25 January 2012

Rumah Yang Selalu Kurindu

My Dearest Balikpapan,

Ini baru cinta. Betul-betul cinta yang dengan lugas kusebut tanpa ragu sedikit pun.

Bagaimana tidak? Selubung tubuhku yang terhubung dengan tali pusat Ibu dan darah pertama kelahiranku, tertanam di sepetak halaman rumah kecil di peluk pelosokmu. Engkau yang kusebut tanah tumpah darah. Engkau rumah yang selamanya aku akan rindu untuk pulang.

Bagi orang lain mungkin kau hanya negeri entah yang tersembunyi di belantara Kalimantan, sekilas seperti ganas dan liar. Mereka tidak tahu dan tidak ingin tahu selesa udara dan langitmu yang selalu biru.

Aku telanjur akrab dengan hutan-hutan kota, jalan-jalan lengang yang menyisir pinggir teluk, malam senyap yang ditingkahi desis obor kilang… hal-hal yang membuatku selalu kangen dan merasa asing di penjuru manapun di dunia.

Kau masih ingat, pertama kali aku belajar naik sepeda? Pertama kalinya kujatuh menubruk dirimu dengan cukup keras. Tapi tanahmu tidak kejam. Empuk, bau lembab tumpukan daun jarum cemara. Kakiku lecet sedikit dan bekasnya masih ada sampai kini. Semacam tanda mata yang manis.

Apa kau juga masih ingat, ibu bapakku dengan paniknya membawaku ke rumah sakit karena nafasku hampir habis? Tapi hangat matahari dan udara pantaimu yang telah memulihkanku. Untuk kau tahu, penyakit itu tidak pernah menghampiriku lagi. Aku baik-baik saja sekarang. Hanya pekerjaan dan perjalanan-perjalanan ini membuatku tak kunjung sempat menemuimu lagi.

Apa kabarmu kini? Kudengar semakin meriah di sana. Kau pasti cantik sekali dengan kerlip lampu-lampu, dancing spotlight di taman air mancur kota, dan ragam-ragam neon sign. Tapi tetap saja, seluk likumu yang senyaplah yang kurindukan. Aku ingin kembali bermain di sesemak yang menyimpan jejak kaki kecilku dulu, kembali duduk mampir di kedai-kedai penjaja nasi kuning dan teh susu panas, melayari rawa-rawa nipah yang magis, atau sekadar menikmati matahari terlelap di teluk permai.

Sampai kini aku tidak tahu, apakah kau akan juga jadi tempat penghabisanku. Tapi aku tidak keberatan merapatkan pelupuk di sana, bersatu kembali dengan separuh hidupku yang telah kau genggam.

Salam rinduku,
anak teluk di perantauan.



oleh @Lily4R

diambil dari http://lily4poems.wordpress.com/

No comments:

Post a Comment