29 January 2012

Variatio 15. Canone alla Quinta. a 1 Clav.

Untuk Bapak gemuk yang sering kulihat di televisi.





Tuan, Kami lapar Tuan,

Tanah kering, umbi mati dihimpit rimba bebatuan

Dan di tivi, kami melihat orang-orang berenang dengan gembira di kolam.

Di sini, hujan adalah hal yang haram

Di tivi, kami melihat orang – orang pakai topi segi lima

Di sini, yang bisa membaca hanya seberapa



Kami bahagia Tuan,

Dimana orang – orang di tivi, terus dihantui ingin membeli barang-barang yang baru

Kami disini hanya dengan bermodal tak seberapa

Bahagia itu susah tuan, semakin sedikit inginnya, semakin bahagia dia –dan itu sungguh susah Tuan.



Kami bahagia, tapi bukan berarti kami tak ingin perhatian darimu juga.



Dari seorang anak (imajiner) di pedalaman NTT.






oleh @MungareMike

diambil dari http://mungaremike.tumblr.com/

Karma Sutralah

Dear Karma,

Kalau tak ada dirimu, mungkin aku sudah menjadi penjahat, penipu, pengkhianat, pelacur dan sebagainya.

Kalau tak ada dirimu, mungkin aku telah terjerumus ke lembah hitam bermain-main di gua penuh para penyamun.

Namun kenapa hidupku sepertinya terimbas kamu sih? aku tidak membencimu sedikitpun dan justru aku berterima kasih kamu ada, apakah mungkin diriku dikehidupan sebelumnya membuat banyak kesalahan sehingga aku harus membayarnya di kehidupan ini? ataukah ini akibat kesalahan dari nenek moyangku?

Setahuku, aku selama hidup tak pernah berbuat kesalahan besar dan selalu ber prinsip melakukan perbuatan yang baik tapi mungkin aku yang sudah semakin tua ini semakin pikun dan tak sadarkan diri, maafkan ya?

Ya Sutralah, aku menerima dengan ikhlas dan mudah-mudahan aku bisa membayarnya di kehidupan ini sehingga apabila aku terlahir di kehidupan selanjutnya, diriku saat itu menjalani hidup dengan penuh kebahagiaan.

Karma, kamu itu seperti Rem yang pakem untukku, setiap kali aku ingin melakukan suatu perbuatan, aku ingat kamu loh! aku selalu memikirkan kamu karena aku tak mau kamu marah. Kamu ada untuk membantu mengingatkan agar tidak berbuat yang nyeleneh, aku sungguh berterima kasih padamu.

PS: Karma aku lagi dengerin lagu kamu nih yang dinyanyikan oleh Culture Club, “Karma, Karma, karma Chameleon, you come and go, Everyday is like survival, you’re my Lover, not my Rival”.





oleh @NonaHujan_

diambil dari http://strangerinengland.tumblr.com/

Ada Apa Ini?

Hey kamu jooooo, hujanku yang akan selalu menjadi hujanku..
Kenapa kau muncul dan muncul lagi di bunga tidurku??
Sudah seminggu bahkan mungkin lebih kau lagi dan lagi ada disana. Tersenyum manis penuh arti. Melihat kegiatanku dari pojok ruangan. Memakai kaos lengan pendek berwarna coklat muda, entah berwarna krem, yah mirip-mirpi dengan itu..
Apa maksud dari semua ini? Ada apa?
Apa kau baik-baik saja Jo? Hujanku?
Atau hanya aku yang berprasangka buruk? Melebih-lebihkan?
Tapi ini tak biasa jo, bukan 2-3 hari kau ambil bagian di mimpiku.
Hmm
kuharap kau baik-baik saja disana jo.. Aku selalu mendoakanmu darisini. Tetaplah menjadi hujanku. Ijinkan aku mengenangmu setiap hujan turun.. Aku tak keberatan kau mampir ssetiap hari di mimpiku, tapi doakan aku agar menjaga air di mataku. Jangan biarkan setiap pagi ada lingkaran yang menghitam di bawah mataku.. :)
Aku mulai terbiasa melihatmu setiap malam, walau itu tak nyata. Sampai akhirnya kau akan berhenti mendatangi mimpiku hujan. Ketika aku sudah terbiasa melihatmu disana. Luka itu kembali basah.




oleh @nnaevelina

diambil dari http://evelinevel.blogspot.com/

Matahari

Bingung merangkai kata karena panas matahari ini hanya bisa membuatku menulis tentang panasnya yang menyengat kulitku. Wow cerah ya hari ini? Tidak seperti hari-hari kemarin yang hujan, yang seakan-akan ketika kamu duduk bercermin dan melihat keluar jendela ,orang-orang yang kamu sayangi datang satu persatu ke benakmu. Datang dengan senyuman ataupun datang untuk mengingatkanmu tentang masalah yang pernah menghampirimu. Apapun bentuknya kamu merindukan itu semua.

Merindukan adalah hal yang sangat mulia, karena itu artinya yang kau rindukan sangat berharga adanya dan patut untuk dijaga, disemayamkan dalam hati untuk selamanya.

Seperti ketika hujan turun tiada henti sepanjang hari bahkan sepanjang waktu, kamu akan merindukan matahari, merindukan bagaimana sinarnya menyentuh kulitmu, merindukan tanah tandus yang menerbangkan debu-debu, merindukan daun-daun kering yang penuh berserakan disepanjang jalan menuju rumahmu. Seperti itulah dirimu, pekerjaan atau segala aktivitas yang menerpa ini aku analogikan seperti hujan yang tak pernah berhenti untuk turun kebumi, hujan ini menyenangkan tapi ketika hujan sudah terlalu lama turun kebumi maka banjir bandang akan datang karena bumi sudah tidak sanggup lagi untuk menampungnya. Lalu aku akan merindukan matahari untuk menerangi hariku, untuk menghangatkan hariku, untuk mengeringkan semua air yang tertampung dibumi. Sehingga ketika hujan datang lagi, aku sudah siap, siap untuk menghadapinya.

Kamu tau betapa senangnya aku ketika hujan telah reda? Karena aku melihat pelangi. Pelangi yang berwarna-warni itu memberitahuku bahwa kamu akan datang. Matahariku akan datang untuk menghapus air mataku. untuk menghapus kesedihanku.

hey! Teruntuk matahari yang bersinar cerah dilangit samarinda hari ini, terimakasih ... karena telah menghapus hujan dipagi ini dan membuatku merangkai kata :)








oleh @Nialam

diambil dari http://storyofnialam.blogspot.com/

Aku ingin memanggilmu, Mama..

Assalamualakum mah..
Apakabar mama disurga? Sehat kan mah, hari ini hari ulang tahun mama, selamat ulang tahun diusia emas mah. Mama tau, suatu kebahagian buat aku dikasih kesempatan  mengenal sosok mama dan keluarga mama. Mama adalah wanita terhebat , mama terbaik buat anak-anak mama begitupun buat kami yang mengenal mama.



Mah disini kita semua kangen mama, kadang aku bingung harus gimana saat a'rikza, ari atau neng atu bahkan papa pun cerita mereka lagi kangen mama, aku cuman bisa bilang doain aja mamanya. Karna itu satu-satunya jalan buat nyampe ke mama.

Mah, dulu waktu dikamar mama pernah nyeritain tentang anak-anak mama waktu kecilnya, sekarang giliran aku yang cerita buat mama ya, ini kado ultah buat mama hehehe..
Mah anak pertamamu, a'Rizka yang dulu mama pernah cerita, dia ngolah adonan kue pake kaki itu, kemaren menikah , alhamdulillah semua lancar, mama juga pasti ada disana kan ditengah-tengah kita,liat arik yang sipit pake baju adat jawa, arik nya gagah dan t tyas nya ayu banget, serasi banget mah, kata papa ini cita-cita mama   pengen liat aa nikah :)

Selang beberapa hari si bungsu yang paling cantik dan keraskepala itu dapet award girlband terdasyat mah, nenk atu hebat kan mah' dia bilang ini hadiah buat mama disurga :) alhamdulillah kerjakerasnya berhasil, ini juga pasti berkat doa mama. Anak mama emang pada hebat.

Nah untuk anak mama yang paling tengah yang dulunya suka pake celana dalem diluar yang suka lari-lari sambil teriak tentara tentara itu... Sekarang lagi nyusun skripsi mah, kalau mama masih ada pasti kita lagi sms-an ya mah kaya waktu dulu. Aku seneng banget dapet sms mama, sekarang giliran aku yang ngrim surat buat mama, aku bakalan terus ngasih support n doa buat ari mah. Saat dia mulai lelah, aku akan ngingetin dia kalo doa mama bakalan slalu ngalir buat dia, biar dia semangat terus.Oke mah? :)

Mama tau, aku kangen liat dia yang begitu mesra saat nelpon sama mama, kangen liat cerianya dia kalo ketemu mama, kangen liat dia menggoda mama saat mama lagi manyun. Aku kangen liat dia menceritakan tentang kehebatan mamanya dengan mata yang berbinar.  Dia masih kaya dulu yang ga mau diem kalo punya barang-barang baru, senyumnya masih khas membentuk garis tipis, manis banget kan mah :)
Mama yang tenang ya disana, aku ga akan segan-segan ngingetin dia buat berhenti merokok saat dia mulai terbatuk-batuk. Oia mah sekarang rambutnya ga gondrong, mama pasti seneng liat rambutnya selalu pendek dan rapih, cakep deh mah :)

Mah.. aku lagi ikutan proyek #30harimenulissuratcinta, aku inget tulisan-tulisan mama, aku pengen belajar merangkai kata-kata menjadi tulisan yang indah kaya mama. Dulu aku yang menyalin tulisan mama itu, aku sangat terpukau saat baca tulisan mama yang sederhana tapi sangat menyentuh. Kata ari , papa ama mama pasangan paling serasi, pada jago dalam menulis. Mama tau, papa membacakan tulisan mama itu didepan kita semua, romantis sekali mah dan sangat terdengar indah.
Mah sore ini aku lagi dengerin lagu dealova, lagu yang sering ari nyanyiin kalau dia inget mama

" kau seperti nyanyian dalam hatiku yang memanggil rinduku padamu... Seperti udara yang kuhela kau selalu ada,,,,"

Ini lagu special buat mama dihari ulang tahun mama, Ga terasa ada bulir-bulir hangat yang membasahi pipi ini. Kangen sekali sama mama.........................

Mah, diakhir surat ini ada satu hal yang pengen aku ungkapin,  selama kenal mama, aku selalu memanggilmu ibu, lewat surat ini aku pengen banget  manggil mama dengan sebutan MAMA. Aku pengen banget punya mama, punya seseorang yang aku panggil mama.


Mah.. minta doanya terus buat kita semua ya, semoga allah mempertemukan kita disurga-Nya aminn....


*peluk cium

-eva dwikania-





oleh @mpe_eva

diambil dari http://catatankeciltentangdia.blogspot.com/

Menjadi Selingkuhan Bukan Pilihan

Mas,
Langsung saja ya, aku tidak pernah sanggup mengatakan ini langsung kepadamu, dan aku berulang kali mencoba merekam suaraku tapi gagal aku perdengarkan didepanmu. Berkali-kali aku menulis surat elektronik selalu gagal aku kirim, lucu memang. Seakan semua fasilitas tidak menginginkan aku mengakhiri ini semua.

Yang belum pernah aku coba hanya ini, pena dan kertas, memang sedikit old school tapi ga ada salahnya aku coba. Kalaupun aku kirimkan ke kantormu, tidak akan ada yang tahu, kecuali sekretarismu ngotot membukanya, sstt sengaja aku beri label confidential, sepertinya sekretarismu akan mengerti hal itu.

Begini, aku memang mencintaimu dari dulu sampai hari ini, sampai aku menulis surat ini. Apa mas juga mencintaiku? Kadang aku membodohi diriku dengan mengatakan tentu saja mas mencintaiku, kalau tidak mencintaiku kenapa mas mau menjalin hubungan denganku selama ini? Berapa lama mas? Ehmmm hampir 2tahun ya? Ah bukan itu yang akan aku bahas disini.

Aku ingin mengakhiri hubungan ini mas, kenapa? Pasti mas akan menanyakan itu. Bukan...bukan karena aku ingin naik kasta menjadi istrimu seperti Mayangsari yang akhirnya berhasil mendapatkan kursi sebagai permaisuri. Aku tidak meminta apa-apa, aku hanya akan mengejar kebahagiaanku dengan caraku sendiri. Memang sekarang aku belum punya calon, atau pacar atau teman dekat, bagaimana aku mendapatkan teman dekat kalau masih ada mas dihatiku.

Mas...aku memang melakukan kesalahan karena menerimamu dalam hidupku, dan hadir ditengah-tengah biduk pernikahanmu. Meski salah, aku mengakui ini adalah kesalahan yang indah. Aku tidak akan menuntut mas untuk meninggalkan istri atau menjadikanku istri kedua, bukan begitu. Aku yang harus mundur dan menghilang. Aku juga tidak ingin memberikan pilihan, atau menjadikanku pilihan.

Aku kecewa setengah dewa mas, aku berpikir diriku ini ada di kasta mana? Lebih hina dari kotoran buaya aku rasa, ah sudah lupakan saja. Soal aborsi yang sudah pernah aku lakukan atas permintaanmu, itulah kesalahan terbesar dalam hidupku, harusnya aku sudah menimang bayi berusia setahun, huh mungkin itu alasan kenapa aku ingin keluar dari kehidupanmu. Biarlah aku mencari laki-laki yang mau menghamiliku karena cinta dan mau memelihara kami berdua.

Saat nanti aku mengenakan kebaya putih di sebuah masjid, aku ingin laki-laki itu menyebut namaku dan bersalaman dengan ayahku, meminta restu kepada keluargaku dengan bangga dan bahagia. Kamu mas...boleh datang boleh tidak, namun jangan usik kebahagiaanku kelak seperti aku menjaga keluargamu selama ini.

Aku meninggalkan rumah dan semua pemberian dari mas, ah sesungguhnya barang-barang yang mas berikan kepadaku adalah barang terbaik yang pernah aku punya, tapi hartaku yang harus aku selamatkan cuma satu, HATIKU yang akan menuntunku menuju kebahagiaanku.

Aku selalu mencintaimu dengan caraku ...Mas.

Eh mas...jangan temui aku dulu ya, apalagi setelah baca surat ini. Yang ada bukannya bubaran, malah nangis-nangisan trus sayang-sayangan. Tahan dulu deh, nanti kita juga ketemu, tapi dengan cerita yang lain. Jangan cari-cari juga ya mas....

Ah aku harus nutup surat ini lagi, kalau cinta tidak harus memiliki bukan cinta namanya. Hari ini aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita, itulah pilihanku tentang cinta, setelah ini bukan cinta lagi namanya, karena aku bukan milikkmu, kamu adalah milik istrimu. Kalau bukan cinta apa namanya? Aku menyebutnya cinta yang telah berlalu, masa lalu.





oleh @miftachaliq

diambil dari http://miftachaliq.blogspot.com/

Haru Tanpa Biru

Teruntuk, Biru.

Haru biru? Kita, haru dan biru. Aku selalu bertanya kepada seseorang yang bersemayam dalam kalbu jiwaku, pertanyaan yang mungkin akan dianggap terlewat bodoh. Aku bertanya tentang warna biru di dalam haru, ada apa dengan biru yang bersembunyi di balik kenistaan haru.

Hari berganti angin berhembus cuaca berubah dedaunan tetap tumbuh. Namun, kata hatiku tetap tak tersentuh oleh apa yang dinamakan biru dalam haru. Bukankah haru itu kelabu? Jawab! Mengapa mesti biru? Bodoh, tak akan ada orang yang tahu. Percuma aku terus bertanya kepada sebuah jalan pikiran yang ia sendiri tak pernah menjawab. Pantas saja, aku bertanya kepada sebuah jalan pikiran yang berjuluk perasaan.

Seiring dua iring waktu bergulir, dengan sedikit hembusan semilir, pencitraan anugerah Tuhan yang kumiliki pun mengalir. Gumpalan air dan lendir yang mencoba untuk berpikir, kapan sebuah pertanyaan bodoh segera berakhir. Tak ayal jika seorang tua berpandir, berpikirlah dengan logikamu lalu kau singgung sedikit dengan perasaan niscaya kau akan mahir tanpa tergelincir.

Kutinggalkan cara berpikir dengan perasaan itu, kucari logikaku. Ya, memang ia telah lama menghilang dari pola pikirku. Tak jenak aku meninggalkan perasaanku, ia datang kembali. Aku mulai dihantui perasaan kehilangan diriku yang lama, yang selalu berpikir dengan logika diiringi perasaan. Jika kau berpikir dengan logika, perasaan akan senantiasa mengiringi langkahmu, namun jika kau berpikir dengan perasaan, niscaya logika akan meninggalkanmu, ia tertelan oleh semua perasaan.

Persetan dengan perasaan, aku harus menemukan kembali logikaku. Aku menatap ke sudut lorong gelap di hati, kemudian menapaktilasi jejak ambisi menggugah logika kembali ke sisi terang pandangan mata sebuah batin. Gemerlap bintang menemani jutaan makna ambigu dari logika dan perasaan, mereka bersatu, menggumpal dalam genggaman, di antara lima jari mengepal dengan telapak tangan seorang anak manusia. Perasaan berubah, ia tak lagi hanya menguasai, sekarang ia juga melindungi, melindungi agar logika tak pergi lagi. Yap! Kembali kudapatkan logikaku.

Kupikirkan kembali apa itu biru dalam haru. Aku berjalan, tak sengaja aku membentur kaki meja di kehidupan nyata. Sakit, itu yang kurasa. Aku melihat warna di permukaan kulitku, agak kemerahan. Tak lama kemudian, merah pun berubah, perlahan berubah gelap menjadi kebiruan. Di luar, rasa sakit akibat terbentur telah menghilang. Di dalam, masih mengendap kelam.

Aku belajar dari luka. Luka tak selamanya tampak, ia juga bisa mengendap bersembunyi di balik sebuah bayangan masa lalu yang tak lagi tampak. Dari merah, kemudian biru, dan dapat lenyap sebelum menjadi hitam kelabu. Merah itu melambangkan luka, luka yang terbuka dangat lebar sehingga menyimbahkan darah, merah merekah dengan pasrah. Sepintas, ia perlahan tapi pasti menjadi biru. Biru mengartikan sebuah pilu, rasa sakit yang sungguh kelu, tanpa malu ia mengungkapkan diri dengan sedikit ragu. Ragu, akankah harus lenyap, ataukah menggelap.

Jika memang harus lenyap, ia akan pergi dengan senyap, mengepakkan sayap mengan mantap, agar tak lagi ditatap. Namun jika ia mesti menggelap, akan ada banyak orang yang menatap, memandangnya dengan gelap bagai asap yang tak terhisap dengan lahap, dengan kata lain ia merupakan luka yang menetap.

Kupahami sedikit makna biru di dalam haru itu. Mengapa biru? Karena ia masih ragu, menunggu logika menjawab sebuah keputusan yang harus ia ambil dengan makna bukan ambigu. Ia terlalu lugu dan terus menunggu. Biru walau kelu masih bisa mengubah dirinya menjadi lebih baik, dengan menghilang atau menetap. Jika hilang ia akan dikenang, jika menetap ia hanya diratap. Ya, biru menang, ia lebih memilih untuk dikenang, ia memutuskan untuk menghilang.

Biru bukan lagi warna, ia merupakan simbol. Biru, kau selalu mengisi sendu dalam batin ragu. Haru dan biru adalah rindu yang kelu, suatu huru yang terus berburu, membuat keributan tatapan sayu sebuah batin yang membisu. Biru, lenyapkanlah dirimu. Agar tercipta sebuah haru yang tersenyum.. :’)
Aku, Haru.




oleh @kyogas

diambil dari http://kyogas.tumblr.com/

Merindukan Oranyemu

Oranye, sore itu aku datang. Ak sudah berdandan dari siang lho. Dandanan special buat kamu. Rok bunga-bunga ringan dan sendal jepit. Aku merasa cantik dan pede menemuimu.
Oranye, ak menunggumu sambil berlarian dibelai angin di peraduanmu. Menggoda ombak
untuk datang, tp lalu kutinggal berlari. Aku nakal ya, tapi ombak tak pernah bosan diajak bermain.
Bermain, berlari, sambil melihat ke langit barat. Menantikan langit biru berangsur menjadi oranye. Lalu laut akan menelan matahari. Tapi laut baik. Laut tidak egois. Dia menyisakan buat kami tumpahan warna oranye yang cantik.
Senja di pantai kuta,
Undang aku lagi untuk sekedar menikmati oranyemu.

oleh: @proyek30hari
diambil dari: http://proyek30hari.tumblr.com/

I Love Me

Kepada jiwa pemilik raga ini…..
Aku memang hanya timbunan daging dan tulang belulang. Tapi Tuhanlah yang memahat. DigambarNya dengan teliti pola demi pola. Sangat detil, dibentuk menurut citra Tuhan. Dipoles supaya halus, persis seperti pemahat profesional. Tak dibiarkanNya ada yang tak sempurna pada diriku. Ia ciptakan gambaran manusia menurut kuasaNya. Dan menurut Tuhan, semua ciptaanNya itu baik.
Setelah Tuhan menganggap semua yang Dia inginkan selesai, Tuhan menghembusi aku. Seketika aku merasa aku hidup. Ya aku bernyawa. Itu kau sayang. Jadi apa yang membuat kamu merasa tak sempurna jiika Tuhan sendiri yang turun tangan?
Aku tahu banyak yang meremehkanmu. Tapi apa salahku sehingga kau harus membenci diriku. Aku tahu perasaanmu, tapi tak bisakah kau mencoba tidak mendengarkan apa kata orang. Bersyukurlah sayang! Kau ini istimewa, unik. Kasih sayang kedua orang tuamu tercurah padamu, lalu kenapa kau harus mendengar kata orang yang tak ada andil atas hidupmu?
Apa salahnya menjadi kecil, pendek, tidak cantik? Kau ini sempurna di mata Tuhan. Kau ini alat Tuhan di dunia, kau diciptakan bukan tanpa maksud. Jadi cerialah! Jangan pikirkan apa yang orang lain lihat, karena manusia melihat dengan mata tapi Tuhan melihat hatimu. Fokuslah pada suara Tuhan, kerjakan saja tugasmu di dunia ini. Bahagialah karena hidup begitu singkat, nikmati setiap detik menit jam dan tahun dimana kamu bisa membuat orang tesenyum karena kehadiranmu. Maka kecantikan akan terpancar dengan sendirinya dari dirimu, dari hatimu.
Percaya dirilah, Tuhan besertamu. Di luar sana banyak yang merindukan senyuman manismu. Hanya saja kau belum tahu ;p
Yang menyayangimu sampai kau menghembuskan nafas terakhirmu,
Raga yang selalu terhina.

Jumat sendu, 27 Jan 2012

oleh: @peribiroe
diambil dari: http://theresiafafa.tumblr.com

Pertemuan Kita, Mimpi

Kepada dirimu sang bunga tidur

Mimpi.
Hei kawan, terima kasih ya sudah menemaniku di saat aku menutup mata kemarin malam. Kamu sudah bercerita, bernyanyi, dan memainkan dawai indah untuk tenangkanku melewati duniamu kemarin malam. Kau temaniku bukan hanya sebagai pendamping, kau bahkan menyajikan film yang hanya bisa aku nikmati tepat di saat aku tertidur, dan hanya aku satu - satunya penikmat film darimu itu. Dan tepat di pagi ini, ketika sinar mentari menyusup masuk melewati celah - celah jendela, kau dengan senyum melambaikan tanganku dan seolah berkata "Bangunlah, sampai ketemu nanti malam lagi ya,"

Kini aku sudah terbangun. Untuk sementara waktu aku harus bisa menyesuaikan diri untuk lewati shift sang raja siang. Dunianya awan - awan putih menari, iya seperti yang orang katakan. "Pagi Hari". Tapi entah kenapa, aku seakan tak rela tinggalkanmu. Walaupun kamu sudah berjanji akan datang lagi nanti malam temaniku, tapi aku masih tak rela pergi darimu walau hanya sesaat saja. Aku terkadang paksakan untuk terlelap lagi, tapi apa daya mataku selalu menolak dan membuatku terjaga, dia malah marah - marah "Hei pemalas, jangan tidur terus," aduh, padahal aku tidak malas. Aku hanya mau bertemu sang mimpi sesaat saja koq.

Siang nanti, sang raja sinar akan tempati takhta tertingginya. Iya berada di tempat teratas dalam bumi ini. Bersinar, panasi bumi yang kini semakin lama sepertinya makin berkeringat. Tahukah kamu? terkadang di saat seperti ini. Aku biasanya masuk ke dalam persinggahanku, nyalakan A.C, tarik selimut, dan mengadakan rapat dadakan bersamamu. Dahulu, di saat aku masih kecil, kita masih sering bertemu di siang hari. Bahkan aku harus dipaksa sama mama untuk bertemu kamu. Tapi, sekarang di saat aku makin besar, aku dituntut untuk meninggalkanmu. Padahal, aku selalu mau bertemu kamu. Ya sudahlah. Mau bagaimanapun itu, aku akan tetap diam - diam menyelinap untuk mengadakan janji dadakan bertemu denganmu kawan. Seperti yang kita ketahui, pertemuan diam - diam ini kita namakan "Tidur Siang".

Saat senja nanti, ketika keteduhan mulai selimuti kota ini. Aku semangat untuk beraktivitas. Buatku saat yang tepat untuk menghabiskan waktu bersama dunia ini, sebelum aku bertemu kamu lagi. Bermain bersama segerombolan sahabat, menonton tv bersama segenap keluarga, hingga menghabiskan waktu sendiri berkutat dengan buku - buku ataupun playstation. Apapun itu, di saat petang aku akan habiskan waktuku tanpa memikirkanmu kawan. Maafkanlah diriku, tapi kan di malam nanti kita bertemu.

Nah, inilah di saat aku bertemu denganmu. Di saat warna gelap menjadi dominan selimuti daerahku. Di saat semua orang menyebutkan kata "Malam Hari". Satu hari sudah ku berputar lewati hidupku. Banyak cerita juga yang aku kantongi dan masuk ke dalam sela - sela sanubari. Melewati rotasi cerita hidupku ini ragaku lelah. Bahkan bila terlalu lelah, jiwaku semakin memaksaku untuk istirahatkan badan ini ke singgasana lembutku, kasur. Bila semua ini terjadi, maka pertemuan kita tak lama lagi. Ketika aku menutup mata, kau akan datang sesuka hatimu. Kau peluk aku, seakan sahabat yang lama sekali tak bertemu. Sehabis itu, seperti yang biasa kamu lakukan. Kamu akan berikan aku fantasi luar biasa yang dunia tak bisa tawarkan. Sesuatu yang terkadang di luar kenyataan, tapi kau selalu posisikan itu menjadi hal biasa. Tapi, bukan hanya hal indah atau fantasi saja yang kau berikan. Terkadang kalau kau lagi iseng, kau tidak segan untuk ceritakan tentang hantu, atau kejadian menakutkan yang spontan buat raga asliku mencucurkan keringat panik kan. Dan setelah itu, aku sendiri terbangun gelisah. Huuu, kamu itu baik banget, tapi kalau keluar isengnya jahatnya tak tertolong.

Ya sudahlah mimpi. Pagi ini tepat di saat aku membuka mata. Aku langsung mengingatmu. Jadi bila memang kau bisa membaca. Baca ya surat cintaku ini. Semoga kau senang dan akan selalu temani malam - malamku.

Tambahan : Thanks berat ya buat cerita malam tadi. Kau berikan Princess Noela sebagai dream tale. Nanti malam, dilanjutin ya ceritanya. Pokoknya harus happy ending. Thanks once again, Dream.

oleh: @sunoesche
diambil dari: http://essayoflove.blogspot.com