19 January 2012

Tuan yang Tidak Boleh Dirindukan (2)

Dear Tuan yang tidak boleh dirindukan..

Cuma jarak sehari, setelah surat senin kemarin, saya (lagi-lagi) rindu.

Ya, ya, ya... Inikan tidak boleh, bahkan kamu saja tidak tahu.
Saat seperti ini, saya jadi teringat kejadian-kejadian lalu, namanya juga kenangan.
Kejadian yang tidak pernah saya hiraukan, tiba-tiba berputar.
Tiba-tiba ingat tempat yang pernah dikunjungi bersama, tiba-tiba ingat kata-kata yang sering diucapkan.
Tiba-tiba baca segala arsip percakapan dunia maya.
Sekarang memang waktunya melangkah masing-masing, berbicara kala ada perlu.
Iya saya tau, dari dulu harusnya beginikan?
Harusnya jangan terlalu larut dalam tawa, karena kehilangan perlahan akan menyisipkan duka.
Saya menyadari dari dulu, tapi ego tetap saja membutakan mata.
Mungkin saya hanya merindukan sosokmu yang membahagiakan, yang membuat saya tertawa hingga mengeluarkan air mata..
Ketawa sampai menangis.
Nanti, pura-pura tidak merasa surat ini buat kamu ya, kalau suatu hari kamu mampir kesini, dan membacanya..
Pura-pura tidak tahu lebih baik, supaya saya bisa mematuhi untuk tidak merindukanmu.

Ah yasudah, saya lega sekarang.


With love,


Philida Thea


oleh: @superluckyphili
diambil dari: http://philiandtheluckytheory.blogspot.com 

Halo, Ibu Penyapu Jalan

Teruntuk ibu penyapu jalan dari dinas kebersihan kota Medan.
Di tempat yang membuat dia dikenal sbg “pahlawan lingkungan”
Hai ibu. Ehm, aku lupa nama mu siapa. Yang pasti 3 tahun sudah aku mendapatimu mengemban tugas mulia ini.
Jujur, terkadang aku merasa jengah dengan tatapan sinis dari mereka yang menganggapmu amis.
Ingin sekali rasanya aku berteriak, “mata kau itu, kawan!” Tapi apa daya, aku jg tidak pernah ingin menodai pagiku yang hangat krn melihat perjuanganmu membuat kotaku bersahabat.
Ibu, peluh yang bercucuran di tubuhmu adalah sesuatu yang tak senilai dengan upah yg kau dapatkan dari pemerintah ini.
Tp itu pun tidak pernah mengurangi rasa sayangmu terhadap pekerjaan, terutama kota ini.
Ibu, terimakasih sudah menunjukkan dengan jelas bagaimana itu mencintai dengan utuh.
Keluargamu, Pekerjaanmu, dan kota ini kuyakini sudah kau dekap erat disetiap harinya.
Aku sematkan rasa banggaku padamu, bu. Selalu.
Tetap sehat ya. Dan tetap tersenyum pada matahari pagi yang menjadi saksi pertemuan kita 3 tahun yang lalu.
Kelak, saat aku mengunjungi pusat kota lagi, aku janji akan memotretmu lagi.
Tuhan memberkatimu, ibu.
Salam hormat, peluk hangat, kecup sayang, dari anak yg kau panggil: butet

oleh: @siitiikaa
diambil dari: http://tikazefanya.tumblr.com

Untuk Goldie, Dari Bebek Terkaya di Dunia

Hai Goldie, apa kabar? Apa kabar pula Yukon? Tempat kita dulu pertama kali bertemu. Musim dinginnya masihkah begitu menusuk? Dan musim seminya apakah semakin indah? Kita tidak tahu lagi bukan? Entah dimana kita sekarang. Entah di mana kau sekarang…
Kau ingat saat pertama kali bertemu? Kau begitu cantik dan sombong. Aku hanyalah seorang miskin pemarah yang datang mencari emas dari Glasgow. Hmph, miskin pemarah. Kita begitu menyebalkan, muda dan menyebalkan. Kurasa jika kita bertemu, masih akan seperti itu.
Aku terlalu sibuk untuk memikirkan cinta, ada tambang emas menanti di balik gunung. Hanya itu yang dipikiranku. Apa kau mencemoohku Goldie? Bersama dengan orang-orang di kota, apa kau juga ikut menyebutku sebagai bebek pemimpi? Aku tak peduli dengan mereka Goldie. Aku juga tak peduli dengan apa yang kau pikirkan. Kau begitu cantik dan sombong, akupun begitu. Kita begitu menyebalkan.
Kekayaan, hanya itu yang ada dipikiranku Goldie, karena aku tahu keluargaku di Glasgow hidup sulit, hanya aku anak laki-laki mereka. Aku sangat sayang pada ayah, ibu dan adik-adikku. Aku tidak boleh pergi membawa harapan mereka dan kemudian hanya kembali dengan membawa kisah-kisah gagal dan pakaian usang. Ambisi memenuhi kepalaku, Goldie. Aku harus kaya dan sukses. Aku juga harus membuktikan dengan pencemooh di kota, bahwa aku mampu mendapatkan tambang emas itu. Mereka hanyalah sekumpulan pemalas yang omong besar, masih sempat-sempatnya saja mengata-ngataiku setiap ada waktu luang. Lebih baik mereka bekerja daripada kerjanya cuma minum-minum di bar milikmu! Bah! Pantas saja mereka miskin!
Ah, aku marah-marah bahkan dalam surat.
Aku hanya sedikit memikirkanmu Goldie.
Tapi kau begitu menyebalkan. Karena itu, mungkin secara tak sadar, aku menginginkanmu. Ingin menaklukkan kesombonganmu itu karena itu sangat menggangguku. Tapi semua itu kudorong jauh-jauh ke belakang pikiranku.
Ada hal yang lebih penting Goldie. Kurasa kaupun setuju. Atau kalau boleh kuperjelas, topeng sombongmu itupun setuju. Aku takkan melukai perasaanmu dengan mengatakan kau menganggap aku begitu penting karena pasti itu akan membuatmu terhina. Aku sendiri, juga memikirkan hal yang sama. Kau bukanlah apa-apa bagiku Goldie. Dan aku bukan apa-apa bagimu. Cukuplah begitu.
Dan sekarang lihat apa yang terjadi pada kita. Aku disini, di Kota Bebek, sebuah nama yang aneh andai saja kau bisa melihat bahwa penghuninya lebih banyak anjing, dan hanya ada dua keluarga bebek. Aku duduk dalam gudang uangku yang berbentuk persegi, diatas bukit yang paling tinggi di kota ini. Sendirian, di ruang kerjaku, bukannya menghasilkan uang, tetapi menulis sebuah surat yang tak tahu ke mana harus kukirimkan. Tidakkah itu membung-buang waktu? Waktu adalah emas Goldie, tapi kerinduanku pada rambutmu yang keemasan membuatku merelakan emas-emas yang lain yang mungkin bisa kudapatkan. Kerinduan ini sudah teramat sangat, terlalu lama kusimpan, terlalu lama aku dorong ke belakang karena aku begitu menyayangi waktu-waktu berhargaku. Tapi kali ini pertahananku runtuh.
Kau menghilang Goldie, dan aku tak bisa menemukanmu lagi. Kebakaran malam itu tetap tak bisa meruntuhkan kesombongan kita berdua, sampai akhirnya kita terpisah seperti ini, sebelum bisa saling mengatakan apa-apa.
Apa kau masi hidup, di negri antah berantah sana? Apa kau masih bekerja di bar dan membuat bebek-bebek lain tergoda dengan kecantikanmu. Aku tak yakin kau sudah menikah, karena bebek mana yang bisa menaklukkan hatimu yang sekeras batu? Aku harap kau tidak hidup sendirian, dimanapun kau berada. Karena aku disini memiliki keponakan yang sangat menyenangkan, walaupun salah satunya sangat bodoh dan pemalas, tapi aku punya keluarga yang menakjubkan disini, teman saat berpetualang di penghujung umurku yang mungkin sudah tidak akan lama lagi.
Atau kau mungkin sudah berpindah ke sisi yang lain? Jika ya, aku minta maaf karena kau harus menunggu lebih lama lagi untuk mulai mencemoohku. Aku sudah sukses sekarang Goldie, jauh lebih kaya daripada saat aku masih penambang emas (bahkan saat itu kaus sudah berniat untuk mencuri dariku). Tapi jika aku mengingatmu, maka yang terlintas dibenakku adalah sebuah kenangan atas kegagalan yang paling aku cintai.
Kurasa harus sudah kuakhiri suratku ini, Goldie. Tiap detik yang kubuang adalah detik-detik penghujung dari orang tua yang masih haus petualangan. Kau mengenalku, dan kurasa kau akan lebih suka jika aku menghabiskan waktu dalam bahaya dan kerumitan bisnis daripada duduk di sini, seperti pemalas yang menuliskan surat yang jika diteruskan, takkan ada habisnya. Kurasa, diriku yang itulah yang membuatmu jatuh cinta padaku.
Dan diakhir surat, aku membuatmu kesal. Aku ingin melihat dan mendengar kekesalanmu. Dan supaya kau tahu, aku juga kesal untuk menuliskan, aku juga mencintaimu untuk kesombonganmu.
Dari seekor bebek yang takkan pernah berhenti bertualang mencari kekayaan
Gober

oleh: @sauqina
diambil dari: http://sauqina.tumblr.com

Semuanya Akan Baik-Baik Saja

Teruntuk temanku yang sedang dilanda bimbang…

Entah karena apa, setelah mendengar ceritamu tadi malam, aku jadi berpikir macam-macam.
Cerita mu membuat aku terenyuh. Seketika pikiran negatif datang dari segala penjuru seperti angin yang mencoba menyampaikan kalau badai itu sebentar lagi akan datang.
Badai itu seperti sedang menunggu waktu yang tepat untuk menyeretmu ke kutub kepedihan. ah, mungkin ini hanya kekhawatiranku saja. kekhawatiran yang sebenarnya tidak perlu menjelma menjadi kerikil dalam pikiranku. Tidak perlu terjadi dan aku yakin hal itu tak akan terjadi.
Entah, aku hanya merasa tidak mau melihatmu bersedih. Aku tidak mau melihat teman terbaikku disakiti. Terlebih karena kamu sedang beranjak dari suatu zona yang nyaman menuju zona yang sebelumnya belum pernah kamu tinggali. Seperti burung kecil yang mulai dilepas induknya ke alam bebas, di mana banyak sekali pemangsa-pemangsa lapar yang menunggu kehadiranmu.
Mungkin karena aku tahu bahwa kamu begitu berat untuk memijakkan kakimu bahkan jiwamu di tempat itu. Entah kenapa, tiba-tiba hati kecilku ini seperti membisikkan sesuatu hal yang akan terjadi jika badai itu benar-benar datang. Aku membayangkan betapa bertambah berat hari-hari yang kamu jalani jika itu benar akan menghampirimu.
Aku hanya takut, apa yang sedang beputar di kepalamu itu akan menjelma menjadi ombak besar yang menghantam hati kecilmu.  Namun, semoga saja, semua yang sedang bergemuruh di masing-masing pikiran kita hanya akan menjelma menjadi debu yang tertiup angin. semoga. 
Pesanku, sebaiknya kamu tidak meluangkan dan membiarkan pikiran jernihmu menjelma menjadi hantu terseram yang mengikuti setiap langkahmu di sana. Yakinlah, semuanya akan baik baik saja. Kamu juga jangan takut dan merasa kalau angin itu benar-benar akan mnyeretmu. Tidak, percayalah semua akan baik-baik saja jika kamu tetap memupuk pikiran mu dengan angin-angin kesejukan.
Begitu juga, diriku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu dan segala sesuatu yang menemani langkahmu adalah kebahagiaan untukmu. Jadi tetap tersenyum dan percaya pada kekasihmu itu.
Maaf, kalau semua yang aku katakan semalam atau sekarang dalam tulisan ini tidak membuatmu lebih baik dan tenang. Aku memang tidak pandai menghibur teman-temanku yang sedang dilanda bimbang.

Temanmu, Qushoy.

#5 Mi Manchi

to: @cutisyana

Isyana, come stai?
ahh sok2an gini gw pake bahasa itali. *ngok* nyanyaaaa aku kangeeeeennn!!!! tau ga kenapa tiba2 kepikiran gini? kan tadi gw balik ngegym jam 6-an gitu. gw naik angkot spt biasa tuh. duduk didepan samping pak supir, tempat favorit gw klo ngangkot. haha terus gw bengong. kenapa gw bengong? biasanya jam2 sgitu pas lo masi kerja, kita lg bbman heboh nanya udah dimana, ato lagi lari2 menuju studio bioskop soalnya filmnya udah mau mulai, ato ya… palingan kita lagi duduk2 sore sambil makan ples gosip ples lo ngasi jatah snack buat gw. nyummmm…..
terus ya udah deh… udah brp lama ya nya kita ga ktemu? trakhir kan ktemu di ambas, nemenin lo nyari baju renang. hihihi udah dapet blm tuh baju renang muslim tapi ga pake motif ngejreng? *bongkarrahasia* *ditoyor* tadinya sih pgn ikt nganterin, cm kan gw udah blg, gw takut nangis di bandara! haha! *alesan* *ditoyor* *lagi*
nyanya… inget ga ptama kali kita kenal di DJ Arie? sekelas. pas ngobrol2 ternyata kita sekampus dan ealah ndalah sekosan! tapi ga noticed ya.. secara gw tuh maba, lo kan senior gw.:p terus ya terus… kita bbrp kali jadi partner siaran bareng. lo suka minta lagu sama gw. gw masi inget tuh, gw dulu mau masuk Jurnal, eh pas lo lagi osjur gw main ke kamar lo, lo cerita deh tuh segala macem ttg mankom. iya akhirnya gw pun masuk mankom. -_-” tapi itu keputusan yg ga pernah gw sesalin slama kuliah kok. malah bersyukur banget. *nyengir* pas gw udah masuk mankom, lo lagi heboh2nya jadi anak CTC(Communication Training and Consulting). secara kita sekosan dan sering saling mengunjungi antar kamar, gw jadi tau deh tuh idup lo pas awal2 di CTC kyk gimana. brangkat pagi, pulang ke kosan udah sore kadang malem gegara presentasi. lo ampe kurus. haha lo cerita ina inu ttg CTC, dan lagi2 gw tertarik, di taun ke tiga gw pun ikut milih konsentrasi CTC jg. apa2 gw selalu berpatokan sama lo. diskusi sama lo. sampe pas gw bikin skripsi (pembimbing2 gw pun lo yg rekomenin! sehingga dosen pembimbing kita sama! haha!), tiap mau bimbingan gw ym-in lo dulu. padahal lo waktu itu udah kerja. masi sempet2nya ngeluangin waktu jadi pembimbing bayangan gw. *bearhugs*
nyanyaa….
inget ga si gw sering nangkring di kamar lo, ato lo nangkring di kamar gw, buat ngomongin kecengan2 kita yg segambreng? (oh oke salah. kecengan gw yg segambreng) tapi gw masi inget kok story lo yg mana aja. hihihi ya masa gw beberin disinih? hah? *derama*ehh terus gw pindah kosan deh… ga bisa saling ngetok kamar lagi, lo ga bisa lari2 ke kamar gw dengan krudungan pake anduk biar ga kliatan mang botak! :p
nya… tau ga, pas kita ketemuan waktu itu, lo bilang sama gw lo keterima dapet S2 ke Itali, it was feel like WHOAAAAAA!! tapi karna lo ngasi tau-nya ke gw dgn nada flat, jadi respon gw flat jg. *straightface* *anakaneh*. antara ngiri*yaiyalah siapa yg ga mau kesana cobak*, tapi lebih ke seneeeenggg bangetttttt… lo tuh yg berulang kali bilang ke gw, ampe nulis2 di status bbm “gw pengen sekolah di eropa bon! pengen ke eropa!” mimpi lo jadi kenyataan,nya… gw jd saksi salah satu impian besar lo jadi kenyataan.. :’) dan ya skrg gini deh kita. LDR-an. *tsahhh* *cuh* Awal2 lo nyampe Itali, gw bilang sama lo ga mau bbm-an. maunya e-mail2an biar berasa beneran lo tuh lagi jauh. klo bbm-an berasa lo masi satu kota sama gw. haha
Nya… ini kali yg namanya takdir Tuhan.. Tuhan selalu nyiapin yg terbaik buat hamba-Nya. pas kuliah lo pernah cerita ke gw betapa kecewanya lo ga lolos masuk kedokteran, malah nyangsang di Fikom. jauh bet jauuhhh emang -___-” tapi ternyata di Fikom lo malah bersinar, prestasi lo ina inu, lebih ke bidang akademik sih ya. karna lo rajin. banget. ples tekun dan emang udah darisononya pinter. lulus kuliah dengan nilai oke, eh lo keterima kerja di tempat yg oke dengan posisi yg oke pula. setelah lo kerja staun lebih dannn jeng jeng… Allah ngasi rencana terbaik buat lo yg lain. lo dikasi beasiswa kan… belum tentu klo lo ktrima di FK lo bisa kyk gini… Alhamdulillah…
ternyata kalo dipikir2, kita tu bener2 deket dri pas gw tingkat 1. konstan ampe sekarang! which is udah hampir 6 taun ya? 5,5 taun deh. ga berasa.. hehe temen curhat2, temen gosip, temen sharing. kadang lo yg bawelin gw, ato gw yg bawelin lo. :p makasih ya Cut Isyana Fadhila udah tahan sama gw yg suka rewel, males, galau, rempong sendiri, ngomongnya banyak, labil, suka susah dibilangin dll dll
kamu baik2 yah nyanyaaa disana. i know there’s something happened with you several times ago. tp lo blm cerita. udah membaik kali yah.. hihi
prendersi cura sempre lì, Isyana.. semangat ujiannya! harus semaksimal pas kuliah dulu yaa.. ntar klo lo udah balik ke Indonesia, lo mesti jadi guru privat bahasa Itali gw, ga pake bayaran! gw bayar pake cinta! Muah! :p
con amore,
Sonya Bonaire-@sonjabonaire

oleh: @sonjabonaire
diambil dari: http://beluire.wordpress.com/2012/01/17/2-mi-manchi/

Untuk Para Penarik Becak

Untuk para penarik becak,
Jika aku mempunyai hak memberikan penghargaan. Kalian akan kuberi sebagai pekerja super.
Ini mungkin bukan surat cinta, hanya penyampaian rasa simpati untuk mereka yang takkenal lelah. Banyak orang yang memiliki dua mata tapi hanya menggunakan salah satunya. Mereka tidak mengindahi anugerah dari-Nya, aku menyesalkan itu. Pandangan mereka terhadap pengayuh becak terlalu keliru. Ada bermacam sifat dari para penarik becak, aku tahu. Sering aku menggunakan jasa mereka dan menemukan beragam respon dari bapak-bapak itu. Dulu juga aku masih menggunakan satu mata untuk memandangi kalian, pencari nafkah untuk keluarga di rumah. Semoga kali ini aku telah menggunakan kedua mataku.
Sabtu lalu tepatnya, kisaran pukul sembilan pagi ketika itu Bogor tengah diguyur hujan yang awet sejak dini hari. Aku beserta ibu hendak pergi ke suatu tempat dan tempat yang kami tuju hanya dapat ditempuh oleh becak. Hujan kala kami baru turun dari angkot sudah menuju deras, para penarik becak menawarkan jasanya untuk mengantar kami. Ibu sempat bernegosiasi soal harga untuk jarak tempuh ke tempat tujuan kami, ibu yang selalu menawar selalu berhasil menaklukan penarik becak. Harga awal sepuluh ribu rupiah dan harga akhir adalah delapan ribu rupiah. Selisih dua ribu mungkin cukup bermakna untuknya.
Jok di becak itu ditarik si Abang becak sedikit ke depan agar pantat aku dan ibuku yang sama-sama besar muat untuk duduk, ia sangat sopan mempersilakan kami. Di tengah perjalanan tak terbayang beratnya ia mengayuh, di tengah hujan deras, jarak yang lumayan tidak dekat, dan bayaran yang telah dikurangi dua ribu rupiah. Aku agak mengkhawatirkan kondisinya, ia harus kuat menerjang arus lalu lintas yang ramai dengan menyeimbangkan usianya yang kuyakin tidak kurang dari setengah abad.
Pak, maaf yah kalau berat.
Aku membatin terus dalam hati. Antara tidak tega dan belum berani bilang pada ibuku untuk memberi lebih bayaran untuknya. Ibuku super, ia seperti mendengarnya.
”Kalau kita tadi nawar itu nggak apa-apa. Tetap dikasih sepuluh ribu saja, dua ribu tadi sebagai sedekah. Lagipula, lagi hujan. Kasian abangnya.”, ibuku memang seperti pembaca pikiran. Aku tersenyum dan segera merogoh kantong celanaku, mengeluarkan uang kertas sepuluh ribu rupiah.
Sesampai di tempat tujuan aku memberikan bayaran untuknya. Ia merogoh dompetnya, mencari satu lembar dua ribuan.
”Sebentar ya, Neng.”
”Gak usah, Bang.” Seketika terlihat air mukanya antara terkejut dan bahagia. Aku melempar senyum padanya.
Untuk beban di atas 100 kilo, untuk cuaca yang tidak bersahabat, untuk lalu lintas yang padat, untuk jarak tempuh, dan untuk usia yang kini senja. Sepuluh ribu rupiah bukan balasan yang seimbang, pak.
Aku merenung, mencoba menilik lebih jauh tentang para penarik becak.
Jam berapa kau bangun pak?
Sempatkah kau sarapan?
Tidakkah bapak kedinginan oleh hujan dengan menarik becak tanpa jas hujan?
Kuatkah bapak menarik becak dengan beban yang berat, sementara berat badanmu tidak lebih dari 60 kilogram?
Bagaimana jika satu hari bapak tidak mendapatkan penumpang? Bagaimana bapak makan?
Seberapa lama kau menunggu penumpang?
Jam berapa kau pulang ke rumah untuk memberi makan keluargamu?
dan masih banyak pertanyaan untukmu yang enggan kutanyakan.
Satu saat yang lain, ketika aku berjalan sendiri. Sepanjang trotoar bertengger banyak becak. Para penarik roda tiga itu ada yang tengah berbincang satu sama lain, di dalam becaknya sambil menunggu penumpang. Apa yang kalian bicarakan? Tentang keluarga kaliankah? Mengenai pekerjaan yang kalian gelutikah? Ada pula yang tertidur pulas, sambil menutup mukanya dengan handuk kumal. Mengapa bapak tidak menarik becak? Apakah bapak lelah? Jam berapa bapak tidur semalam? Dan yang paling kukagumi ialah penarik becak yang tetap mencari penumpang meskipun sedang sepi.
Menarik becak itu mulia. Semua pekerjaan itu mulia, kecuali yang penjual kemuliaan.
Aku tau mungkin tidak ada satu penarik becakpun yang membaca surat ini, tapi untukku mencurahkan rasa simpati kepada pencari nafkah seperti mereka sudah cukup. Aku hanya bisa membantu melalui doa untuk kalian. Sebagai pekerja keras, kalian telah memberikan pelajaran bagiku untuk tidak membuang uang sia-sia. Untuk sepuluh ribu rupiah saja, jasa kalian itu jauh di atas nilai rupiah.
Dari seorang penumpang becak.

oleh: @sebutmawar
diambil dari: http://mardatilla.wordpress.com

Tuan Dan Nyonya Mimpi

Kepada Tuan dan Nyonya,
Saya berhutang sebagian kebahagiaan masa kecil saya kepada tuan dan nyonya. Saat-saat kedua orang tua sedang tidak ada, dan teman-teman tidak bermain. Tuan dan nyonya hadir dalam kehidupan masa kecil saya dan mengajari saya banyak hal. Yang ternyata, hal-hal yang tuan dan nyonya ajarkan memberi saya contoh bagaimana menjadi anak yang baik, dan mungkin jadi orang dewasa yang baik.
Tuan dan nyonya mengajarkan saya kata ‘selesma’, yang saya tidak tahu itu apa dan hanya saya terjemahkan sebagai flu saja. Tuan dan nyonya menceritakan indahnya alam dan betapa menyenangkannya bermain-main di alam terbuka, yang berujung saya (dan sepeda saya) berendam di sawah, celana dan kaos yang kotor dengan tanah, banyak bekas luka di kaki dan tangan yang tersisa hingga saat ini. Pengingat masa kecil yang sedikit banyak menyenangkan.
Seandainya pun saya tidak keluar rumah, tuan dan nyonya memberikan saya kemampuan bermimpi mengenai negeri-negeri yang jauh, mahkluk-mahkluk negeri dongeng, dan makanan-makanan yang terdengar sangat lezat. Kue-kue, buah-buah, dan teman-teman yang menyenangkan dan baik, juga teman-teman yang menyebalkan dan nakal.
Berkhayal untuk bertualang, melihat alam bebas, melancong ke negeri-negeri yang baru, dan yang cukup nyata mendorong saya untuk aktif bersepeda. Bahkan mungkin, keinginan saya untuk pertama kali pergi ke Eropa. Angan-angan yang tuan dan nyonya gambarkan masih melekat sampai sekarang, dan beberapa nilai yang secara tidak langsung mempengaruhi saya. Mengapa saya sangat suka kucing adalah sedikit pengaruh dari tuan dan nyonya (serius!).
Kisah-kisah itu tuan dan nyonya, akan saya cari lagi dan saya berikan pada anak-anak saya nanti, karena saya tahu cerita itu bermanfaat. Tuan Hans Christian Andersen, tuan A.A. Milnes, tuan Roald Dahl, nyonya Enid Blyton, nyonya Astrid Anna Emilia Lindgren, juga tuan dan nyonya yang namanya tidak dikenal, cerita-cerita tuan dan nyonya banyak memberi saya wawasan dan mimpi.
Saya mencintai setiap cerita tuan dan nyonya yang sampai pada saya, dan siapapun yang mencintai saya secara tidak langsung mencintai mereka juga :)


oleh:
diambil dari: http://sulaimansujono.wordpress.com 

Untuk Pak Sastro, Penjual Lunpia Semarang Terenak Sedunia

Pak Sastro yang baik hati,
Assalamualaikum, pak.
Izinkan saya menuliskan secuil kekaguman saya akan Lunpia buatan bapak.
Bisa dibilang saya bukanlah penggemar oleh-oleh. Saya ini, sering mendapat oleh-oleh, atau mengoleh-olehi seseorang. Dan tahu kan, kebanyakan oleh-oleh itu pada akhirnya hanya berakhir pada sebatas formalitas dan rasa sungkan atas perasaan ‘masak pulang dari tempat jauh tidak memberi kenang-kenangan..’
Kalau oleh-olehnya makanan, ya akhirnya makanan itu berakhir di toples meja pembantu dan tetangga. Saya sendiri tidak berminat memakannya. Bosan, pak.
Tapi asal bapak tahu saja, cuma lunpia bapak yang selalu saya nanti dan saya harapkan adanya setiap berkunjung ke Semarang serta saya nantikan datangnya dari teman-teman saya yang ada di Semarang.
Bertemu bapak seperti layaknya bertemu jodoh. Tanpa sengaja. Tanpa perlu dicomblangkan siapa-siapa. Seperti Tuhan yang mempertemukan.
Harga lunpia bapak tergolong yang paling murah di antara sekian puluh gerobak lunpia di sepanjang jalan Pandanaran. Sebenarnya itu pertama kalinya saya membeli lunpia Semarang. Sekali lagi, saya menemukannya tidak atas rekomendasi siapa-siapa. I still thought that God do really want to meet us up :’)
Ternyata Lunpia bapak memang yang paling enak. Renyahnya pas. Kulitnya tebal dan gurih. Rebungnya manis, empuk, dengan telur mengelilingi setiap helainya. Membayangkannya saja sudah membuat saya ingin makan lagi. Padahal saya baru saja menghabiskan dua buah lunpia-mu malam ini, Pak Sastro.
Yang paling saya suka dari Bapak, adalah Bapak nggak pernah pelit memberi saya bonus daun bawang-merah muda kesukaan saya. Ketika penjual lunpia lain dengan pelit memberikannya, bahkan baru akan memberikan ketika diminta, bapak dengan senang hati memberikannya, banyak dan cuma-cuma! Ah! Saya sangat sayang pak Sastro. Pak Sastro seakan tahu kalau saya adalah penggemar berat daun bawang-merah muda.
Lunpia Pak Sastro adalah hadiah teromantis yang pernah saya terima dari siapapun. Lunpia pak Sastro mengiringi setiap sudut cerita saya, dengan sahabat saya, dengan pacar, dengan mantan pacar, dengan mantan gebetan, dengan siapapun. Lunpia pak Sastro adalah makanan yang enak dimakan ketika saya sedang senang, sedih, nangis, sakit, sehat marah, apalagi sambil bengong.
Pak Sastro, saya kirimkan surat ini untuk bapak karena saya tidak tahu lagi bagaimana harus mengungkapkan kekaguman akan Lunpia gorengan bapak. Apalagi setelah saya memberanikan diri  mengatakan bahwa cuma Lunpia bapak-lah yang selalu saya sambangi atau ketika saya me-request oleh-oleh ke teman saya di Semarang, bapak hanya senyum-senyum malu :’)
Semoga Pak pos @adimasimmanuel bisa menyampaikan surat ini. Atau kalau nggak bisa, Pak Pos harus menyempatkan beli Lunpia Semarang Pak Sastro di depan toko Bandeng Juwana. Pak Pos pasti ketagihan ;)

Tyraz
Penggemar Berat Pak Sastro, Pecinta Lunpia Semarang

oleh:

Surat Rindu Untuk Nonaku

Would you mind if I told you I loved you tonight..
Coz it seems when you close to me, it’s gonna be alright..
Kutulis surat ini sambil kudengarkan suara serak John West dari ponselku. Aku merindumu, Nona. Sudah lebih dari tujuh hari aku tak melihatmu secara langsung, dan pesanmu –yang selalu kutunggu– tak juga muncul di kotak pesan masuk.
Aku merindumu. Sungguh.
Tadi, aku sempat berjalan-jalan ke pusat kota. Awal bulan depan ulang tahunmu. Aku berencana membelikanmu sebuah hadiah. Bukan, bukan kalung berlian atau tas merk amat mahal itu. Mungkin hanya sebuah beruang Teddy yang nyaman kau peluk nantinya. Dibungkus dengan kain kasa berwarna ungu kesukaanmu, dengan pita besar warna merah jambu. Cukup manis kurasa. Ah, semoga kau suka.
Nona, aku juga sempat ke cafe langganan kita di ujung jalan. Sekedar menikmati suasana. Aku duduk di meja tempat kita biasa habiskan waktu di sini. Memesan dua jenis minuman, satu coklat panas untukmu dan satu kopi hitam untukku. Tahukah kamu, aku terkekeh saat mesin pemutar musik di cafe ini memutarkan lagu Me and Mrs Jones. Ini lagu kesukaan kita.
Di cafe ini juga aku melihat kekasihmu. Pria tampan yang biasanya klimis itu kini sedikit tampil lain. Ada kumis dan jambang berumur kira-kira dua hari diwajahnya. Entah kau makin suka atau malah menganggapnya dekil. Aku melihatnya sendirian, di tepi jendela. Ia tampak sibuk melihat orang yang berlalu lalang di luar, tapi lebih sering pandangannya kosong.
Aku sempat menanyakan kabarnya. Ia menjawab, ia sedang merindumu. Ah, sama juga sepertiku. Katanya, kau sibuk dengan kekasihmu yang lebih dulu memilikimu, setahun dua bulan lalu. Aku sempat tertegun menghitung jumlah bulan kebersamaan kita. Satu, dua, ah baru tiga bulan ternyata.
Melihat mata lelaki itu, rinduku kian menggebu. Dada ini terasa semakin sempit. Ada sesuatu yang memenuhi ruang di dalamnya.
Nona, kapan kau akan membalas pesanku? Berkali-kali kucoba menghubungimu, tapi tak pernah ada nada sambung di ujung sana. Tidakkah sedikit pun merinduku?
Tak terasa sudah hampir senja.  Aku ingin melanjutkan perjalanku, Nona. Aku ingin menikmati senja di taman kota, seperti ritual kita. Tapi kali ini tanpa genggaman tangan dan bau sampo bayi dari rambutmu.
Oh iya, sudahkah kuberi tahu di  mana aku bertemu kekasihmu di cafe itu? Aku bertemu dengannya di toilet. Cermin toilet, tepatnya. Tenang, tak ada yang tahu. Ini rahasia kami yang kuputuskan untuk memberitahumu –tentu seizin dia.
Nona aku merindumu. Entah berapa banyak kata rindu yang harus kutulis untukmu. Aku yakin sekali, rinduku tak kalah dengan rindu lelaki-setahun-dua-bulanmu itu.
Semoga kamu segera merinduku. Hubungi aku segera.

oleh:
diambil dari: http://kamarpodjok.wordpress.com

Underwater Sister

I found my happiness in water.
And I found my family while being underwater.

~ Martesia Klarissa

Dear Teh Cika,

If one day someone asked me, what was one of the things I am being grateful of. Passing through February in 2010 would be the answer. Why? Because God give us the chance to met. Through something we both like and we loved it so much.

Water and the gorgeous life beneath it!

It’s been (almost) 2 years ever since. And I am longing to experience another round of diving trip together with you. Anywhere would be great! Bunaken, Pulau Weh, Kakaban, or even better, Raja Ampat? (You know for sure this includes all of our diver buddies.) We should have a reunion!

To me, you’re such a warm-hearted person, humble, caring and very nice. There’s one thing I notice from you when I first met you, you really never leave the smile out of your face! You kept on smiling in every conversation we’re going through.

I am very lucky for knowing such a person like you. Having the opportunity to dive together, with you as my buddy. Most of all, for having you as my lovely sister.

Thank you for everything. The laughters, the stories, the experiences, the precious moments we’ve been through. I love you much, my dearest underwater sister.

Lots of love,
your little sister

P.S. : I think we really need a weekend gateway and go on a diving trip. ;)

—————————

Twitter : @cikacikaaaa



Oleh:

Diambil dari: http://flanelmerah.tumblr.com