14 February 2012

Surat Tanpa Perangko

Hari terakhir, kebetulan surat ini untuk kamu.

Aku tahu, terbaca dari judulnya, surat ini memang seharusnya berperangko. Harusnya surat ini kutuliskan pada selembar kertas putih asli, bukan lembar kertas digital seperti ini. Lalu, ketika aku telah menyelesaikan kalimat terakhir bersama titik bulat hitamnya serta membubuhkan tanda tangan mungilku di pojok kanan bawah, kertas putih yang telah berisi tulisan empat paragraf panjang itu kumasukkan ke dalam amplop biru tua –warna kesukaanmu- dengan aksen gegaris melengkung di keempat sudutnya. Kutulis namamu dan alamat lengkapmu di sisi depan. Semoga alamat rumahmu masih tetap sama. Selanjutnya, kutulis pula nama dan alamat lengkap rumahku –yang semestinya masih tergores jelas di ingatanmu- di sisi sebaliknya. Selesai, kuletakkan pulpen dan membuka segel perekat sisi atas amplop tersebut, kurekatkan pada sisi bawahnya. Beberapa detik kuamati amplop biru tua itu. Kuhela napas, untuk meyakinkan diri bahwa aku telah mengumpulkan berjuta keberanian untuk memulai dan menyelesaikan menulis sebuah surat untukmu. Ya, untukmu.

Selembar foto kucing kecilku telah kusertakan di dalamnya. Bukan apa-apa, hanya untuk meyakinkan bahwa yang kuceritakan di surat itu bukanlah bohong. Kau juga suka kucing kan? Jadi, sebaiknya foto kucing gendut pitih abu itu kau simpan rapi di album fotomu, atau dompetmu jika kau mau. Ketika kau ingat dan rindu padaku, kau boleh memandanginya. Anggap saja kucing itu adalah jelmaan dariku. Yah, meski jauh lebih cantik aku. Tapi tak apalah, daripada kau hanya merenung di hadapan hujan sambil membayangkan wajahku yang dibuyarkan angin menghunjam? Lebih baik kau masuk kamar, sembunyi di balik selimut tebalmu yang bisa kutebak pasti warnanya biru tua, lalu pandangilah foto kucing kecilku itu. Atau, kau bisa memandanginya bersama kopi full cream favoritmu? Sambil menonton film kesukaanmu? Terserah saja, yang penting itu tidak mengganggu konsentrasimu untuk mengingatku.

Satu lagi yang penting, jangan terlalu sering menikmati hujan. Bukan hanya karena angin dingin yang dibawanya. Tapi juga karena kau harus berhati-hati pada harapan yang acap kali ia jatuhkan. Seperti yang kulakukan sekarang. Memandangi hujan, dan siap-siap menengadahkan tangan untuk sekadar menangkap harapan-harapan yang ia taburkan. Ketimbang harapan-harapan itu keras berdebam menghantam tanah, bukankah lebih baik kutangkap dan kusimpan di stoples kaca agar suatu nanti untukmu kuberikan?

Tapi aku lupa, terkadang harapan bukanlah sesuatu untuk dijadikan. Seperti halnya surat ini. Surat yang berbatas pada fantasi harapan. Entah ada berapa harapan dalam stoples kacaku yang mengharapkan surat ini tersampaikan padamu. Entah ada berapa harapan yang memerintahkan tanganku untuk segera mengerjakan step-step-menulis-surat-untukmu. Entah ada berapa harapan yang mengutuki kakiku yang enggan terayun untuk memasukkan amplop biru tua itu ke dalam kotak surat. Hingga untuk selanjutnya, biar pak pos yang mengetuk pintu rumahmu. Biar pak pos yang melihat sosokmu membukakan pintu. Biar pak pos yang bertanya apakah ini rumahmu. Biar pak pos yang berkata bahwa ada surat untukmu –dariku. Biar pak pos yang mendengarmu menjawab iya, lantas menangkap surat dariku. Biar pak pos yang mengucapkan namaku sebagai pengirimnya. Biar pak pos yang pertama kali menangkap ekspresimu ketika mengetahui bahwa suratku telah sampai di tanganmu. Lantas, biar pak pos tidak memberitahuku apakah kau senang atau sedih mendapati surat fantasi itu.



Dari aku.



Oleh:

1 comment: