14 January 2012

Empat Puluh Delapan Jam

Jakarta, 14 Januari 2012



“I’ve been searching for you
I heard a cry within my soul
I’ve never had a yearning quite like this before
Now that you are walking right through my door”


Kepada kenangan 48 jam,

Apa kabar sayang?

Bagaimana sakitmu? Sudah membaikkah?

Bagaimana luka di kepalamu? Sudah sembuhkah?

Bagaimana perih di hatimu? Sudah sehatkah?

Sudah bisa pulang sekarang?

Sayang, sudah empat puluh depalan jam kamu entah ada di mana, sudah genap dua purnama langkahku terkatung di jalan mencarimu.

Pulang sayang, dadaku lenggang. Aku sudah meminta maaf, bukan?

Pulang sayang, aku punya empat puluh delapan juta rintik rindu yang siap membasahi keringnya hatimu. Pulang sekarang, aku mau membayar empat puluh delapan janji yang membuat hatimu menangis kemarin. Pulang sayang, kemari.. ke hatiku, biar kuobati semua sakit yang kamu tanggung selama ini karena perlakuanku. Pulang..

Kamu tau? Aku menangis di sini, sendiri, tanpa bahumu yang biasanya menjadi tempat kepalaku bersandar hingga kaosmu basah karena air mataku. Menantimu sayang, mencarimu yang tak jua kembali.

Hatiku berteriak di tiap sudut kota yang kulangkahi meraba bayangmu, di mana kamu?

Apa kamu lupa jalan pulang? Atau memang kamu sudah tak mau lagi pulang?

Empat puluh delapan jam, harus berapa kali empat puluh depalan jam lagi aku lewati? Tidak, aku tidak akan berhenti, sayang. Sampai kamu pulang.


“All of my life, where have u been? I wonder if I’ll ever see u again. And if that day comes, I know we could win. I wonder if I’ll ever see u again. And everytime I’ve always known, that u were there, upon ur throne. A lonely queen without her king. I longed for u, my love forever.”


—-

Ah, andai susunan kalimat di atas benar kamu tuliskan untukku, andai surat ini adalah isi hatimu untukku. Ah, andai.. kamu benar mencariku yang telah berlari karena kamu lukai. Diary, simpan surat ini. Biar dia tau, semua salahnya telah kumaafkan tanpa dia minta. Biar dia tau, seberapa besar ‘andaiku’. Aku yang pergi, aku yang menunggu pulang.

Andai.



Mantan kekasihmu.



I wonder if I’ll ever see u again..



#NowPlaying Lenny Kravitz -Again



Oleh: @ekaotto


Gadis Separuh

selamat sore mendung, selamat sore gadis separuh.
iya kamu, yang sedang mengetik barisan aksara hitam kaku dihadapanmu.
apa kabarmu sore ini?
mungkin terdengar aneh sapaan ini, setelah sekian lama kita saling acuh meski menempati raga yang sama.
hidup terlalu keras belakangan ini.
terlalu banyak hati yang harus dimampatkan untuk tidak ditangisi berbagai perpisahannya.

tuhan terlalu ambisius untuk mendewasakanmu nampaknya,
mendewasakan kita,
dengan skenarionya untuk menghidupkanmu terpisah dan belajar meniti semua sendirian.
mungkin akan banyak peluh pada awal yang kita mulai ini,
tapi seperti enam belas tahun dunia yang sudah kita lewati,
awal yang berat selalu berakhir baik kan?
percayalah,
ini hanya masalah waktu,
dan kita bisa melaluinya,
tanpa kamu harus merasa sendiri,

selalu ada teman untukmu berdialog,
aku, sahabat seragamu dan tuhan, dalam nadi kita.


jangan berubah muram, gadis separuhku.

oleh: @tashafairus
diambil dari: http://berbagicangkir.blogspot.com

hari pertama, ketika hujan

untukmu:
yang jauh di sana.


bagaimana dirimu?
apakah hujan di tempatmu?
apakah dingin seperti di sini?

pagi ini,
aku terjaga dan tak menemukan dirimu di sana saat ku membuka mata. yang kudengar hanyalah titik-titik hujan yang jatuh mendera atap tua ini, bukan suaramu. yang kulihat adalah langit-langit hampa dan ruangan yang kosong ini, tak ada sosok dirimu.

tanpa disadari, hari-hari kemarin, kita masih bercakap. berbincang riang. bersenda-gurau. duduk saling berdiam. tapi hari ini, hujan, dan aku mulai menyadari bahwa kini aku sendiri. benar-benar sendirian. dan kamu, sekarang benar-benar tak ada lagi di sini. mengapa harus tiba-tiba seperti ini? bukankah seharusnya kita selalu bersama? bukankah hanya maut yang dapat memisahkan kita?

aku bahkan tidak sempat bertanya apakah kamu pun menyukai hujan, seperti aku yang sangat menyukai hujan. dan apakah kamu akan marah jika melihatku basah kunyup di bawah hujan sendirian? seperti ini?

sore ini, hujan sudah berhenti.
tapi di sudut mataku, hujan masih jatuh tak terkendali.

aku sudah berjanji akan menuliskan surat untukmu setiap hari. sampai aku
bosan dan berhenti.

berbahagialah.
hingga kita kembali bertemu mata.


salam

aku,
yang selalu mencintaimu.

*dan pesawat kertas pun terbang tinggi*

oleh: @tuannico
diambil dari: http://tuannicogarukgarukpala.wordpress.com

Surat Musim Hujan

Selamat musim hujan, tuan Jas Hujan.

Kamu apa kabar? dirumahku sedang turun hujan, dan aku sedang menikmati semangkuk penuh bakso malang. Hujan dan malang, drama sekali ya hidupku ini, persis katamu. Aku ini pengarang bebas yang pandai merangkai-rangkai cerita dan membumbuinya dengan curiga. Kalau kamu telat datang di Sabtu malam, kalau kamu tidak menelponku saat menjelang malam, atau kalau kamu memilih bermain futsal sampai larut malam. Aku menyesal.

Aku ingin sekali menanyai kabarmu. Apa kabar?. Maksudku, apa kabar janji-janjimu untuk kembali padaku setahun ini? Apa kabar tabungan kita yang kita tak acuhi? Apa kabar luka bekas goresan benda tajam ditanganmu yang bertuliskan namaku, Kisti? Apa kabar? Apa kabar? Apa kabar?

Hhh, sudahlah. Toh sudah setahun lebih kita berpisah. Tidak ada lagi rasa yang tertinggal untukmu. Apalagi rindu. Aku hanya sekedar memeriahkan sebulan penuh menulis surat cinta, tidak lebih. Kamu jangan geer dulu. Kamu kan tau aku wanita tegar walau cengeng. Kamu ingat kan, alasan kamu dulu mencintai aku? Atau kamu sudah lupa? Aku juga sudah lupa alasan dulu aku mencintai kamu.

Empat minggu setelah kamu pergi, aku punya pacar baru. Inisial depannya B dan akhirannya G. Sama seperti kamu, dia selalu ada setiap hari buat aku. Walau dia tidak secerewet kamu, tapi setidaknya dia tidak pernah protes kalo aku nangis. Dia tidak pernah protes kalo aku mulai drama, dia tidak pernah protes kalo aku bolak-balik minta telpon cuma karena aku kangen suara dia. Soal ketulusan 1-0 buat dia ya.

Tidak seperti kamu, yang selalu dongengin aku dengan cerita yang sama setiap malam sebelum aku tidur. Dia selalu punya cerita baru gak kaya kamu yang taunya cuma cerita si kancil, keong emas, si cantik dan si buruk rupa. Kamu kalah sama dia kalo soal itu. Sementara ini skor 2-0 untuk dia ya. :)

Suara dia juga jauh lebih bagus dari kamu. Aku sering banget dinyanyiin lagu sama dia. Aku sama dia juga sering nyanyi bedua kaya kita dulu, kamu masih ingetkan? tapi suara dia itu yah…hmmm kece. Aku suka. Wah sekarang kamu makin tertinggal jauh aja, 3-0 ahahahhaaa…

Kan bener kan aku sudah move on kan. Apa aku bilang waktu kita terakhir kali ciuman saat putus, aku akan cepet deh ngelupain kamunya. Aku udah gak inget tuh kenangan kita yang ngerasain gimana rasanya gak punya duit, hujan, terus ban bocor.

Aku juga udah lupa deh sama kenangan kita yang waktu kamu ajak aku keliling-keliling naik motor sampe kedinginan karena hujan gerimis terus biduran, gara-gara waktu itu aku gak mau kamu kenal keluarga aku dulu. Hahahaa. Eh pas udah kenal malah kamu yang lebih disayang sama orangtua aku daripada aku. Dasar kamu jelek!

Apalagi waktu kamu kekeuh mau jemput aku pulang kampus padahal hujan terus aku kuyup kebasahan karena aku gak suka sama jas hujan yang bikin gatal. Inget kan betapa aku marahnya sama kamu waktu itu. Aku paling benci kalo hujan lagi dijalan. Tapi kamu paling seneng kalo hujan-hujanan dijalanan. Terus kita cemberut-cemberutan. Ahh, yang kaya gitu mah aku udah lupa. Gak pernah lagi aku inget-inget itu.

