25 January 2012

Variatio 11. a 2 Clav.


Untuk Amboina. Bukan kota, tapi rindu yang kadang menjamu nestapa.


Ikan bersisik emas di dalam kurungan capai beterbangan, angin malas, dan serat – serat asa telah tertidur pulas. Aku yang dengan penuh khusyuk mengingat – ingat dirimu dalam kotak beton, jadi nyaris tabir tangis, bersama remang lampu pendar menggantung hilang cadar, miris. Menebus belaian tiada sering, Aku berharap bahwa kata – kata bisa membasuh lebih baik dari ingatan yang kering.

Pada suatu masa, ada percaya: ingatan akan lebih tajam dari sentuhan. Seperti cengkram laut tangan – tangan buih yang kau kirimkan. Berdesakan sekumpulan pasir yang tak rundung patuh dijinakkan. Apa itu cinta jika tak cukup untuk diterbangkan  melewati nyiur bersama tajam karang bebatuan? Jangan sebut itu cinta jika asin garam laut tak terasa. Dan manusia – manusia kecil menelusuk masuk, mencabik kulit laut tiada binasa. Tanah hidup, disambut dua manusia. Lelaki dan perempuan melahap laut, sampai langit redup tiada masa tertaut. Di muka ari lautan, di jiwa sepi tenang bebatuan hutan. Dalam jiwa – jiwa pohon dan karang – karang terbenam kilauan.  Cinta mengalir dari tepi nyiur berdaun pala, sampai kekar pohon terlelap lama di rimba raya. Kerinduan merasuk, cinta erat jadi susuk.

Manusia – manusia pernah mati sembilan - sembilan. Beterbangan jiwa – jiwa, mengandung lahir baru singkat kurun, lebih kuat dari tetua dan darah merah marun, mengingat seikat turun temurun. Di laut ku tenggak sopi mayang, dahan cengkeh mengulum sirih – pinang. Di rumah bermandi sayang, di jalanan saudara tiada hilang. Jiwa bertepuk iring dentum tifa, cakalele lalu menyatu dua khalifa. Beda tiada, Kau mati, Aku pula.

Rumah adalah sauh, Kau bisa berlari sampai jauh. Tapi rindu memburu, membikin haru jadi biru, pilu dicacah sembilu.





oleh @MungareMike

diambil dari http://mungaremike.tumblr.com/

Depok, Kota Sejuta Peluk


(photo source: http://faldomaldini.wordpress.com)


Aku menulis surat ini di Depok, di tempat segala sesuatu tentang kita bermula.

Di kota yang penuh dengan rindangnya pohon, sebuah telaga buatan, dan jembatan merah yang menghubungkan kemesraan antara para filsafat yang belajar sastra dengan sekumpulan manusia yang berlogika.

Kota di mana harapan membuka dekapannya mengucap selamat datang, dan melambaikan tangan saat kita melepas cita-cita dengan khidmat. Aku yakin kamu masih ingat tentang gemuruh merdu nyanyian adik kelas kita, yang berpacu dengan isak tangis orangtua kita sendiri. Iya, saat itu kita terlalu bahagia, terlalu sibuk saling mengingatkan bahwa kita akan tetap terus berkirim kabar. Terlalu sibuk dengan keriangan berpose di depan kamera bersama teman-teman yang lain.

Sayangku, aku sedang mengenang kita di kota sejuta peluk. Kamu dengan tawamu yang berderai bahagia, dan aku yang terlanjur jatuh cinta pada bunyinya. Aku merindukan malam-malam saat aku mengantarmu ke pintu kosanmu. Pun makan siang yang kita bagi dua, sebab kiriman orangtuaku yang datang terlambat. Lalu kamu yang minta ditemani membuat setumpuk tugas di perpustakaan. Atau aku yang sengaja menunggu di depan ruang kelasmu, demi sebuah kata maaf karena absensiku di malam Minggu.

Hapus airmatamu, Sayang. Aku tahu suratku ini membuatmu haru. Percayalah bahwa jika saja tanganku sampai, aku pasti sedang asik membelai rambutmu yang hitam panjang. Kemudian aku merindukan gerutu dari bibirmu karena kesengajaanku mengacak-acak ponimu.

Depok, kota ini penuh dengan kumpulan kenangan, di mana setiap jejakmu dengan mudah ku temukan.
Kota dengan keabadian kisah kita di dalamnya. Dari saat kali pertama aku menginjakkan kaki, hingga hari terakhir saat aku menggenggam ijazah sarjana yang membuatku bangga.

Sayang, aku tahu kisah kita berakhir, namun aku juga tahu bahwa kisah mereka baru saja dimulai.




Depok,
Untuk semua kisah di dalamnya.





oleh @mmychaan

diambil dari http://mmychaan.blogspot.com/

Kamulah Yang Ternyaman!

Yang berhati nyaman,
tak bosan - bosannya aku menyapamu, tiap pagiku ku membuka jendela - menerawang jauh ke puncak merapi mu yang kini telah kembali tegak berdiri. Seakan baru kemarin aku datang kesini, ke kota mu yang memang nyaman.  Hey, aku sudah 4 tahun disini! 4 tahun lebih beberapa bulan, dan aku takkan pernah merasa bosan karena kamu memang menawan.

Yang berhati nyaman,
tak pernah terbayangkan bagiku hidup begitu lama di kotamu. Jauh dari ranah kelahiranku dan aku begitu dalamnya mencintaimu lebih dari tempat aku dilahirkan. Semua itu karena nyamannya suasana kotamu. Ya, dibanding Jakarta yang kian hari semakin penuh sesak, paling tidak di kamu aku bisa bernafas lebih sehat. Bagiku kini, kata "pulang" selalu mengarah padamu.

Yang berhati nyaman,
kotamu menawarkan segala macam kebergaman dan kenikmatan hidup. Lewat legitnya gudegmu, kemegahan kratonmu, dinginnya puncak merapimu serta kentalnya budaya tradisionalmu aku belajar banyak hal. Taukah kamu seperti apa aku saat pertama kali menginjakkan kaki di tanahmu? para alay menyebutnya, "gue itu nothing!", tetapi sekarang? berbagai macam bekal hidup dan pengalaman telah melekat pada diriku, semua karena berbagai macam kesempatan yang kotamu tawarkan. Aku bisa dengan bangga bercerita kepada temanku tentang uniknya kamu dan turut serta mengajak mereka menghabiskan waktu untuk berlibur di tempat wisata yang kamu punya. Takkan ada kota yang menawarkan berbagai macam fasilitas 24 jam dengan harga kantong mahasiswa selain dirimu. Hanya di Jogja!

Yang berhati nyaman,
dua tahun lalu, saat Merapi mu bergejolak meluluhlantakkan desa - desa disekitarnya, menyelimuti kota dengan asap dan debunya, pernah ingin ku meninggalkanmu. Entah percaya atau tidak, aku menangis meraung memohon dan memelas kepada orangtua ku untuk tetap bisa tinggal di kotamu, mereka menarikku paksa untuk pulang ke Jakarta, tetapi untunglah aku bisa sedikit memberontak. Aku merasa sangat picik apabila aku meninggalkanmu disaaat kamu berduka, disaat Merapi menumpahkan apa yang selama ini terpendam. Sebuah bencana alam pertama yang kualami secara langsung, selama hidup. Bencana memang meninggalkan luka, tetapi dari sana kita bisa belajar banyak tentang hidup antar sesama. Bencana mu mengajarkan kepada kami bagaimana cara berbagi dan saling menyayangi. Dua bulan yang penuh arti bagi hidupku Jogja, takkan pernah terlupakan dan terhapuskan sebagai sebuah kenangan hidup yang terbaik.

Jogja yang berhati nyaman,
lewat surat cinta ini, kusampaikan jutaan cintaku terhadapmu dan mohon ijinkanku menetap di kotamu, hidup di tanah kratonmu, untuk menuliskan masa depanku di atas keramahan pendudukmu. Tetaplah menjadi Ngayogjakarta Hadiningrat yang Berhati Nyaman! ~




oleh @lionychan

diambil dari http://callmeasamajesty.blogspot.com/

Inilah kota sederhanaku, inilah Cianjur -ku.

"kan kuingat...di dalam hatiku, betapa indah semalam di cianjur

janji kasih yang tlah kau ucapkan
penuh kenangan...yang takkan terlupakan..."


Pernah mendengar lagu itu? lirik lagu yang sederhana , sesederhana kota cianjurku.
Mungkin kamu bukan kota terhebat seperti Jakarta yang begitu glamour atau Yogja yang begitu eksotik.
Kamu juga tidak seluas kota-kota besar itu, kamu hanya salah satu kota kecil yang terletak di wilayah jawa barat.
Tapi kamu harus tau aku begitu bersyukur dilahirkan disini,
Karna kamu menawarkan kesederhanaan yang ta aku dapatkan dari kota lain.
Dikota ini awal aku bermimpi dan mulai mewujudkannya.
Darimu aku belajar tentang kesederhanaan menjaga hati
Padamu aku menitipkan sejuta kisah sederhana selama usia perakku tentang kasih sayang keluarga, cinta dan persahabatan yang juga sederhana.

Cianjurku, aku suka kamu saat sore,
seperti hari ini sepulang aku kerja, diantar mang becak menuju rumah, menelusuri jalan siliwangi dan adisucipta , dengan jalan yang sedikit basah sehabis hujan, dengan langit senja yang merona dan sesekali aku melihat ada pelangi yang menambah pesona cantik kota cianjurku.
Aku suka saat angin membelai lembut wajahku sore ini , begitu segar dan menyejukkan.
Aku suka sapaan hangat orang-orang yang bertemuku dijalanan.
Atau saat becak yang kutumpangi berpapasan dengan suara lonceng delman, melewati sekolahku dulu, melewati bangunan mesjid agung yang begitu megah, menelusuri jalanan yang penuh kenangan. Itu membuatku selalu tersenyum dikala senja, mengingat segala kisah yang pernah aku lewati, mengingat senyum manis dia yang aku sayangi.  Begitulah cara sederhanaku melepas lelah.

Cianjurku tidak macam-macam, sederhana tapi tidak kalah luarbiasa dengan kota lainnya.
Tanpa macet yang  berlebihan, tanpa panas yang begitu terik atau dingin yang begitu meradang.
Hanya disini setiap hari setiap waktu kapanpun aku mau, aku disuguhi pemandangan cantik gunung gede dan sawah yang hijau.
Pelukan hangat keluarga, kisah cinta yang sederhana dan persahabatan yang tulus membuat kamu lah satu-satunya kota yang aku sebut sebagai tempat aku pulang.

Cianjurku dengan kulinernya yang sangat khas, Hanya disini masakan yang paling bersahabat dengan lidah, bubur ayam yang paling enak seDunia, dan resep masakan ibu yang selalu kunanti dan aku rindu kemanapun aku pergi

Cianjurku, melalui surat ini pun aku ingin mengungkapkannya secara sederhana
Aku ingin mencintaimu dengan sesederhana mungkin, tidak berlebihan dan tidak kekurangan.
dan dengan bangga kemanapun aku pergi aku akan katakan pada dunia,
inilah kota sederhanaku,  inilah cianjurku " penuh kenangan...yang takkan terlupakan"



oleh @mpe_eva

diambil dari http://catatankeciltentangdia.blogspot.com/

Manado dan Suku Bantik

Dear manado..

Kota mu yang cukup indah, dengan banyak tempat - tempat bagus di sini. Saya sudah hampir 3 bulan berada di sini dalam rangka berlibur di rumah kakak ipar saya, saya tinggal di langowan. Menyenangkan disini, udara nya tidak jauh beda dengan kota kelahiran saya yaitu bandung, dingin dan cukup sejuk. Saya paling senang jika minggu pagi duduk di atas balkon depan kamar, menikmati secangkir kopi sambil melihat banyak anak kecil cantik dan tampan yang sudah rapih dan berjalan riang bersama seluruh keluarga nya untuk pergi ke greja. Mereka selalu terlihat rapih dan anggun, pergi dengan senyuman untuk melaksanakan apa yang menjadi kewajiban mereka.

Di kota mu juga aku cukup senang dengan salah satu mall yang berdiri di atas sebagian laut yang kata ya sudah banyak di timbun tanah untuk pembangunan mall tersebut dulu, indah sekali saat parkir mobil di luar karna langsung di suguhkan pemandangan luar biasa pantai yang indah. Di sisi nya terlihat sudah agak kotor dan air nya menjadi keruh, mungkin kurang di jaga dan di rawat. Ya semoga semua orang di lingkungan sekitar bisa jauh lebih menjaga dan memelihara lagi keindahan tersebut.

Sepanjang perjalan saya disini, saya selalu di suguhkan dengan pemandangan yang masih hijau dan asri. Serta gedung - gedung greja yang megah. Ada berderet rumah - rumah kayu sepanjang jalan, kaka saya bilang itu rumah adat manado. Saya juga sangat kagum dengan apa yang menjadi keutamaan orang - orang di manado, Pendidikan. Banyak dari mereka yang menyekolahkan anak nya di luar negri, dengan segala kerja keras dan usaha yang mereka lakukan. Mereka selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anak - anak nya. Maka tidak heran banyak orang - orang manado yang betah tinggal di luar. Entah jepang, amerika atau di mana saja mereka menimba ilmu. Banyak dari mereka yang menemukan cinta dan kasih nya disana, menikah dengan penduduk asli sana, maka nya jadi banyak keturunan disini. Gak salah deh kalau sebutan untuk wanita - wanita di manado itu, cantik - cantik.

Saya juga sempat di bikin heran dan agak gimana gitu yah, waktu kejadian keluarga saya yang mengunjungi pantai lolan di tanamon. Disana emang bagus banget pemandangan nya, walau gak ada pasir nya sih. Banyak batu - batu kecil hingga besar disana. Pantai lolan nampak nya tidak terlalu terjamah oleh wisatawan yang datang, karna kebanyakan mungkin lebih memfokuskan diri ke bunaken. Waktu itu emang masih siang banget yah, sekitar jam 12 siang. Saya dengan beberapa ponakan saya menikmati semua kindahan pantai lolan disana, mereka berenang dan minta foto - foto. Saya sih yang foto mereka walau hasil nya gak terlalu bagus, ihihihi. Sebelum kesana kakak ipar saya emang mengingatkan kita untuk jangan terlalu berlebihan bersikap, dan jangan heran - heran kalau meliat atau menemukan apapun yang aneh. saya masih banyak diam dan menjaga sikap, tapi tidak dengan ponakan - ponakan saya yang lain. Ada yang berenang sampe tengah, mecahin kerang, matahin pohon yang banyak tumbang disana dan banyak hal lain.

Dan oh manado, saya sangat kaget sekali saat pulang di rumah ibu kakak ipar saya. Tiba - tiba jempol kaki saya sakit tanpa terluka sedikit pun. Ponakan saya dewa yang paling kecil, sampe muntah - muntah dan panas sekali badan nya, lalu ponakan perempuan saya si echa juga jadi pendiam, padahal kan dia biasa nya sangat menyebalkan dan bawel. Al hasil semalaman kita tidak bisa tidur, ada banyak hal aneh yang tidak bisa di jelaskan namun membuat kita tidak nyaman tidur. Dan pagi - pagi nya saya di kejutkan oleh cerita keponakan saya yang paling besar, nama nya rival. Dia bilang kalau semalam habis beli makanan dan sekaligus mengantar om nya pulang kerumah. Namun saat dia akan pulang kembali kerumah ibu kakak ipar saya, dia nyasar sampai jauh sekali dari pemukiman di mana rumah nenek nya tinggal. Dia bilang kalau dia tidak sadar sama sekali, padahal dia membawa motor sangat pelan. Dia pulang dan terus berjalan tapi aneh nya dia tidak melihat satu pun rumah, hanya hutan.. hutan.. dan hutan. Sampai teman dia yang memang sudah ikut dari tadi sadar bahwa mereka sudah jauh dari rumah, dia menegur ponakan saya itu lalu mereka berdoa dan berbalik arah pulang.

Saya juga mendengar tentang suku bantik di tanamon, nenek moyang yang masih memegang banyak adat luhur. Kata nya sih masih banyak pantangan buat orang - orang disini. Kalau ada yang potong ayam di luar rumah itu gak boleh di sapa. Kalau benerin rumah itu gak boleh masak - masak dulu atau ada kegiatan apapun di dalam rumah sampai perbaikan rumah nya selesai. Lalu kalau kita sampai rumah sehabis perjalanan dari mana pun jangan anak yang langsung menyambut. Tidak boleh bakar udang di rumah, potong ayam di rumah. Dan heran - heran kalau liat sesuatu yang aneh. Itu sih yang saya dengar, jadi saya juga kurang tau dengan kebenaran nya. Dan apapun itu kota mu tetap selalu indah, berkesan sekali saya selama disini. Karna memang di mana pun kita menetap atau berada, pasti akan selalu ada hal yang harus di jaga dengan segala aturan nya. Jadi memang alangkah baik nya kita selalu menjaga apa yang menjadi budaya dan keindahan tempat di mana kita tinggali.

Mungkin saya akan mengakhiri masa berlibur di sini pada awal bulan depan, dan terima kasih banyak manado untuk segala keindahan dan kekaguman yang saya nikamti selama disini. Saya sangat belajar banyak disini, tentang segala budaya nya dan tempat - tempat indah yang sudah saya kunjungi. Dan juga tidak lupa bubur manado nya yang saya bahkan tidak suka bubur, akhir nya makan juga. Selalu di manjakan dengan surga kuliner, seafood. emmmm benar - benar nikmat. Sampai bertemu di lain waktu manado, saya harus pulang ke bandung. Dan ingin mengunjungi kota lain yang tidak kalah indah dengan kota mu.




Ini nih pantai lolan, tanamon, Manado. dan ini ponakan2 saya yang sempat mengalami keanehan - keanehan nya.





Perempuan,


Rahmawati.




oleh @OdetRahma

diambil dari http://suratcintaperempuan.blogspot.com/

Divonne, vous avez mon coeur.

Dear Divonne,
apa kabarmu?

Masihkah ramah semua yang disana?
Masih dinginkah airnya?
Masih tampankah penjual buah dari Swiss
yang selalu hadir
di pasar Minggumu?
Masih lezatkah churros
buatan Madam yang disebelahnya?

Ah, Divonne,
kampungku dengan sejuta kenangan...
Aku yang masih berumur 17,
jatuh hati dengan dia yang berumur 21,
mahasiswa yang bekerja paruh waktu
menjadi tukang potong daging
di market bawah apartementku...
Namanya Luca...
Salah satu alasan utamaku
memperdalam bahasa Perancis...

Dia yang kelihatan begitu berbeda,
dengan rambut coklat berlapis emas,
mata hijau
dan tindikannya yang dimana-mana...

"Eye candy",
istilah kakakku...

Kepadanya pertama kali kutulis surat cinta...
Surat yang mungkin melakukan
terlalu banyak pelanggaran EYD
hingga dia tidak mengerti isinya...
Surat yang kutulis sepenuh hati
dibantu kamus Inggris - Perancis..
Surat ucapan selamat tinggal
sebelum aku pindah ke Roma...
Surat yang akhirnya sampai pada kakakku
yang dia mintakan bantu terjemahkan...

Yayaya,
urat malu saya sorak sorai hari itu...

Dear Divonne,
masih cantikkah kamu?
Masih megahkah Château de Divonne?

Suatu hari nanti,
aku akan kesana lagi,
aku janji...
Terlalu banyak kenangan
yang ingin aku ulangi,
dan masih belum ada lavender meringue
seenak di La Petite Chaumière...

Dear Divonne,
kalau ketemu Luca salam ya...
Tolong sampaikan padanya
aku masih belum fasih menulis surat cinta
dalam bahasa Perancis,
namun kalau ada pertanyaan,
tanya langsung saja padaku,
tidak apa-apa kalo akhirnya
kita berdua sama-sama gagu,
tidak usah bawa-bawa kakakku...
Aku malu...

Till then ya, Divonne...
Tu seras toujours dans mon coeur...



oleh @mumsyelle

diambil dari http://operationloveletter.blogspot.com/

Halo.. Halo..

“Bandung bukan hanya masalah geografis, tapi juga masalah perasaan. — @pidibaiq

Dear Bandung,

Apa kabarmu saat aku sedang tidak berada disana?

Kabarku disini selalu (mencoba) baik-baik saja. Kemacetan yang kerap kujumpai pagi dan malam serta hawa panas efek dari rumah kaca membuatku lama-lama terbiasa. Jangan salah sangka, aku sedang tidak mengeluh, hanya sedang menceritakan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang aku alami setiap hari kerja.

Pertengahan Maret nanti, tepat satu tahun aku merantau ke kota ini. Aku cukup senang hingga Tuhan melipatgandakan kebahagiaanku dengan memberikan pekerjaan dan banyaknya teman baru yang membuatku semakin kerasan tinggal disini.

Tapi entah ada magnet apa yang membuatku selalu ingin mengunjungimu, aku tidak bisa untuk tidak pulang dalam jangka waktu yang sangat lama. Bagiku, satu bulan saja sudah terasa menyiksa jika kita tidak bersua. Terdengar berlebihan, tapi memang begitulah adanya. Bukan hanya karena kerinduanku pada keluarga, para sahabat, teman-teman dekat dan pacarku saja tetapi juga karena rindu pada tempat-tempat tertentu, makanan dan jajanan yang beraneka ragam, suasana, rindangnya pepohonan, hijaunya sawah, bahasa Sunda dan terutama hawa dingin yang menusuk tulang yang tentunya tidak dapat kujumpai di ibukota. Walaupun kini kamu sudah tidak kalah gemerlapnya dengan Jakarta, pusat perbelanjaan (atau nama kerennya Mall) ada dimana-mana, kemacetan dan tingkat kriminalitas yang mulai merajalela, tidak membuat kecintaanku padamu berkurang.

Kamu dan aku menyimpan banyak cerita yang tak akan pernah lekang dari masa ke masa. Kamu mempertemukanku dengan banyak orang yang bisa kujadikan sahabat atau sekedar teman dekat. Bahkan kamu mempertautkan hati dengan sejumlah pria yang datang dari ibukota dan luar jawa. Baru kali ini aku menjalani hubungan pacaran dengan warga yang lahir di satu kota yang sama :D. Saksi bisu kala aku jatuh cinta, patah hati, tertawa hingga berair mata.

Seperti sepasang kekasih yang beda kota. Kini kita hanya bisa berjumpa disaat akhir pekan tiba. Terkadang aku rindu hari-hari kerja disaat kita masih bersama. Namun aku yakin, suatu saat nanti-yang-entah-kapan kita akan kembali lagi bersama. Kamu akan menemaniku melewati masa tua, seperti kamu dulu menemaniku semasa kecil hingga dewasa.

Halo-halo Bandung, ibu kota Priangan
Halo-halo Bandung, kota kenang-kenangan
Sudah lama beta tidak berjumpa dengan kau.
— Halo-Halo Bandung (nn) 
hari ini sayang, aku akan pulang
berlabuh di dekap cintamu
karena pelukmu akan selalu membuat diriku jatuh cinta..
— Pulang (Andien) 
Da urang mah urang Sundawelas asih hade basasadaya ge da barayada urang mah urang sunda
— Persib nu Aing/Tribute to Persib (Kungpaw Chicken)




oleh @naminadini

diambil dari http://berceloteh.tumblr.com/

PengGoringan

Dear Worthing tepatnya di Goring,

Kamu ga punya mall yang lebih dari 3 tingkat, pelit elevator dan escalator, juga pelit tempat parkir.

Aku harus berjalan kaki selama 20 menit setiap kali aku mau membeli rokok ke toko terdekat dari rumah, seringkali Hujan , tidak ada Ojek mana Becek membuatku sengsara.

Kamu yang selalu sepi, mendung, berangin kencang terutama di dekat pantai yang tak berpasir
melainkan berkerikil, tak ada gunanya sama sekali karena tak bisa berjemur di musim panas.

Aku yang selalu menunggu setengah jam sekali untuk naik bus kemana-mana karena harga bus yang mahal, tak sanggup bayar taxi dan tak punya sepeda kumbang.

Kamu, ya kamu…dengan pemandangan indahmu, taman-taman bungamu, udara segarmu, keramahan pendudukmu juga ketertiban kotamu….aku ingin sekali jatuh cinta padamu…




oleh @NonaHujan_

diambil dari http://strangerinengland.tumblr.com/

Rumah Yang Selalu Kurindu

My Dearest Balikpapan,

Ini baru cinta. Betul-betul cinta yang dengan lugas kusebut tanpa ragu sedikit pun.

Bagaimana tidak? Selubung tubuhku yang terhubung dengan tali pusat Ibu dan darah pertama kelahiranku, tertanam di sepetak halaman rumah kecil di peluk pelosokmu. Engkau yang kusebut tanah tumpah darah. Engkau rumah yang selamanya aku akan rindu untuk pulang.

Bagi orang lain mungkin kau hanya negeri entah yang tersembunyi di belantara Kalimantan, sekilas seperti ganas dan liar. Mereka tidak tahu dan tidak ingin tahu selesa udara dan langitmu yang selalu biru.

Aku telanjur akrab dengan hutan-hutan kota, jalan-jalan lengang yang menyisir pinggir teluk, malam senyap yang ditingkahi desis obor kilang… hal-hal yang membuatku selalu kangen dan merasa asing di penjuru manapun di dunia.

Kau masih ingat, pertama kali aku belajar naik sepeda? Pertama kalinya kujatuh menubruk dirimu dengan cukup keras. Tapi tanahmu tidak kejam. Empuk, bau lembab tumpukan daun jarum cemara. Kakiku lecet sedikit dan bekasnya masih ada sampai kini. Semacam tanda mata yang manis.

Apa kau juga masih ingat, ibu bapakku dengan paniknya membawaku ke rumah sakit karena nafasku hampir habis? Tapi hangat matahari dan udara pantaimu yang telah memulihkanku. Untuk kau tahu, penyakit itu tidak pernah menghampiriku lagi. Aku baik-baik saja sekarang. Hanya pekerjaan dan perjalanan-perjalanan ini membuatku tak kunjung sempat menemuimu lagi.

Apa kabarmu kini? Kudengar semakin meriah di sana. Kau pasti cantik sekali dengan kerlip lampu-lampu, dancing spotlight di taman air mancur kota, dan ragam-ragam neon sign. Tapi tetap saja, seluk likumu yang senyaplah yang kurindukan. Aku ingin kembali bermain di sesemak yang menyimpan jejak kaki kecilku dulu, kembali duduk mampir di kedai-kedai penjaja nasi kuning dan teh susu panas, melayari rawa-rawa nipah yang magis, atau sekadar menikmati matahari terlelap di teluk permai.

Sampai kini aku tidak tahu, apakah kau akan juga jadi tempat penghabisanku. Tapi aku tidak keberatan merapatkan pelupuk di sana, bersatu kembali dengan separuh hidupku yang telah kau genggam.

Salam rinduku,
anak teluk di perantauan.



oleh @Lily4R

diambil dari http://lily4poems.wordpress.com/

Malang Seribu Cerita

halo kota kelahiran ayah yang dulu tidak pernah ku kenal.

aku tidak menyangka akan berjodoh denganmu. dulu sewaktu aku berkenalan denganmu untuk pertama kali, yang ada hanya keluh karena dingin. tapi kini aku menikmati setiap suhu yang mengalami penurunan di setiap malamnya.

kamu menyimpan banyak cerita dan harapan. kamu menyimpang duka dan banyak suka yang tidak pernah dibayangkan. setiap sudutnya memiliki kenangan. setiap tikungannya menyimpan rasa.

kamu adalah tempat pelarian hidupku yang hebat. meski di awal menjadi korban dari ketidakdewasaanku menghadapi hidup. kini kamu menjadi rumah kedua yang selalu ku kangeni untuk disambangi.

jika jakarta adalah kota yang tidak pernah tertidur. maka kamu adalah kota yang mudah sekali tidur. kamu begitu cepat lelap dalam malam. ada beberapa orang memilih ikut lelap dalam malammu. ada sebagian kecil yang bertahan dan menikmati kelelapan malammu. dan aku adalah salah satu bagian kecil yang belajar menikmatimu lebih dari sekedar tempat pelarianku.

malang aku titipkan seribu kali seribu kali seriiiiiiiiiiiiiibuuuuuuuuuuuu cerita dan harapan padamu. bergeliatlah bersamaku untuk mewujudkannya. terima kasih banyak.

malang, 24 januari 2012.



oleh @kerisirek

diambil dari http://kriskroskres.tumblr.com/