dengan ringannya. Aku? Keki setengah mati dengan kesedihan yang menyapaku tadi. Plin-plan. Setelah menangis hingga kehabisan nafas, dengan seenak jidat tiba-tiba tertawa sampai mata tinggal segaris. Payah!

Karena keahlianmu yang tidak biasa inilah aku enggan meminjamkanmu kepada siapapun. Ke pacarku pun tidak akan aku beri sekalipun dipaksa menikahi Jacob si serigala tampan itu. ehh, dipaksanya kok milih yang enak ya?! Dungu! Intinya, apapun yang digadaikan untuk meminjammu, tidak akan aku pinjamkan. Aku akan belagak egois untuk satu hal ini. aku tidak ingin kamu rusak karena keseringan bekerja. Tapi sebenarnya aku tidak perlu mengkhawatirkan kamu, Tuhan sebagai penciptamu akan selalu melindungimu. Ahh, tidak tidak, aku tetap pada pendirianku, aku tidak ingin meminjamkanmu pada siapapun. Aku saja dapat pinjam dari Tuhan. Titik. Sudah-sudah jangan pengaruhi aku untuk merelakanmu dipinjam oleh siapapun. *tutup telinga *nananananana.

Banyak orang yang berharap untuk meminjammu dari aku, sebenarnya jika aku mau mencatat nama-namanya. Pacarku pun sepertinya akan mengantri di deretan terdepan untuk meminjammu karena iri mendengar tawaku yang tak pernah melemah dan guratan senyum yang tak pernah pudar. Mereka bilang kamu spesial. Mereka selalu mencibirku, kenapa aku yang dipinjami mesin tertawa oleh Tuhan. Mereka bilang aku beruntung. Tanpa harus memakan coklat yang mengandung phenylethylamine, aku sudah bisa membuat hormon kebahagianku berserakan kemana-mana. bahagiaku akan lengkap saat suaramu menderu memecah keheningan hari-hariku. Mereka yang berlebihan atau memang aku yang beruntung?! Sepertinya memang aku yang beruntung. untuk kali ini, bolehlah aku sedikit menyombongkan diri :p

Jangan tertawakan aku karena sifat kekanak-kanakanku yaa. Aku terlalu sayang pada benda yang dipinjami Tuhan, kamu. apa jadinya kalo kamu rusak?! Siapa yang akan mengembangkan tirai tawaku kalo kamu rusak?! Tidak ada. Aku tidak tau bengkel jagoan yang bisa memperbaikimu. Dan yang jelas aku juga tidak memiliki kemampuan untuk memperbaikimu jika ada kerusakan setelah transaksi peminjaman. Aku mungkin akan membawamu ke ketok magic saja. Tapi tetap kembali ke statement awalku! Aku tidak akan meminjamkanmu ke siapapun. Hahahaha.

Dear, mesin tertawaku. Jangan pernah lelah untuk selalu membuatku tertawa. Untuk siapapun yang ingin memilikimu, biarlah itu hanya menjadi angan dalam harap mereka. Tebarkan tawa mereka tanpa kamu harus dimiliki oleh mereka. Karena kamu adalah mesin tertawaku yang dipinjamkan oleh Tuhan tanpa garansi kerusakan. Dan aku tekankan sekali lagi, aku tidak akan meminjamkanmu kepada siapapun.

untukmu, @chandraronika


Selimut Rindu

Selasa, 24 Januari 2012
Hari ke-12
Kepada malam yang menyelimuti rindu


Selamat, Malam! Aku pikir kau adalah salah satu yang beruntung karena mendapat surat dariku. Apa kabar? Aku harap baik. Padahal Tuhan masih mempertemukan kita setiap hari. Tapi pertanyaan itu seakan luput dari ingatan. Kau terlalu sesak. Sampai-sampai baik atau tidaknya dirimu saja aku tak peduli. Ah tidak! Bukannya aku tidak peduli. Aku sangat sangat peduli padamu.


Omong-omong, kenapa hanya ada sedikit bintang yang mengunjungimu? Kau terasa lengkap bersama teman sejatimu itu. Tuhan memang Maha Segalanya. Dia memasangkan ke-hitampekat-anmu dengan kilau bintang yang mampu menampung rindu.


Aha! Aku ingat sesuatu. Yang telah sejak lama ku titipkan padamu. Masih adakah? Bagaimana rupanya? Semakin banyak? Atau malah terkikis sedikit demi sedikit? Aku percaya padamu bahwa kau akan menjaganya sampai waktu tiba. Kapan? Entah. Kau tak berhak tanyakan itu. Karena sejatinya aku pun tak tau mau diapakan semua rindu-rinduku. Mungkin kau bertanya kenapa rindu itu bisa muncul padahal aku sendiri tidak tau apa-apa perihal keberadaannya. Mau tau? Pernah ada yang membeku. Ya, rindu-rinduku sempat mengotak-ngotakkan dirinya sendiri pada tempat dimana kau bisa temukan kedamaian, atau bahkan kekacauan sekalipun. Dimana terkadang kau tak sengaja tinggalkan cintamu dan tak mampu mengambilnya lagi. Dimana kau baru tersadar bahwa egoismu teramat besar.


Sudahlah. Aku yakin nantinya kau akan mengerti mengapa aku selalu titipkan rinduku padamu, bukannya pada orang lain. Mengapa pula aku ingin kau menjaganya agar tetap hangat. Karena di luar sana, terlalu banyak dingin yang menyusup ke hati setiap orang. setidaknya kau bisa hangatkan mereka dengan apa yang kau punya. Tak hanya rinduku. Aku yakin kau telah menyimpan lebih banyak rindu.


Sekian dariku. Kenapa malam selalu hitam? karena rindu tak selamanya terasa ringan. Ia hadir agar rindu itu sedikit tertahan. Blah!


Salam, Malam!


Aku~


Teruntuk Dua Sejoli

Teruntuk dua sejoli @pupudot dan @siggitar

Hey kalian dua sejoli yang mau ketemuan jauh-jauh di Senayan. Kenapa gue jadi ikut-ikutan yak?

Kalian yang saling rindu, jadi gw setengah iklas menemani sang Juliet ketemu sang Romeo, mau gue yah? Mau dong buat temen„ hahaha

Tapi tau apa? Gue disini susah-susah dari Bogor, kelaparan nunggu kereta sembari ditemenin pengamen yang menyanyikan lagu penyayat hati. Padahal bukan buat ketemu pacar sendiri! *emang punya? Enggak!*

Yah gue doakan nanti acara rindunya berjalan lancar, dan memberikan kesempatan gue membully kalian, ahahaha! Nanti kalo gue udah ada pacar, lo pada mesti temenin gue juga yak! Hahahaha

Dan demi sebuah kejujuran, kapan giliran gue punya pacar ? *pedih*

Sampai jumpa nanti di Senayan!! Semoga awet selalu

Tertanda, pem-bully orang pacaran

Zita Nadia

Cuma Thole yang Bisa

Hei kamu... meski aku tahu kau tak akan bisa membaca suratku ini, tapi aku tahu.. kau mampu mengerti apa yang aku ungkap lewat tulisanku ini. Seperti biasa, ketika kau menemani aku, dan menjadi saksi bisu, untuk tawa dan tangisku, bahkan marahku, kemanapun aku pergi.

Haha.. aku suka menyebutmu, Thole. Iyah, aku sengaja memberimu nama THOLE. Dalam Bahasa Jawa, thole adalah sebutan untuk bocah laki-laki. Yaa
ahh.. seperti itulah kamu di mataku. Layaknya bocah laki-laki yang lincah, menggemaskan, dan nurut... :)

Bagiku, kamu itu teman yang nggak pernah menolak kalau aku ajak kemana saja. Mau putar-putar kota, membenahi rasa lapar yang rindu wisata kuliner, mengunjungi indahnya pantai, bahkan untuk menjejak jalan setapak menuju gunung dengan suasana yang syahdu... kamu selalu mau... Bagaimana aku tidak terharu dan selalu jatuh hati padamu?!

Bahkan, menangis dan tertawa di jalanan pun, aku tak malu, di hadapanmu. Aku bisa cerita tentang apapun padamu. Tanpa khawatir akan ada yang marah ataupun mencaciku.

Kau ingat tidak, ketika kita melewati jalan setapak, menuju Gunung Banyak. Iya, sore itu, ketika tetiba aku nekat hanya karena ingin menyendiri dan berseru pada langit, aku ingin melepas semua penat. Kamu bekerjasama dengan sangat baik. Aku bisa sampai ke puncak, dan kembali turun, bersamamu. Dengan senyumku yang enggan berlalu.