Eh kamu udah lupa belom, waktu kita beli jas hujan yang bertudung dua warna cokelat itu? kamu beli itu kan dulu biar aku mau pake jas hujan, biar aku gak takut sama hujan kalo lagi dimotor sama kamu beduaan, biar kita bisa makin erat pelukannya. Kamu udah lupa kan? aku juga.

Ah, aku juga lupa banget, kamu tau gak saat kita putus pun, hujan sedang mengguyur deras jalanan sepulangnya aku dari Bali. Disusul mataku yang kehujanan.

Selamat musim hujan, tuan Jas Hujan @swcheini. Tolong buka lagi twittermu, aku rindu.

Ps: Nama Pacarku, Bohong.

oleh: @PenaAwan
diambil dari: http://penandilaga.tumblr.com

Sapaan Awal

Hai,

Oke aku memilih sebuah hai untuk memulai surat ini
Dan mungkin akan melanjutkan dengan kalimat basa-basi lainnya
Seperti
Apa kabar?
Bahagiakah sekarang?
Sedang sibuk apa?
Bagaimana harimu?
Ah, terlalu basa-basikah bagimu?
Padahal memang itu yang INGIN kuketahui
Surat pertama dalam 30 hari ini kutujukan padamu
Mungkin memang kamu yang paling pantas mendapatnya
Bagaimana tidak, kamu orang yang paling sering melintas dikepalaku.
Bahkan sampai saat ini. huh.

Sudah lama tidak ngobrol ya?
Kapan terakhir ngobrol?
5 tahun 3 bulan 7 hari tepatnya
Tapi anehnya ingatanku masih tajam akan semua hal yang pernah kita bicarakan
Ingatanku masih jelas akan semua hal yang pernah kita lakukan
Rindunya.
Hei, apa masih terus berteriak-teriak ketika Jerman main?
Biasanya teriakanmu mengagetkanku, selalu.
Kesal sih, tapi tetap berhasil membuatku tertawa terpingkal-pingkal begitu melihat ekspresi kagetmu.
Ah mengingatnya saja sudah membuatku tersenyum lagi.

Aku rindu begadang bersama lho.
Malam-malam panjang yang kita habiskan mengobrol tentang hidup dengan sok tahunya.
Dan ingat tidak kalau aku yang selalu menghabiskan kopi yang kau buat?
Padahal aku bukan fans berat kopi.
Tapi kebiasaanmu itu selalu menular.

Kalau kau bertanya bagaimana aku sekarang?
Yah, mungkin masih gadis yang sama dengan gadis 5 tahun lalu
Masih gadis kecil cengeng yang sering menangis diam-diam
Sayangnya karena kita tidak pernah bertemu lagi, tidak ada yang menyogokku dengan ice cream lagi ketika air mata sudah tak mampu bersembunyi di pelupuk mata.
Padahal kau juga kan cengeng.
Ingat semua film sedih yang kita tonton bersama?
Dan begitu kulirik kau sudah melepas kaca mata untuk menyeka air mata
Tapi tidak pernah mengaku kalau kau menangis
Hahahaha
Dont you know you are the sweetest guy i ever met?

Ini surat pertamaku untukmu
Mungkin akan ada surat kedua, ketiga, entah berapa surat yang akan kutulis untukmu
Maaf, bukan tidak mau mengirim surat
Banyak sekali yang ingin aku ceritakan.
Hanya tidak tahu harus mengirimnya kemana.

Karena tukang pos biasa tidak bisa mengirimnya ke surga, Papa.



PS: Kalau di surga sudah ada email, beritahu aku
      Eh ada twitter lebih baik ;p



Sejuta Rindu,
Gadismu

oleh: @sheiilarizkia

diambil dari: http://dreamaginations.tumblr.com

Surat Untuk Calon Pintu Surgaku

Kepada Calon Suamiku,
Sayang, telah kusiapkan sepasang tangan yang kelak akan sangat lihai mengusir lelah yang menggelayuti pundakmu; yang sepanjang hari kau paksakan untuk tetap tegak agar pundi rezeki selalu bisa kau  bawa pulang.
Telah ku persiapkan pula stamina sebagus mungkin agar tak luput tiap inci tubuhmu dari pijatan tanganku meski seharian ku habiskan waktu di luar dengan segudang aktivitasku sebagai tenaga kesehatan yang mengabdikan diri pada masyarakat.
Kau juga harus tahu sayang, aku memiliki cinta yang terlampau besar dengan jiwa yang begitu lapang, jika sewaktu-waktu kau pulang ke rumah membawa masalah pekerjaanmu. Telah ku siapkan sepasang telinga untuk jadi pendengar baikmu, pemikiran yang cukup bijak untuk meredakan sejenak emosimu atas dunia luar. Menjadi peneduhmu.
Aku juga mulai sering memasak sekarang, agar nanti bisa membuatkan makanan kesukaanmu. Di samping itu, telah ku siapkan berbutir-butir sabar jika pada akhirnya kau menolak untuk makan malam di rumah karena masakanku tak sesuai dengan seleramu sementara aku menghabiskan waktu seharian di dapur hanya untuk makan malammu itu.
Tak mengapa sayang, aku akan tersenyum dan memesankan makanan dari luar saja. Besok akan ku coba lagi membuatkan makanan yang kau suka.
Apa? Kau sudah tak bernafsu makan? Baiklah akan kubuatkan secangkir teh. Tidak? Kau mau kopi? Baik sayang, akan kubuatkan apa pun.
Malam ini kau akan begadang? Baik sayang, akan kusiapkan ruang kerjamu. Ada sebaskom air  hangat di bawah kursi yang bisa kau gunakan untuk merendam kaki agar otot-otot kakimu tak terlalu tegang.
Akan kuputarkan juga lagu-lagu kesukaanmu yang sebelumnya kusiapkan dalam satu playlist agar kau lebih bersemangat kerja. Aku akan meninggalkanmu sendiri di ruang kerjamu. Jika kau butuh sesuatu, aku masih belum tidur; menunggumu menyelesaikan pekerjaan sembari menyiapkan segala hal yang kau perlukan esok hari.
Kau tahu, aku tak pernah bisa tidur tanpamu; tanpa musik surgaku. Suara dengkurmu menjelma jadi musik pengiring tidurku.
Ini sudah terlalu larut sayang, rebahlah sejenak. Biar aku yang membereskan ruanganmu. Kau segeralah tidur, aku akan menyusul.
————————————————————————————————-
NB: Ditujukan pada @ASanyyy

oleh: @_setengahwaras
diambil dari: http://perempuansetengahwaras.wordpress.com

A Legendary (Love) Letter

Dear Mr. Awesome,
I’ve known you for a year or two. But the minute my eyes catch the glimpse of you, my heart tells me right away, “Houston, we got our winner!”
Peeps might see you as a douchebag. Or even an annoying Cassanova wannabe. Yet, I’m sure a lot of them acknowledge you as the pioneer, the blinding light or maybe, a new hero. Anyway, for me, you are irreplaceable.
Isaac Newton, Albert Einstein, Galileo Galilei or Doc Brown? Well, compared to you, they are just some rookie thinkers.
Your theories are the real breakthrough and proven to bring happiness to a lot of mankind.
Even Cupid looks like a wimpy kid. The way you interpret love stunned me and sweeps me off my feet.
Perhaps, love is just a game for you. Hot chicks are endless quest of journey. Nevertheless, every story has a season finale. My gut is like shouting outloud that you will have a surprising happy ending.
Behind those fancy suits and cheeky smiles, lies a warm heart that deserves to be served to the right person.
Sadly, it is not me. And until this very last second, you haven’t met her yet and settle the scores.
Yes, the season is still on. And we will patiently waiting for the day when you finally meet Mrs. Awesome.
You are indeed legen…WAIT FOR IT…dary, my dear BARNEY STINSON.
PS : I’ve tried that ‘FALLEN ANGEL’ pick-up line. I ended up being a laugh stock. Man, that thing only worked for AWESOME people like you :)

xoxo,
your wacky admirer

oleh: @retro_neko
diambil dari: http://iammrsred.tumblr.com

Kepada Hujan

Halo, Hujan..

Akhir-akhir ini aku tahu kamu sering menyapaku, menemani disetiap kegundahanku. Lewat suaramu yang merdu, lewat wangimu yang harum, lewat warna langitmu yang kelabu—warna favoritku!

Aku tahu kadang rindumu pada bumi tak terbendung. Aku tahu kamu juga salah satu teman terbaikku. Aku tahu bahwa Desember dan Januari adalah waktu-waktu dimana kamu akan selalu ada untukku, banyak meluangkan waktu untukku.

Tapi terkadang, kamu datang di saat tak tepat. Dan terkadang kamu datang dengan terlalu bersemangat. Terkadang kamu menghanyutkan, terkadang kamu menyakiti, dan terkadang.. ugh, kamu menggagalkan rencanaku.

Meskipun begitu aku tetap menyayangimu, memujamu dan mensyukuri perhatian lewat tetes-tetes yang kamu turunkan. Tapi bisakah kita lebih kooperatif lagi? Bolehkah aku minta satu hal? Jadilah hujan yang manis, dengan begitu kita akan tetap dan selalu bersahabat.. ;)


Peluk cium,
Sahabat yang selalu mengagumimu.

oleh: @prdnk
diambil dari: http://darkblueandgrey.blogspot.com

Surat Pertama: Yura Sayang

Halo sayang..

Surat ini aku tulis disela-sela kesibukan bersama kawan yang lain. Ah, kesibukan rutinitas saja sih, bukan hal penting seperti memikirkan proyek kerja di klien A, atau bagaimana menciptakan desain baru untuk perusahaan B seperti yang kau lakukan. Hanya kegiatan berdiskusi sederhana.

Sudah lama kita tidak bertemu ya. Masih belum sempat menjengukku? Atau kamu justru malu jika banyak orang yang tahu?

Yura sayang, kemarin aku bertemu mama papaku. Mereka datang berkunjung. Memberi keceriaan sekali. Papa datang dengan bunga lili, Mama datang dengan sekotak coklat. Entah kenapa mereka datang tidak bersama, tapi pulangnya barengan lho. Mereka sempat minta maaf karena baru sempat berkunjung, padahal aku tahu tidak mudah menemuiku dengan keadaan mereka saat ini. Wajah mama papa masih sama dengan terakhir aku lihat, hanya agak lebih pucat. Mengkhawatirkan diriku yang sedang sekarat sepertinya.

Yura sayang,
Jangan terlalu lelah bekerja, nanti kamu sakit. Memangnya kamu gak kasihan dengan Diana dan Yudi yang kehilangan banyak waktu untuk bermain bersama kamu? Ayolah, luangkan sedikit waktu untuk mereka berdua.

Yura sayang,
Mama bangga sama kamu. Selalu. Kamu itu istimewa. Mama ingat waktu kamu lahir Nyima dan Kipa sempat berbincang lirih “Silva, semoga anakmu menjadi anak yang membanggakan. Tidak seperti kamu yang lelah kami besarkan, malah berakhir di rumah sakit jiwa.” Terima kasih kamu masih menjadi anak yang luar biasa, meski ibumu hanya orang yang tidak waras dan membutuhkan perlakuan khusus setiap harinya.

Yura,
Mama baik-baik saja disini. Sudah lebih baik kalau katanya Suster Maria. “Kamu sudah tidak gila, Silva” Tapi mama ingin berjumpa dengan kamu, Yudi cucu kesayanganku, dan merasakan bubur ayam resep khas Diana. Yura, sesekali kunjungi Mama disini ya, Nak.

Cium sayang untuk Yura.

Mama.


Oleh: @starlian
Diambil dari: http://starlian24.wordpress.com

Surat Permintaan Maaf

Kepada kamu,

Akhirnya semalam terjadi juga kejadian yang selama 4 bulan ini kita hindari.
Maafkan aku yang membuat dirimu di dalam kesulitan, tapi sudah seringkali aku peringatkan untuk jangan sembarangan meletakkan handphone terlebih jika suamimu sudah pulang kerja.

Walaupun namaku di handphone-mu sudah kamu ubah dengan nama “SPG – Rista” tapi suamimu tidak cukup bodoh untuk dapat membaca dan kemudian mengerti puluhan SMS cinta yang kita saling kirim saat dia tidak di rumah.

Maka pagi ini aku hanya bisa berdoa supaya semua akan kembali normal, aku harap kamu bisa meyakinkan suamimu bahwa aku benar hanya seorang teman kerjamu yang biasa memanggil sayang ke semua karyawan di tempat kerjamu.
P.S : Telepon atau SMS aku ya jika semuanya sudah normal. I ♥ You

Oleh: @RiztonRiston
diambil dari: http://ungubirumuda.wordpress.com

Kamu, Toko Bangunan, Dan Mimpi Semalam

            Halo, Pa. Di suatu tempat yang aku harap Papa sedang duduk-duduk di taman Surga sana, bagaimana kabarnya ? Baik pasti, karena doaku masih terus terjalin satu per satu untukmu.

Hari ini aku ke toko bahan bangunan, Pa. Beli lem kayu. Jangan pura-pura bertanya “Toko bangunan yang mana ?”, karena sebanyak apapun toko bangunan yang ada di kota kita, kita berdua hanya gemar pada satu toko kecil yang terdekat dengan rumah. Begitupun hingga sekarang ketika aku harus ke sana sendirian tanpa Papa. Iya, baru kali ini aku menjejakkan kaki lagi ke sana sejak Papa pulang ke Tuhan. Penjaganya masih sama, Pa. Masih Ibu tua dengan anak laki-lakinya yang jari tangan kanannya cacat.
Ah, tentang untuk apa aku membeli lem kayu itu tidak penting Pa. Yang penting adalah ketika sampai di sana, rasanya seperti aku ingin mengaitkan tanganku ke lengan Papa. Seperti aku ingin berjalan di belakang Papa seperti biasanya. Seperti di sebelah kananku, masih saja aku harap ada Papa yang selalu mengajakku ke tempat-tempat yang jarang dikunjungi anak perempuan lain dengan ayahnya. Dan toko bangunan itu, salah satunya.
Beberapa hari yang lalu, aku bermimpi tentang Papa. Papa yang tiba-tiba pulang dari rumah Tuhan, membenarkan atap rumah kita yang bocor. Saking senangnya Papa kembali, aku nyaris mengirim pesan singkat ke teman-temanku, “Hei, Papaku udah nggak meninggal !!” begitu isinya kira-kira. Tapi urung, Papa dengan cepat menarikku, mengajakku ke toko penjual ikan.
Di sana, Papa membeli sebuah akuarium superbesar berisi ribuan ikan mutiara warna putih-oranye yang entah untuk apa ikan sebanyak itu. Lalu, perjalanan kita berlanjut ke tempat karaoke. Random sekali, kita bernyanyi dalam waktu singkat dan menghabiskan uang satu juta rupiah untuk itu.
Lalu papa pergi lagi, aku pulang sendirian. Tapi kemudian aku bangun. Bangun dan menyadari penuh bahwa keberadaan Papa makin sebatas fiksi adalah hal yang paling miris.
Ah, sudahlah. Aku menyeka air mataku lagi ketika aku begitu antusias menceritakan mimpi semalam kepada Mama sampai menangis.
Ketika membaca surat ini, semoga Papa tidak sedang menikmati anggur hijau dalam nampan emas bersama para bidadari Surga, karena aku dan Mama pasti akan cemburu. Bacalah surat ini sebelum tidur saja, Pa. Biar aku bisa terbawa dalam mimpimu.
Semoga Tuhan menjagamu, Pa. Juga kita.
Anakmu yang rindu setengah mati, Putri.
 
oleh: @pupusupup

#1 Surat Pengunduran Diri


Kepada Kamu,

Bos percintaanku... Kau semakin lama semakin kurang mengerti karyawan yang sudah banting tulang kerja di kantor yang bernama hatimu.

Maka sudilah kiranya sekarang aku resign dari hatimu. Mungkin hati yang lain bisa lebih menghargai prestasi kerja dan menjanjikan posisi teratas untuk aku.

Sekian.

oleh: @rizkymamat
diambil dari: http://rizky-muhammad.blogspot.com

Untukmu, yang di telapak kakinya tersimpan surga yang kurindukan


#30harimenulissuratcinta
Hari pertama

Assalamualaikum, ibuk.

Buk ini mbak,
jam segini pasti ibuk lagi tidur, lalu tiga jam lagi mulai telpon bangunin mbak, hehe...

Ibuk mbak kangen ibuk...
Ibuk tau nggak? Mbak nggak pernah ngomong langsung, tapi mbak sayaaaang banget sama ibuk . Maaf ya buk, mbak sering ngecewain ibuk . Mbak bikin ibuk nangis, bikin ibuk sedih, tapi diulangi lagi kesalahannya. Mbak kadang pengen pulang cuma buat meluk ibuk.

Ibuk tau kan di meja kamar kos ada foto sekeluarga? mbak sering ngliatin foto itu . Kadang mbak senyum, inget kalo lagi ngumpul bareng di rumah . Kadang mbak sedih kalo lagi kangen . Kadang juga mbak nangis . Mbak kadang ngebayangin ibuk dirumah, sepi, sendirian, nggak ada temen ngobrol, akhirnya ibuk sholat, cuma ngobrol sama Allah, minta biar mbak yang di Jogja dan bapak yang di Kebumen sehat . Minta biar mbak kuliahnya dimudahkan, minta biar anak-anaknya nggak lupa sama Allah . Doa ini itu buat sekeluarga .
Ibuk bahkan pernah bilang, "mbak mbok kalau mau ujian sms ujiannya jam berapa, biar ibuk bisa dhuha pas mbak ujian".

Mbak pengen jadi kayak ibuk, ibuk bener-bener wanita luar biasa . Ibuk sering cerita masa kecil ibuk, trus ngliatin foto ibuk waktu kecil . Keluarga simbah dulu nggak kaya, bahkan anak-anaknya kerja keras biar bisa sekolah . Ibuk pernah cerita, karena itu waktu SMP dulu ibuk pemalu jadi nggak punya banyak temen . Ibuk pernah cerita jaman SMA dulu, ibuk tinggal sama temen mbah kakung, yang nyekolahin ibuk . Tapi ibuk kerja di sana . Tiap pagi bangun sebelum subuh, nyapu seluruh halaman rumahnya yang seluas lapangan sepakbola itu, bersih-bersih, cuma biar bisa sekolah . Lulus SMA ibuk ke Jakarta, nyari kerja . Selalu tiap ibuk cerita jaman 'susah', mbak pengen nagis, ngebayangin ibuk waktu kecil, ngebayangin keluarga mbah yang serba kekurangan.

Buk, mbak minta maaf, mbak pernah bikin salah, yang bikin bapak sakit di Kebumen . Akhirnya malah ibuk yang kelabakan . Ibuk langsung lari ke Kebumen buat ngrawat bapak . Trus minggu depannya ibuk sengaja ke Jogja buat ngomong sama mbak . Kita lagi-lagi cuma nangis berdua.

Ibuk sering bilang, kalau ibuk meninggal nanti, mbak udah bisa apa? Kalo ibuk menginggal nanti, ibuk cuma minta doa dari mbak, makanya mbak jadi anak sholehah biar doanya diterima sama Allah, biar ibuk kuburnya luas, terang... Mbak nggak suka sama topik yang seperti itu, mbak nggak pernah tahan ngebayangin mbak pulang, dirumah sepi, gelap, meja makan kosong, rumah berantakan . Bapak pasti jadi jarang pulang, semakin workaholic apalagi setelah anak-anaknya gede . Adek-adek udah pada kuliah, diluar kota jadi jarang pulang . Lah mbak?

Kalau mbak pamit berangkat ke Jogja, ibuk selalu nganter sampe depan rumah, dilihat sampai motor atau mobilnya nggak kelihatan lagi . Kalau bapak berangkat kerja juga . Bahkan kalo adek berangkat sekolah ibuk juga selalu seperti itu, karena takut kalau di jalan kami kenapa-kenapa . Takut kalau itu terakhir ketemu kami, nggak bisa ketemu kami lagi .

Ibuk pasti sering kesepian di rumah? Mbak pengen tiap hari bisa ketemu ibuk, tiap hari bisa nemenin ibuk di rumah, sekedar duduk jadi temen ngobrol karena ibuk nggak kerja . Atau nganter ibuk kesana-kemari .

Ibuk seneng banget baca buku-buku kesehatan, katanya dulu cita-cita pengen jadi dokter, tapi malah kuliah di SMK biar abis lulus bisa langsung kerja . Karena dulu nggak ada biaya buat sekolah kedokteran . Tapi sekarang kalau disaranin sekolah lagi, sekedar kursus pun ibuk nggak pernah mau, kata ibuk, 'buat bayar sekolah anak aja' .

Mbak selalu pengen jadi orang yang bisa dibanggain sama ibuk, pengen ibuk bisa ngomong "mbok koyo mbak Rizka kae lho" . Mbak juga banggaaa banget kalo lagi ngobrol, trus bikin ibuk ketawa, pasti mbak diam-diam senyum sendiri .

Buk, makasih ya tiap pagi udah telpon, bangunin mbak . Makasih ibuk selalu panik tiap mbak bilang mbak sakit . Makasih ibuk selalu nyantumin mbak di setiap doa ibuk . Makasih buat masakan-masakan ibuk yang bikin mbak rindu rumah . Makasih sudah menomor-duakan semua keinginan ibuk buat bayar biaya kuliah mbak . Makasih selalu belain mbak kalo mbak dimarahin bapak .

Mungkin mbak nggak pernah berani nyampein surat ini langsung, tapi semoga tiap mbak meluk ibuk, ibuk tau betapa sayang mbak sama ibuk, betapa mbak berterimakasih dan bersyukur dilahirkan dari rahim seseorang seperti ibuk .



Peluk, cium, sayang,

Mbak Rizka

Oleh: @TiaRizka

diambil dari: http://sejutakatakata.blogspot.com

2 x 2.5 m

8 Agustus 2010
Aku masih ingat hari itu beberapa bulan yang lalu
Ketika ku kemasi impianku, walau hanya berupa satu dua helai baju dan beberapa buah buku…
Tapi tetap kusiapkan dengan mantap, untuk nanti ku titipkan kepada mu…
Aku masih ingat saat itu ,seperti dejavu memang, aku melangkah malu berangkat ke kotamu…
Mencoba mencari kembali segala harapan yang mereka buang , yang mereka campakan….
Jujur , awalnya aku takut…
“apa yang musti aku lakukan disana ?”,
” apakah aku akan bisa ?” ,
” apakah kita akan bahagia?”
Sejuta pertanyaan semacam itu memuncak di otakku, padahal aku laki laki, mustinya aku tak begitu…
Tapi semua itu terhapus oleh senyummu ketika menyambutku…
“kamu pasti bisa” itu katamu sambil menatapku dalam, dengan gaya optimis mu yang lucu..
2 x 2.5 meter, ya itu ukuran ruangan ini
Aku ingat ketika pertama kali kita membukanya…. Dahimu berkerut sedikit tanda ragu …
“ngak apa apa kan kamu disini sayang?” katamu sedikit bimbang
Wajar memang ke khawatiranmu…
Tak ada yang istimewa,sebuah ruangan sempit dan dingin, hanya sebuah tempat tidur yang mungil, lemari baju tua, dan meja yang tak jelas untuk apa gunanya….
“ya, ngak apa apa” jawabku lebih mantab dari keraguanmu
“kamu akan baik-baik saja” katamu lagi, mustinya itu kata kataku…
Tapi nanti tempat ini pasti akan lebih indah dari kelihatannya
Karna dekorasinya adalah senyummu, radionya adalah senandung kecilmu, dan televisinya adalah cerita konyol kita berdua
Kita pernah bahagia, walau kita bersembunyi di dalamnya.
Kita mencoba berlari dari dunia, berlari dari hujatan mereka..
Betapa kita seperti kerang , kita jadikan tempat ini cangkangnya dan kita mutiara di dalamnya…
Sungguh aku ingat setiap harinya… setiap kau muncul didepan pintu dengan kotak kecil jatah makanku hari ini…
Selanjutnya pasti akan ada tawa kerasmu, ribut ribut kecil yang diselingi tamparan lembut dan lemparan kotak sepatu, kisah harapan harapan mu tentang kita dimasa depan,tentang bidadara gendutmu dan tak lupa juga sedikit adegan pemerkosaan
betapa kita tak berharap mereka mengerti… betapa mereka tak sadar kau telah membuatku menjadi laki laki yang lebih baik…
betapa aku mencoba untuk bisa memenuhi semua harapan harapanmu…. Untuk membuatmu bangga berdiri disampingku
maaf saat itu aku tak bisa kau banggakan…

tapi kini kamu tak bisa lagi berada disini…
kau menyerahkan kembali semua impianku yang telah kutitipkan padamu..
“aku ngak kuat sayang” katamu sambil berlinang
aku sadar kau telah memberikan segalanya tapi tetap aku meminta lebih… mereka meminta lebih….
Bukan salahmu… mungkin cintaku tidak sebesar kebencian yang mereka tebarkan
Betapa seperti percuma apa apa yang telah ku berikan, yang telah engkau relakan
Tapi aku tak menyesal….
Karna lihat aku sekarang sayang….
Aku telah menjadi seorang laki laki yang lebih baik, walau mungkin belum sebaik yang kau harapkan…
Sekarang aku bisa membantumu sedikit , walau mungkin tak sebanyak yang kau butuhkan….
Kini aku bisa kamu andalkan, walau mungkin belum sehebat yang kau bayangkan….
Minggu esok waktu tempat ini akan habis..
Izinkan aku menunggumu disini sekali lagi, sambil memungut dan mengumpulkan lagi serpihan impianku dari atas lantai yang sekarang jarang aku sapu….
Sebelum tempat ini aku kunci untuk yang terakhir kalinya…
Dan aku berharap suatu saat bisa kita buka lagi pintunya..
Bukan ditempat ini tentu saja, tapi di tempat yang luasnya minimal 10 x 13 meter….
Dan kita di dalamnya bukan lagi untuk sembunyi…
Kita didalamnya untuk berkata “ ya, kami bisa”…
Kita masuk didalamnya untuk berkata kepada mereka, dengan segala kerendahan hati
“ ya, kami bahagia”….

Yang mencintaimu



Oleh: @bayuvoice

Jaga diri,jangan jual diri

Aku benar-benar tidak tau mengapa suratku yang pertama ini harus kutujukan ke kamu.
Mengingat betapa menyebalkannya setiap omongan-mu jika kita bertemu ataupun sedang berbalas pesan, harusnya aku kirimkan surat pengancaman pembunuhan dengan cap darah berbentuk love.