Ah, tak ada yang bisa mengerti aku sepertimu. Kamu, memang seolah bisu, tapi betapa aku tahu, kamu membuatku mengerti, bahwa setiap perjalanan akan membawa makna, yang memang tak bisa ditebak ujungnya. Asalkan kita menghargai perjalanan itu, pasti kita menemukan sesuatu yang bisa menenangkan diri kita. Iya, seperti kamu dan aku, yang selalu kembali pulang ke rumah, setelah pergi me
njelajah... :)




Ah, Thole,
Setahun aku tak berjibaku dengan jalanan bersamamu. apa kabarmu sekarang?
Kamu, motor kesayangan yang pertama aku punya. Dan, sangat setia.
Maaf ya, kalau di 14 Februari 2008 itu, aku membuatmu sakit dan sedikit remuk. Mungkin aku kurang berhati-hati. Hingga aku nyaris kehilangan gigi... T_T


Semoga, lain kali kita bisa bertemu lagi. Baik-baiklah kamu disana, karena aku tak mungkin mengajakmu kemari. Semoga, adik bungsuku, bisa menyayangi kamu, dan selalu baik-baik merawatmu.

Thole, hanya motor sederhana yang selalu menemaniku menjejak langkah-langkah menuju semua impian indahku, untuk masa depanku. Hingga aku sampai di tempat ini, sendiri.
Terima kasih Thole...
Kamu... sungguh istimewa.... :)


cerita untuk masa lalu. . .

kejadiannya sekitar awal tahun 2010, sudah dua tahun yang lalu..tapi aku masih saja ingat setiap jengkal cerita antara aku dan kamu..seperti baru kemarin saja aku melaluinya, padahal tidak. Aku menyimpan cerita itu begitu rapi, sampai-sampai aku tak mau merusaknya begitu saja..


Aku mengenalmu sudah sejak lama, sejak kita sama-sama menginjakkan kaki di tempat yang mengubah seragam putih-biru menjadi berwarna abu-abu. Aku dan kamu memang tak pernah saling menyapa waktu itu, apalagi untuk saling tahu. Aku sibuk dengan duniaku sendiri dan kamu juga sibuk dengan duniamu sendiri. Padahal kelas kita bersebelahan. Jujur, sikap arogan yang terlihat jelas dari wajahmulah yang selalu membuatku malas untuk mengenalimu, berbeda saat aku ingin berkenalan dengan teman dekatmu. Sampai pada akhirnya, aku tahu siapa namamu karena kita, ya kita, sama-sama diberi beban untuk bekerja di organisasi sekolah.


Hari, bulan serta tahunpun berganti.Sudah hampir satu tahun kita masuk dalam organisasi yang sama, itupun juga kita sama sekali bersikap masa bodoh. Untuk apa aku harus dekat denganmu ? begitu pikiranku saat itu. Dan semua berubah ketika kita sama-sama mulai menginjakkan kaki di jenjang paling akhir di sekolah, ya..saat kita mulai duduk di kelas tiga. Aku masih ingat, pagi itu saat pembagian hasil ujian semester satu kamu mendapat nilai yang sama sekali tak pernah aku duga. Mungkin teman-temanmu juga punya pemikiran yang sama denganku. Entah karena aku kagum atau apa, yang jelas mulai detik itu aku mulai merubah cara penilaianku tentangmu. Dulu memang aku sempat meremehkanmu, tapi tak pernah sedikitpun aku menunjukkan sikap seperti itu. Aku ingin menjaga perasaan orang lain saja. Tidak lebih.


Setelah kejadian di Senin pagi itu, aku mulai ingin mencari tahu lebih banyak siapa kamu. Aku ingin tahu semuanya, untuk apa ? Sederhana, karena aku diam-diam jatuh cinta pada wajah aroganmu itu. Kamu benar-benar membuatku penasaran. Caramu berbicara, caramu tersenyum dengan teman-temanmu membuatku semakin ingin tahu. Memaksaku menjadi detektif amatiran yang sedang menyelidiki suatu kasus. Usahaku untuk mencari tahu pun sedikit demi sedikit membuahkan hasil. Hei, apakah kamu tahu..saat pertama kali aku mendapatkan nomor teleponmu, aku seperti anak kecil yang mendapat hadiah permen yang bahagianya minta ampun. Berlebihan ? menurutku tidak, karena memang seperti itulah yang saat itu aku rasakan.


Aku masih ingat ketika aku membuka percakapan melalui pesan singkat yang aku kirim sekitar jama delapan malam. Satu pertanyaan yang memang sebenarnya aku bisa mencari tahu sendiri jawabannya. Tapi tak apalah, saat itu terpaksa aku berubah menjadi "bodoh" dengan menanyakan hal itu terhadapmu. Reaksimu apa? Melalui pesan singkat darimu aku bisa langsung menilai kalau kamu masih dengan sifat aroganmu itu. Tidak, aku bukannya kapok untuk berhenti mencari tahu lagi soal dirimu. Semakin kamu arogan terhadapku, semakin besar pula rasa penasaranku..


Dengan segala upaya yang aku lakukan untuk menarik perhatianmu, semula kamu yang (mungkin) tak pernah menganggap aku ada, kini kamu mulai menyadari kehadiranku dalam duniamu. Kamu mulai bisa membalas senyum dariku, kamu mulai bisa untuk tersenyum dan bahkan menyapaku terlebih dahulu. Ah, saat seperti itulah yang sampai sekarang membuat aku benar-benar merindukanmu. Dan aku masih ingat, pertama kali kita dekat, begitu dekat. Adalah saat kita ada di dalam ruang komputer. Kamu duduk disampingku, sambil melihat dengan serius apa yang sedang aku kerjakan. Aku pura-pura konsentrasi, pura-pura tak mengacuhkanmu dan pura-pura sibuk dengan apa yang saat itu tengah aku kerjakan. Padahal tidak, aku berusaha keras untuk menyembunyikan perasaan bahagiaku saat itu. Aku berusaha keras untuk memperlambat detak jantungku dan berharap kamu tidak mendengarnya sama sekali, degupan jantung seperti orang yang sedang lari ketakutan.


Terlalu asyik denganmu, sampai-sampai aku lupa menanyai diriku sendiri, aku ini kenapa? Ya, dengan segala sifat dan perilaku ku yang berubah saat itu semua juga sudah tahu kalau aku memang sedang jatuh cinta. Tapi bukan itu yang aku tanya. Aku ini kenapa? Aku mencintainya karena apa ? Karena arogannya, karena pikirannya yang realistis atau karena yang lain ? Dan memang aku tidak pernah menemukan jawaban atas pertanyaanku itu sendiri. Tidak ada alasan, tidak ada faktor apapun. Pernah aku ditanya salah seorang temanku, "kok bisa kamu suka sama dia? Nggak ada cowok lain gitu?" Aku hanya tersenyum, tersenyum dan tersenyum. "Aku juga nggak tahu..."


Semakin hari kita semakin dekat. Dekat sekali. Walaupun sesekali kita duduk bersama, tapi itu sudah cukup membuatku tersenyum senang. Melihat caramu berjalan, berlari, tertawa, tersenyum bahkan caramu melihatku masih aku ingat hingga saat ini. Diam-diam aku mengagumi caramu tersenyum. Misterius. Tatapan matamu itu juga pernah menyita seluruh perhatianku. Karena seringnya kita duduk berdua, samapi-sampai ada yang bilang kalau kita pacaran. Hmm, kamu hanya tersenyum menaggapi berita itu. Sangat berbeda jauh dengan apa yang aku lakukan. Aku berusaha menyakinkan mereka bahawa di antara kita memang tidak ada apa-apa. Padahal, hatiku berteriak kalau aku memang ingin hubungan kita terjadi seperti apa yang mereka katakan. Tapi rasanya tidak mungkin. Aku siapa dan kamu siapa. Aku tahu itu. Tapi benar, ada satu kejadian yang membuatku cemburu, ya cemburu. Saat kamu pergi ke sekolah dengan perempuan yang dulu pernah menjadi musuhku, yang kebetulan saat itu dia menjadi teman sekelaku. Berantakan. Seharian itu aku tidak menaruh konsentrasi pada pelajaran. Tindakan bodoh, bukan? Tapi itulah kenyataanya. Dan itu terjadi sebanyak dua kali. Dua kali ? Ya, tapi itu sudah cukup membuatku menangis di depan teman dekatku.


Hinnga sampailah kita mulai sibuk dengan ujian akhir. Kita sama-sama sibuk, sama-sama serius dan sama-sama melupakan kedekatan kita selama ini. Mungkin kamu dengan mudah untuk menghapus sejenak ceita kita selama empat bulan itu, tapi tidak denganku. Aku berusaha mati-matian untuk sebentar saja melupakanmu. Mati-matian. Semakin aku paksa semakin sulit rasanya.


Terlepas dari banyaknya ujian-ujian yang menyita perhatian kita, entah kenapa kamu mulai menjauhiku. Semula kamu selalu tersenyum begitu melihatku, kini senyum itu hilang seketika. Kamu malah membuang wajahmu, seolah-olah tak ingin melihatku lagi. Semula kita suka duduk bersama, kini kamu mulai menghindar ketika aku mendekatimu. Semula kamu suka melemparkan lelucon yang sanggup membuatku tertawa, kini kamu mulai bersikap dingin terhadapku. Sifat aroganmu kembali, sama seperti pertama kali aku melihatmu disini. Kamu kenapa? Aku salah apa?


Susah payah aku berusaha untuk dapat berdua denganmu lagi. Dan siang itu, sebelum kamu melakukan aktivitas kesukaanmu, kamu memberiku kesempatan untuk dapat duduk bersama lagi. Kamu kenapa? Kenapa menjauhiku? Aku salah apa?
Masih dengan senyuman itu, kamu hanya menjawab "Tidak ada apa-apa"
Dan semua pertanyaanku mengenai perubahan sifatmu yang mencolok akhir-akhir ini di siang itu hanya kamu jawab dengan senyum, senyum dan senyum. Aku ingin marah, tapi sulit. Mungkin kamu merasa bersalah denganku selama ini, akhirnya kamu mengurungkan niatmu untuk pergi bersama teman-temanmu. Dan kita pun kembali seperti dulu, kembali dekat. Kembali menyatukan cerita kita yang sempat terhenti sejenak.


Sampai suatu saat, pagi itu kamu datang dengan wajah yang gembira. Ada apa? Aku penasaran dengan raut wajahmu seperti itu yang pernah hilang sesaat dari hadapanku. Usut punya usut, ternyata kamu akan pergi. Pergi sangat jauh meninggalkan teman-temanmu, meninggalkan aku, meninggalkan cerita kita yang belum selesai.

Tak ada satu patahpun kata yang keluar dari bibirmu itu untukku. Kamu hanya sempat berbincang sejenak dengan segelintir teman-teman dekatmu, itu saja. Kamu tidak menghampiriku, malah justru buru-buru pergi ketika melihat aku bergegas mendekatimu. Kenapa? Dan berita yang aku dengar esok harinya kamu akan pergi. Jauh. Aku hanya diam, hanya termangu di tempatku berdiri waktu itu. Mimpiku menjadi kenyataan. Ya, aku pernah bermimpi bahwa kamu akan meninggalkanku. Dan itu, benar-benar terjadi.

Pulang, aku menangis. Aku menangis sepuasnya. Sampai mataku bengkak tak karuan. Teman dekatku juga membiarkan aku untuk menangis, sepuasnya, sebanyak yang aku mau, secapeknya aku..
Ditinggal seseorang tanpa satu kepastian itu sakit. Itulah yang aku rasakan. Padahal kita begitu dekat. Aku, kamu, kita. Begitu dekat.

Entahlah, aku tak tahu apa yang saat itu ada di pikiranmu. Mungkin kamu tak ingin menyakiti perasaanku saja. Tapi tidak begitu caranya.

Sudah dua tahun peristiwa itu terjadi. Sudah selama itu pula aku tak tahu bagaimana keadaanmu disana. Mungkin, entah kapan kamu membaca tulisanku ini, kita sudah berlainan. Sudah hidup di dunia masing-masing.
Kini aku mulai bisa melepasmu, mulai bisa untuk menerima kenyataan yang aku hadapi. Aku sudah bisa tersenyum tanpa kamu dan kamu juga sudah menemukan orang lain yang lebih baik dariku, perempuan yang sudah kamu beri kepastian hingga sekarang..


terima kasih atas cerita kemarin..
terima kasih atas senyum yang pernah kamu berikan untukku walaupun hanya untuk sesaat..
ini hanya sepotong cerita dua tahun yang lalu, dimana aku mengenali duniamu dan kamu mengenali duniaku..


tidak usah protes, karena inilah kenyataan yang memang pernah aku alami. Setiap manusia, sekeras apapun hatinya, sesombongnya apa pun dia..pasti akan tersentuh hatinya karena cinta..
ya cinta, satu kata yang bisa merubah segalanya..