Ya sudahlah, tidak banyak kata pembuka yang bisa kurangkai untuk sekedar berbasa-basi dengan mahkluk seperti kamu.

Bagaimana medan dan sekitarnya? ya terutama pematangsiantar tercinta, salam peluk hangat buat kota kelahiran yang dingin itu.

Kau tau? Dua hari yang lalu aku menghabiskan sebungkus tissue dipagi hari. Aku pikir ibuku akan pergi meninggalkanku, ternyata cuma mimpi. Hah! Sialan!! Jika mimpiku berwujud manusia, mungkin sudah kuletakkan sepotong silet di leher kanannya.

Sungguh sia-sia air mata dan ingus yang terbuang begitu saja hanya karena mimpi itu.
Padahal masih bisa kupakai untuk menangisi jadwal kuliah yang sedang tidak menentu, atau menangisi dapur kontrakanku yang masih saja bocor saat hujan deras.

Oh ya bagaimana sakhi? kuatkan hatimu dalam menjalani hari sebagai seorang perempuan yah. Jangan ikuti aku yang sudah menghabiskan banyak tissue untuk kehidupan yang cukup nista ini. Lebih baik kita menghemat uang dan hasil alam.

Seminggu lagi aku akan menjalani Ujian Akhir Semester, doakan aku yah *pasang ikat kepala warna merah*. Jangan doakan tentang ulanganku, tapi doakan agar kemalasanku pergi menjauh saat aku harus belajar. Kau tau? uang kuliahku mahal sekali, entah darimana mama papa mendapatkan uang sebanyak itu untuk anak yang tidak cukup membanggakan seperti aku. Ya kembali ke laptop, “TUHAN itu baik” maka aku masih bisa menikmati hidup.

Hmm jangan jajan terlalu banyak yah. Sisihkan sebagian uangmu untuk rencana liburan ke bali yang kita bicarakan bulan lalu. Aku masih penasaran bagaimana rasa air di sana, apa mungkin rasa surga? maka disebut Pulau Dewata

Sudah ya? kuakhiri suratku, karena jika kulanjutkan aku takut akan banyak curcol nantinya. Dan akan bermunculan penjelasan tentang kelakuan menyimpangmu selama ini, selama menjadi sahabat terbaikku . Titip mamaku ya? berkunjunglah ke rumahku jika kau sempat, perhatikan dia sedikit karena aku sedang jauh.

Baiklah bodat, aku merindukanmu dan kau pun harus merindukanku. Jaga diri jangan jual diri ya @riaArmantoo *ketjup* .






Some of my regrets for you mom

Maafin dio ya ma, maafin atas


Dio yang selalu menghina masakan mama, tapi mama tetap terus membuatkan makanan untuk dio.


Dio yang selalu mencaci maki mama, tapi mama tetap peduli dengan dio.


Dio yang selalu merasa kurang puas dengan uang jajan dio, tapi mama terus memberikan uang untuk dio.


Dio yang selalu malas ketika mama suruh gereja, tapi mama terus gereja dan berdoa untuk dio.


Dio yang selalu membengkang disaat mama menyuruh dio untuk menjemput mama tapi dio tidak kunjung datang, mama tetap setia untuk menunggu dio menjemput mama.


Dio yang selalu mengejek mama, disaat mama senang untuk memuji dio.


Dio yang selalu menolak untuk belajar, yang sebenarnya mama menyuruh itu untuk kebaikan dio sendiri.


Dio yang selalu marah-marah disaat mama menangis.


Dio yang selalu pergi hingga tengah malam disaat mama menunggu kepulangan dio sendiri di ruang tamu.


Dio yang selalu mengacuhkan disaat mama menyuruh dio untuk tidur, yang sebenarnya itu untuk kondisi tubuh dio sendiri.


Dio yang selalu masa bodo disaat mama menyuruh dio berhenti untuk merokok, yang sebenarnya itu untuk kesehatan dio sendiri.


Dio yang selalu membuang-buang uang dari mama, disaat mama sedang bekerja keras untuk mendapatkan uang.


Dio yang selalu mematikan telfon, disaat mama cemas dan terus menghubungi dio.


Dan masih banyak lagi.... Maafin atas tingkah laku dio selama ini ya ma. Mungkin dulu dio sungkan untuk menyatakannya langsung buat mama. But you have to know mom, from the deepest of my heart... I love you and miss you so much,
like a kid love his candy.



Oleh: @imdiio

Untuk bidadari ku Arfi

untuk Arfi tersayang

entah kenapa tiba-tiba aku harus menulis surat ini padamu,, mungkin ini karena selama ini kita jarang ketemu ya,,?? sudah 2 tahun lebih kita gak ketemu. tapi rasa itu tak kunjung hilang dari hati ku, sejak kita berpisah tahun lalu, aku tak mampu melupakan mu fi,
aku terus berusaha,, tapi apalah daya,, ku tak kuasa,

boneka pemberianmu itu,, kini aku simpan baik2 di kamar ku,, tak seorangpun yang ku perbolehakan untuk menyentuh nya.. hanya benda itulah yang selama ini menemaniku dari kita lulus SMA sampai sekarang sudah semester 3. aku bener2 gak bisa lupakan mu fi,,

mata mu yang indah,,, rambutmu yang berombak,, tubuh mu yang mungil... sungguh aku tak kuasa mengingat saat" kita bersama dulu..

saat kita makan bakso d cak MIn,, deket terminal itu,, kau suapin aku. waktu kita duduk didepan rumah mu,, ngobrol seru dan tiba" ayah mu datang,, itu lah yang tak pernah bisa aku lupakan,,,

fi...
masih kah kau simpan cincin itu,, fi?? cincin itu kini aku gantungkan di leherku,, pernah suatu kali cincin itu hilang,, aku tak kusasa menahan air mata ku,, masa bodo apa kata temen ku,, cengeng lah, apa lah,,, bodo,, akhirnya ketemu di kamar mandi,, aku senang sekali,, karena itulah kenangan ku bersama mu,,,

kini dunia kita sudah berbeda,,
aku tak dapat mencintai mu lagi,,, tapi kenangan bersama mu,, tak akan mungkin terhapus dari otak ku,,,


sayang mu,, EKA

A & E




Dear You Boy..!!

Hai jo, apa kabar?? hmmm... aku bingung harus mulai dari mana.. tapi yang aku tahu.. aku kangen ma kamu.. Kamu mungkin berfikir kalau aku membencimu hingga akhirnya kau memutuskan untuk pergi begitu saja.. mungkin saat itu aku jengkel.. tapi aku tidak pernah marah padamu jo..

"Dear You Boy.."
aku ingin bisa mengucapkannya secara langsung lagi seperti dulu..
masih ingat itu panggilan sayangku padamu kan??

kamu mungkin merasa aneh kenapa aku harus mengirimkan surat ini lewat @PosCinta, tapi justru aku ingin nunjukin ke kamu kalo semua sahabatmu disini selalu cinta dan sayang padamu jo, setelah kamu baca surat yang aku kirim ini.. aku tidak berharap balasan apapun selain kamu bisa tersenyum lagi seperti dulu di hadapanku..


cek my twitter please boy : @Fadhie2
coz, aku gak tahu account twittermu.. hehehee




Yang selalu merindukanmu,
- dhiLa -


Oleh:

Perkenalkan

Dear Tiga…

Saya perkenalkan, nama kamu Tiga. Selain Tiga saya juga punya satu panggilan lagi buat kamu 7432522173 524221818253437481439121. Tapi sepertinya itu terlalu panjang untuk dilafalkan dan dihafalkan, makanya saya lebih suka memanggil kamu Tiga. Jadi biarkan saya untuk memanggil kamu Tiga.






Oleh:

Dear Bapak…

Dear Bapak, mungkin kau akan sedih melihat ketidakberdayaanku saat ini. Sangat tidak mencerminkan apa yang telah kau berikan kepadaku selama hidupmu. Tapi apalah daya, aku hanya anakmu yang selalu bergantung kepada orangtuanya, kepadamu. Dan lalu kepada siapa aku harus bergantung, jika ternyata janjimu kepada Allah yang harus kautepati lebih dulu.

Dear Bapak, beberapa hari yang lalu, saat aku baru seminggu bekerja, aku pulang dan tiba-tiba tanpa sadar ingin mengirim sms kepadamu, bercerita tentang bagaimana pekerjaanku hari itu. Lalu sebuah ingatan berkelebat, memanggil mendung diwajahku, menghantar sebuah gerimis yang dengan segera berubah menjadi hujan deras. Bapak, aku ingat saat terakhir kita mengobrol tentang hidup, tentang bagaimana kau bercerita tentang mudamu, sesuatu yang sangat aku benci. Tapi sungguh, itulah hal terakhir yang sangat aku ingat saat ini. Saat kau bercerita tentang gaji pertamamu yang membuat Nenek menangis, tentang bagaimana kau tak pernah memilih-milih pekerjaan. Lalu saat ini kepada siapa aku harus bercerita tentang pekerjaaku, cerita yang mungkin sangat didaingin didengar seorang bapak dari anaknya.

Dear bapak, lalu aku harus bagaimana? Sungguh pasti kau akan sangat kecewa melihat aku yang begitu rapuh ini. Mungkin kau akan diam saja, seperti saat aku tak pernah membantumu saat kau sibuk dengan kolam ikan kita, saat kau sibuk dengan urusan halaman belakang. Tapi aku sangat tahu saat itu kau begitu mengaharapkanku untuk membantumu.

Dear bapak, aku sangat ingat bagaimana wajahmu begitu bahagia saat mendengar aku akan segera sidang skripsi, wajahmu begitu yakin bahwa aku akan mampu melaluinya. Mungkin itu adalah berita terbaik yang terakhir bisa ku berikan, karena bahkan kau pun tak bisa menunggu sampai saat ujianku. Kau pergi begitu tiba-tiba, aku tak menangis saat itu, tapi mungkin akan terus menagis selama sisa hidupku. Saat ini, aku hanya bisa menyapamu lewat doa-doa selarut pagi, bertemu denganmu melalui kenangan-kenanganmu, dan hidup dengan wejangan-wejanganmu.

Dear bapak, hari ini tepat 100 hari kepergianmu, dan aku tidak ada dirumah, mendampingi Ibu menyiapkan semua keperluan. Semoga kau bahagia disampingnya, disamping Dzat Yang Maha Segala, doa dan cintaku selalu untukmu…



Oleh:

untukmu, yang sedang menunggu..

Sore hari. Tak ada senja yang menghuni. Secangkir sepi. Kopi. Rokok. Gerimis. Kicauan burung walet yang sahut-sahutan berbunyi.

Disini. Tanganku tak bisa berhenti menghasilkan puisi. Sunyi semakin merambah hati. Hasrat berpadu dengan otak, semakin ingin membuat surat cinta. Surat cinta, yang entah kutujukan kepada siapa.


Dear you, @melduds
Maukah kau menemani langkahku?
Menghunus kelabu yang terus membiru.
Hingga tak tersisa lagi semu
Buat kita mengabadikan waktu.

Kamu,
Sendirian di penantian
Menanti seorang terkasih yang belum datang
Cemberut dalam kepedihan
Menceritakan segalanya pada seorang teman.

Kawan,
Kesabaran itu indah,
Menghangatkan luka yang terbelah
Semerah senja yang cerah
Bersama doa yang merekah

Kini,
Dalam diamku,
kudoakan yang terbaik untukmu
Di malam yang berhiaskan kupu-kupu
Ketika sajak mekar di hatimu

Sampit, Januari 2012
Saat kunang-kunang mulai bertebaran
Di malam yg sebentar lagi datang



Oleh: @harrykajoddy

Sebuah surat, beberapa bait puisi



Dinda...
tawamu merdu, mendayu di rongga telingaku
bak syair lama yang bangkit dan menari-nari dikepalaku

Kawanmu indah dinda...
Memanjat-manjat disetiap lekukmu
Terhantup-hantup disetiap derapmu
Tiap hari senja bertengkar dengan pekat
Berebut layang putus
Lalu kau datang dengan senyummu
Mendamaikan keduanya dengan lolipopmu

Dinda...
Lakumu taman bermainku
Membuat deretan ketapang berbuah caramel
Dan bukit memutih memuntahkan vanila segar
Menyambut hujan permen karet kenyal berwarna warni

Dinda..
Kaulah anak imaji yang hanyut bersama Musa
bayang harap pada kaki Ismail ditiap jengkal zamzam
kau ada pada kemarin yang kuucapkan esok
dan esok yang kudengungkan kemarin

Dinda...
Kaulah
Yang Merobek-robek resah,
membunuh sepi,
memadamkan benci...

Aku mau jemarimu mengisi sela jejari tanganku ketika kita beriring...
Sudikah...?



BAB 1 : AWAL MULA PERJALANAN

Halo dan selamat datang!! Sekarang sebelum kita memulai perjalan,silahkan kencangkan sabuk pengaman dan jangan lupa untuk senantiasa tersenyum dan tertawa karena itulah bahan bakar utama kendaraan kita…

Sekarang mari kita nikmati film dokumentasi terlebih dahulu.

Ada sebuah masa dimana setiap orang senantiasa tersenyum dan tertawa.Yap,itulah yang di sebut Masa Kanak-Kanak. Dimana tidak ada beban dan keraguan yang membayangi,apalagi tangis sedih yang berlangsung lama.Yang kita tahu hanyalah kesenangan yang sangat berlimpah-ruah seakan kita bisa melompat kedalamnya dan terlelap dalam tidur.

Puncaknya adalah dimana kita merasakan cinta.

Saat kita merasakan cinta,disaat itulah janji Tuhan tergenapi.

Saat kita merasakan cinta,disaat itulah ada yang bergolak dalam tubuh setiap pribadi

Saat kita merasakan cinta,disaat itulah seakan tidak ada masa lau atau masa depan

Saat kita merasakan cinta,disaat itulah ku berharap waktu tak cepat tuk berlalu

Saat kita merasakan cinta,disaat itulah aku merasa tulang rusukku kembali lagi

Dan aku sadar,Tuhan telah menciptakan tulang rusukku yang hilang itu dan telah kutemukan bahwa itu adalah dirimu.Dan seperti yang dikatakan setiap orang tua “Kejarlah Terus Mimpimu”, aku semakin yakin bahwa Orang Tua adalah Tuhan yang dapat kulihat…

Awalnya aku sempat bingung,tapi lama-kelamaan aku tahu Satu hal yang memulai perjalanan hidup ini, yaitu…

“Kau adalah seseorang yang senantiasa berada di mimpiku dan Tidak akan ku menyerah karena itulah yang telah difirmankan oleh Tuhan dan telah di-izinkan oleh orangtuaku”


Oleh: @FW_Simbolon

kamu yang dari dunia maya

hai kamu, kamu yang datang dari dunia maya, tapi terlalu nyata untuk aku acuhkan. aku tau, perjumpaan kita hanya sebatas lewat jejaring sosial. hanya lewat dunia maya, dunia yang kata orang penuh tipu daya dan kebohongan. boleh tidak aku tidak setuju dengan pendapat mereka? karena, aku merasa berbeda saat aku kenal sama kamu.

jangan tanya awal perkenalan kita bagaimana, karena akupun lupa. yang aku ingat awal kita kenal melalui friendster, berlanjut ke yahoo messenger, sampai berlanjut ke twitter. tapi, dari kesemuanya aku suka kita lewat Yahoo Messenger. karena, hanya ada aku, kamu serta pikiran kita berdua yang tertuang lewat ketukan jari di keyboard. aku ingat, saat pertama kali kamu nemenin ngerjain laporan sampai tengah malam. tentu saja lewat chatting lah kamu nemeninnya. buat aku itu sesuatu yang spesial, dan dari situlah aku mulai memujamu. tak peduli orang bilang aku akan kecewa bila bertemu langsung. buatku, nyaman denganmu akan mengalahkan segalanya. ya, sampai saat ini aku memang bertemu denganmu. tapi aku yakin, suatu saat nanti kita akan bertemu dengan cerita kita sendiri.

..fny..




Surat di balik Selimut

Mama, anakmu mengirimkan surat cinta, jangan Kau tertawakan.



Selamat malam Mama,

Benar bukan ini malam?

Aku hapal betul, sebagai perempuan lain yang 20 tahun Kau tumbuhkan bersama kekasihmu dan sebagai satu-satu nya perempuan yang berbelas tahun lalu s-e-l-a-l-u mengamati gerak gerikmu dan menirunya di kamar tempat ia tidur. Aku menjadi hapal betul Ma, Kau akan membaca ini pada waktu sinar matahari sudah tidak berwarna kuning. Dan Kau mengantinya dengan sinar lampu yang redup redup. Kemudian Kau berbaring di sisi kanan tempat tidur, menarik selimut dan *badaaa* Kau menemukan selembar kertas jatuh melayang layang ke dadamu –itu bayanganku, terjatuh didadamu.

Mama, aku memilih menyelipkan surat ini di bawah selimutmu. Karena dengan alasan yang masih sama, hapal betul. Kau hanya akan menyentuh peraduan tidurmu ketika Kau telah puas berbincang dengan kami. Setelah kita sama sama merangkum hari diatas meja persegi. Dan dengan Mama menemukan surat ini, mungkin akan terlintas di benak mama seorang perempuan yang sempat kau juluki pinang. *sekarang, Ia sedang berpura-pura tidur*. Doa perempuan itu malam ini, semoga kedatangan pagi membuat Mama tidak terlalu ber-emosi memergoki wajahnya yang malu malu. Kabulkanlah :)

Selamat malam Mama yang cinta nya selalu sempat untuk menyindirku. Hampir setiap sore mama uring uringan, sore ini pun. Karena pagi ini seperti biasa, aku terlambat bangun, terlambat kuliah, dan karena pagi ini mama harus mengejarku hingga jalan raya karena aku lupa menjalani ritual kita, mengucap kalimat sajak ”aku berangkat dulu ya ma” sambil mencium tangan kananmu.

Ma, apa Mama ingat sewaktu dulu, sebelum Kau girangkan hatiku dengan kecupan selamat tidurmu, Mama selalu membawa setumpuk kertas dan menanyaiku tentang dongeng apa yang ingin ku dengar. Seperti hari itu Ma, bacalah dongeng pilihanku yang terselipkan dibalik selimutmu. Bacalah dan ceritakan dengan berbisik kepada kenangan. Kemudian jika Kau berkenan, kecuplah kenangan kita sebagai tanda Kau mencintainya.

Sudah ya Ma, Mama mesti tidur. Aku tahu Mama lelah. Lagi punya surat ini hanya menghantar ucapan selamat malam dari perempuanmu yang pemalu. Besok pagi Ma, jika bertemu aku, jangan Mama banyak membahas tentang surat ini. Kecup saja keningku sebagai ganti surat balasan dari mu. Dengan begitu aku tahu, Mama mengijinkan aku lebih sering menyelinapkan dongeng lain dibalik selimutmu.

Selamat malam mama yang cintanya tak pernah reda.

Dekap surat ini setiap waktu jika selimut Mama sudah tidak lagi menawarkan hangat.


Dari : anak perempuan Mama yang pemalu




Oleh:

Teruntuk Kekasihku

Teruntuk kekasihku, SN…

Tadi malam aku bermimpi tentang kamu..
Mimpi itu berawal dari pertemuan pertama kita.. Aku masih ingat.. Kamu yang mengenakan kaos warna abu-abu gelap, jeans, sneakers, rambut di gel rapi, piercing di telinga sebelah kiri, dan senyum yang menawan..
Kita hangout sama teman-teman kita.. As usual, kamu selalu menggandeng tanganku dan bilang ke teman-teman kamu kalau kamu nggak akan mau melepasnya.. :’)
Kita jalan-jalan seperti biasa, sampai akhirnya mimpiku berubah lagi.. Kamu mengundangku ke acara yang diadakan di campus kamu.. Yang dimana semua undangan wajib mengenakan pakaian formal (gaun dan jas/kemeja).. Aku yang pada saat itu mengenakan mini tube-dress berwarna merah, terlihat hanya berdiri sendiri di tengah-tengah kerumunan pasangan yang diundang di pesta itu.. Setelah sekian lama, akhirnya aku memutuskan untuk menepi ke pinggiran ruangan dimana tidak banyak orang yang duduk disitu.. Tempat itu dekat dengan sebuah grand piano mewah berwarna hitam.. Namun sayang tidak ada satupun yang tergoda untuk memainkannya..
Akhirnya akupun memutuskan untuk diam dan duduk di salah satu kursi di dekat situ.. Tiba-tiba satu per satu dari teman-teman mendatangiku. Mungkin mereka bingung kenapa aku sendirian. Well, akupun sedih, karna disaat semua orang bisa berdansa dengan kekasihnya, makan bersama, berbincang-bincang, aku hanya bisa duduk diam di tepi ruangan seorang diri dan hanya ditemani oleh sebuah grand piano hitam yang juga sendirian tanpa ada satupun yang tertarik dengan kemewahannya..
Aku hanya bisa diam dan tak mampu berkata apa-apa sampai tiba-tiba….
Kamu datang….
Diantara kerumunan pasangan-pasangan diruangan itu, kamu datang…
Dengan setelan jas hitam, rambut ber-gel rapi, aroma tubuh yang wangi, piercing di telinga sebelah kiri (tetap), senyum yang mempesona (selalu), mata yang tegas seiring dengan langkah kakimu, dan…..
Sebuket besar mawar merah ditanganmu….. :’)
Kamu berjalan menghampiriku, memberikan buket itu untukku, mencium keningku, dan tanpa berkata sepatah kata, kamu berjalan menghampiri grand piano yang sejak tadi kukagumi kemewahannya..
Sesaat aku heran dan bingung, karna setahuku kamu tidak bisa bermain piano.. Namun tidak untuk malam itu.. Dan di mimpiku..
Dengan lembut, jari-jari mu menari-nari diatas tuts piano, memainkan ‘lullaby’ yang kau buat kan khusus untukku… Lullaby terindah yang pernah kudengar.. (Sebenarnya satu-satunya, karna belum ada seorangpun yang dengan manisnya membuatkan rangkaian nada seindah itu untukku :’) )..
Dan dalam hatiku, aku mengatakan pada diriku sendiri… “Apakah Bella Swan juga merasakan hal yang sama dengan apa yang kurasakan saat ini, ketika Edward Cullen memainkan lullaby yang dibuatkannya khusus untuk Bella?”
Benar-benar perasaan terindah yang pernah kurasakan.. Walau hanya dalam sebuah mimpi yang tak akan terlupakan..
Mataku tidak bisa berpaling dari sosok yang paling kucintai itu.. Kamu.. :’)
Dan ketika kamu selesai memainkannya, kamu bangkit dari kursi piano lalu menghampiriku yang membeku dengan sebuket mawar merah dipelukanku.. Dan tanpa mengucapkan apa-apa, kamu mengecup keningku dengan lembut, dan lalu memelukku..
Dan aku pun terbangun…

Betul betul mimpi yang sangat indah untuk mengawali tahun ini.. :’)
Aku harap itu menandakan akan sesuatu yang indah untuk hubungan kita ke depannya..

Aku mencintaimu..

Yours, HCP



Oleh: @Herryn

A LETTER TO THE MOST BELOVED ONE

Ketika aku memutuskan untuk ikut proyek #30HariMenulisSuratCinta ini, dengan yakin aku tahu bahwa surat pertama seharusnya ditujukan kepada kamu yang benar-benar aku cinta. Dan mencintaiku aku lebih dari siapapun, tanpa syarat. Kamu, kepada siapa cinta sejatiku seharusnya bermuara, kepada siapa jiwa dan ragaku seharusnya terjaga. Kepada kamu, sang satu-satunya.

Aku tahu aku bukanlah si ahli perangkai kata. Begitupun ketika aku mulai mengetikkan kata pertama untukmu. Begitu banyak yang ingin aku tuangkan, tapi yang keluar adalah helaan dari mulutku. Seandainya surat ini bisa aku bagi hanya dengan telepati. Tapi tentu akan sangat melelahkan, karena aku harus bercerita satu-persatu kepada mereka yang ingin mendengar kisah kita.

Ah, kamu tentu merasa geli sekarang. Melihat aku begitu blingsatan mencoba untuk menyistematisasikan apa yang ada dalam pikiranku tentangmu. “Akhirnya si keras kepala menyerah juga,” begitu yang aku pikir sedang kamu pikirkan tentangku sekarang. Ya, setelah sekian lama, aku memutuskan untuk menulis kepadamu. Sesungguhnya, jika aku bisa, dan seharusnya bisa, surat untukmu ini tidak hanya terdiri dari 100, 1000, atau berpuluh ribu kata. Ini seharusnya menjadi surat yang tidak ada ujungnya. Masalahnya, kamu pasti tahu, aku tidak terbiasa untuk menuangkan kata cinta.

Apa kata pertama? Ah, mungkin akan tipikal. Seperti, “Apa kabar kamu?” Dan tentu saja kamu akan menjawab seperti biasa, “Kabarku selalu, dan akan selalu baik-baik saja, bahkan ketika kamu merasa kamu tidak baik-baik saja.” Lalu akan aku lanjutkan dengan, “Lagi sibuk apa?” Dan jawabmu akan, “Aku sedang menikmati tugasku menjagamu, mengasihimu, selalu.” Lucu, kamu selalu menjawab seperti itu. Apa kamu tidak bosan? Dan mungkin kamu akan menjawab, “Tidak pernah. Dan jika ya, apakah kamu bisa menerima kebosananku?”

Kamu, kepada siapa hatiku seharusnya aku berikan. Apa kamu tahu, sesungguhnya ketakutan terbesarku adalah kehilangan bagian diriku yang selalu mengingatmu dan balas mencintaimu? Sesungguhnya aku malu, betapapun aku marah, kesal, kecewa, kamu selalu ada untukku. Meski aku tidak selalu segera mendapatkan jawaban atas semua tanya yang ada, kamu selalu punya alasan di balik semua peristiwa. Kerapnya aku tidak mengerti kenapa sulit bagiku untuk mengerti alasanmu, tapi kau tidak jera untuk menjelaskan dengan caramu.

Kamu, kepada siapa aku kerap mengeluh. Apakah kamu tahu, rasanya malu untuk selalu melakukan itu kepadamu. Untuk selalu bergegas mendatangimu ketika beban keluhku sudah membuncah. Untuk selalu menangis ketika rasa sakitku sudah kurasa tak tertanggungkan lagi. Untuk selalu marah ketika aku merasa  tak ada balasan sepadan untuk semua usaha yang kuberikan. Untuk selalu mengumpat betapa tidak adilnya dunia. Sesungguhnya aku malu atas setiamu mendengarkanku.

Tapi melalui surat ini aku ingin engkau tahu. Meski aku begitu menjengkelkan, tapi aku selalu mencintaimu. Aku berusaha keras untuk dapat  selalu mencintaimu dengan mudah. Tanpa mempertanyakan semua jawaban yang engkau berikan atas apa yang aku ungkapkan. Tanpa memberikan jeda atas rangkaian ingatanku tentangmu. Tanpa menyediakan pengganti untuk mengisi ruang yang engkau tempati.

Kamu, mungkin rangkaian kata ini tidak berarti bagi yang lain. Tapi ini adalah ungkapan rasa cintaku untukmu. Dengan cara yang aneh, karena denganmu aku terbiasa bermain kata di dalam pikiranku. Tapi aku yakin engkau mengerti apa yang ingin aku sampaikan. Dan aku yakin, saat ini kau sedang meneteskan air mata sambil menyunggingkan senyuman untukmu. Aku sayang kamu, dan aku akan menjaga agar aku selalu begitu. Seperti yang selalu engkau lakukan untukku, tanpa syarat.

Terima kasih untuk selalu menjagaku. Terima kasih sudah memilih aku untuk mendiami tempatmu. Terima kasih untuk meniupkan nafas dalam jiwaku. Terima kasih untuk membekaliku dengan hati, akal logika dan raga yang sempurna.
Terima kasih untuk selalu menyayangi dan mencintaiku, Tuhan.

Cinta yang tak terhingga,

Ciptaanmu yang keras kepala
@I_am_BOA

Oleh:

Untuk Lelaki Bersepatu Coklat



Hey Bang!

Kaget terima surat dariku? Perempuan yang selalu berbagi pagi bersamamu. Dengan rutinitas kopi hitam untukmu, kopi susu untukku, dan berbatang-batang rokok dari kotak yang sama.

Pasti sudah mau berkomentar “anjis, apa-apaan sih ini?”. Eits, tahan dulu. Ini surat cinta, Bang! Surat cinta dariku, untuk lelaki tampan yang selalu pakai sepatu coklat. Iya, buat kamu. Boleh lah sambil senyum-senyum menahan tawa bacanya.

Sebenarnya dalam surat cinta ini aku mau melakukan pengakuan. Dari beberapa hari terakhir setelah lebih dari 300 hari kita lewati bersama, aku menyadari sesuatu dari kamu yang menarik perhatianku. Ada yang baru dan berbeda dari kamu yang akhirnya membuat aku jatuh cinta. Membuat aku betul-betul menginginkannya.

Sumpah, Bang! Aku gak lagi ngerjain kamu kok. Ini betul-betul limpahan perasaan aku.

Hey, lelaki bersepatu coklat. Malu-malu aku mengakui kekagumanku. Ketertarikanku. Tapi percaya padaku, aku sungguh-sungguh. Gak mungkin aku main-main dengan perasaanku sendiri. Terlebih kalau sudah menyangkut kamu.

Bang, aku sudah tidak lagi bisa menahan besarnya keinginanku untuk mengungkapkan perasaanku ini. Sudah 2 malam aku pusing sendiri memikirkan bagaimana mau mengatakan semua ini padamu. Tapi harus hari ini aku nyatakan semuanya. Kalau tidak, rasanya aku bisa gila!

Baiklah, dengan membuang seluruh rasa malu, grogi, dan segala hal lainnya aku akan mengatakannya.

Aku mau mengakui bahwa aku sebenarnya menyukai dan naksir sama sepatu coklatmu yang baru itu. Bolehkah aku memilikinya? Boleh ya Bang?

Peluk&cium,
perempuanberkemejaflanel


Oleh:

teruntuk dia, yang sekeping hatiku ada padanya.

pontianak, 14 januari 2012


dear kamu,

iya, kamu. yang dua tahun lalu masih jadi orang paling penting sedunia bagi aku.


apa kabar?
kurasa terlalu basa - basi untuk menanyakan hal itu, karna toh kita masih biasa bertemu, sesekali. terakhir aku melihatmu, tahun lalu, di penghujung desember. dan yang kulihat, kau baik - baik saja. jadi sebetulnya, tak perlu aku tanyakan lagi kabarmu, benar?

bagaimana keadaanmu sekarang?
kali ini bukan pertanyaan basa - basi. aku memang tak tahu bagaimana keadaanmu, apakah kau memang baik? apa kau bahagia? dari sepenglihatanku, sepertinya ya. namun rasanya tak adil jika aku membicarakan keadaanmu hanya berdasarkan penilaian sepihak saja. tapi sudahlah, tak penting keadaanmu bagaimana karena sesungguhnya aku tak benar - benar ingin tau. bukannya tak peduli, tapi toh untuk apa? bukankah cerita kita sudah berakhir lama?

sudah lama ya, rasanya aku tak pernah menulis untukmu lagi? terakhir adalah surat untukmu sebelum kau pergi ke kota lain. surat yang menutup sekaligus membuka. surat yang berisi tentang isi hati, harapan dan pemikiran. surat pertama dan kukira akan jadi yang terakhir kuberikan untukmu.

sebab pada saat itu.. aku berpikir, untuk apa menulis buatmu lagi? percuma saja.

sama percumanya dengan menanyakan padamu, 'sudah makan? lagi apa?'
percuma, toh pertanyaan itu tak dibutuhkan lagi karena bukankah sudah ada dia, yang kurasa dapat melengkapimu lebih dari yang kulakukan dulu. yang mungkin perhatiannya lebih utuh daripada aku yang hanya memberi sebatas yang kau butuh. yang mungkin mengertimu lebih sempurna, tak seperti aku yang penuh dengan alpa.

sama percumanya dengan membiarkan rindu - rindu berkelayapan di hatiku seperginya kamu.
percuma, karena tentunya rindu - rindu itu hanya akan berdiam dan beranak pinak di kepalaku sendiri. tak bisa kualamatkan padamu lagi, karena hanya akan tertahan di pintu depan hatimu yang telah kau batasi sejak kau sudah temukan pengirim rindu yang lain, yang rindunya akan kau balas, tak seperti rinduku yang tak kau beri impas.

sama percumanya dengan menangisimu tiap malam hingga sesubuhan.
percuma, karena toh air mataku tak kan membawa apa - apa. hanya akan berlinang, sama seperti kenangan kita yang menggenang. sementara kau terus saja melenggang, dengan dia yang kini kau sayang, meninggalkan aku dibunuh rasa sesak dan sesal yang terus - terusan membayang.

sama percumanya dengan menggantungkan padamu sebuah kesempatan.
percuma, karena seluas apapun pintuku aku bukakan, pada akhirnya hanya akan menjadi apa yang terlewatkan. bagimu aku hanya sebuah serpihan masa lalu yang telak rusak, yang telah terkoyak. dan untukmu, lebih baik memulai cerita baru dan membiarkan yang lalu perlahan tertimbun waktu.

sama percumanya dengan menantimu kembali, di dalam detik menit yang berlalu dengan pasti.
percuma, karena pada akhirnya kau tidak juga disini. aku sendiri, hanya dibarengi sepi yang diam - diam mengekehi. aku hanya bertemankan senyap yang hadirnya terasa lenyap. kau tidak ada, meskipun janjimu kau akan membersamaiku lagi, namun ternyata hadirmu tiada jua. membiarkan aku dan penantianku menjadi apa yang sia - sia.


itulah mengapa menulis untukmu lagi juga jadi sesuatu yang percuma. buat apa? toh pada akhirnya untaian kata - kata hanya akan jadi apa - apa yang tak bermakna.

namun aku mengubah pikiranku belakangan ini. aku memutuskan untuk menulis untukmu, sekali lagi. tidak, bukan untuk meraihmu kembali, melainkan sebagai penutup apa yang sepertinya belum diakhiri.

ya, dua tahun berlalu sudah, tampan.
bagiku, kau bukan lagi jadi titik perhatian, objek rindu yang bertaburan, muara dari sedu sedan, orang yang layak diberi kesempatan serta sebuah tempat pemberhentian.

karena detik demi detik yang menemaniku telah mengajariku bagaimana bertahan. dan mengikhlaskan. bagaimana memulas senyum juga tawa yang tak terpengaruhi secarik kisah nostalgia.
kau sudah bersenang - senang dengan hidupmu yang sekarang, jadi tentu layak bagiku untuk melanjutkan perjalananku sebab hari kita kian petang. dan surat inilah yang menjadi tanda bahwa aku telah mengakhiri segala rasa, meskipun jauh terlambat, kuharap dalam menerimanya kau tak merasa berat.

selamat tinggal, dan sampai bertemu pada perjumpaan berikutnya. mungkin pada saat itu kita akan diiringi oleh teman perjalanan masing - masing, siapa yang bisa menduga? :)


aku akan senang atas setiap bahagiamu, meski itu bukan lagi karenaku dan atas doaku :)

dan oh ya, terima kasih.
darimu aku belajar bahwa untuk menjadi kuat, kadang kita harus cicipi derita hebat.






dari aku,
untukmu, yang sekeping hatiku ada padamu.


Oleh: @ismarestii