Indahnya Hujan

Hujanku..

Taukah kamu aku sangat mencintai setiap rintikan sentuhan air yang kau beri.. Apalagi ketika biasan sehabis kau datang.. Sebuah biasan di awan yang indah.. warna-warni yang melengkung, berupa perosotan bidadari setiap aku melihat pelangi, teringat dongeng masa kecil dulu yang selalu melekat di fikiranku..

Hujan.. Sangat bersyukur bagiku ketika kau datang selalu tanganku terangkat dan terucap doa di bibirku karena yang aku tahu di dalam agamaku saat kau turun, rahmat dan rizky Sang Pencipta sangan dekat dan pintu doa terbuka luas..

Hujan.. Tak lupa ketika kau turun, selalu terlintas di fikiranku tentang Papa. Aku ingin kau menjaga Papa, agar terlindung dari rintik deras hujanmu.. Kamu pun mengingatkanku akan Almh. Mama yang selalu melentingkan tawa merdunya karena bermain air hujanmu di perkarangan rumah.. Dan itu membuatku selalu teringat akan manusia suci yang akan selalu kusayang seumur hidup walau beliau sudah tak lagi menemaniku bernyanyi saat hujanmu membasahi bumi..

Hujan.. kamu mengajarkanku akan sebuah keikhlasan dan merelakan yang telah bukan menjadi milikku.. Pria yang sudah bahagia membangun sebuah rumah tangga bersama wanita lain. Karena setelah hujanmu turun, taman depan rumahku berpesta kesegaran karena air yang kamu turunkan dan melengkungkan sebuah senyuman di pelangi indahmu. Aku yakin, semua menandakan indah pada waktunya..

Hujan.. Terimakasih sudah membahagiakan para petani di luar sana. Karena sawah mereka telah subur karenamu..

Terimakasih hujan akan segalanya..

Pencinta Hujanmu,
Cinta


Adikku, Sahabatku

Dear Adikku sekaligus Sahabatku,

Hey pitet,

Entah sudah berapa peristiwa penting dalam hidupmu yang kulewati? Rasanya waktu senang sekali mencuri segala kebersamaan kita. Membiarkan kita tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Mungkin kelak saat kita bertemu, aku akan kamu hadiahi seorang keponakan kecil yang lucu dan cantik yang baru saja kau lahirkan.

Oh, sungguh aku ingin melihat hari dimana kontak lens tak lagi bersarang dimatamu dan hilangnya pelentik bulu matamu yang tebal itu. Atau mungkin kamu masih ingin memakainya juga saat dalam ruang bersalin ? Hahaha….. Membayangkannya saja sudah membuat sakit perutku.

So…., kapan dong seorang pitet menjatuhkan pilihan kepada lelaki yang kelak akan memberimu anak-anak yang lucu itu?

Kadang bermain-main dengan perasaan itu memang menyenangkan, tapi kadang juga bisa membuat kita lalai pada tujuan hidup kita loh… * cuma nasihat seorang kakak sih…. hihihihi

*

Sebagai seorang kakak dan sahabat, hanya tak ingin lagi melihat dirimu menangis demi hati yang patah. Sungguh, airmata kesedihan dan penyesalan tidaklah pantas mengalir dari mata sendu mu, pitet sayang…..

Lihat, parasmu cantik dan tuturmu halus. Dan seseorang yang kelak menjadi ayah dari anak-anakmu, saat ini sedang menunggumu di luar sana. Cepat datang dan hampiri dia, jangan biarkan waktu merubah kekuatan cintanya……

Keep fighting for your life, dear….

love
yayan


dikirim oleh @ya2nmaRyana untuk @v3_yunita di http://ya2nmaryana.tumblr.com/post/16162609916/adikku-sahabatku