16 January 2012

Jakarta-Samarinda #2

Dear, Juti

Suratmu sudah sampai tepat dua puluh empat jam yang lalu waktu aku sedang berkutat dengan berkas-berkas menumpuk di mejaku. Tidak lantas kubuka, aku diamkan saja. Hanya aku pajang di samping layar pc-ku sampai aku menyelesaikan pekerjaanku. Sesekali kulirik dan aku jadi bersemangat karena itu.

Sehat de?

Jangan khawatirkan aku, aku baik-baik saja. Hanya saja sering kehujanan karena hujan datangnya semena-mena, tak pernah tahu waktu.

Kangen?

Ga usah ditanya lagi, jawabannya sama, aku juga.

Enak aja, permainan ini ga boleh berhenti sampai tiga bulan ke depan. Jangan terlalu berprasangka buruk, kita akan baik-baik saja. Semua ini akan melatih kesabaran, dan juga membuat kita lebih menghargai satu sama lain. Jadi jangan gila ya, nanti kalau kamu gila, aku gimana? *puk puk

Benar katamu, nulis surat ini lebih susah daripada mengetik sms. Maaf kalau tulisanku tak rapi, jangan pusing membacanya. Haha.

Balasanku pun ga romantis. Aku bukan orang yang romantis. Mencintaimu tak sekadar gombal, lagian aku tak jago ngegombal.

Sudah dulu ya, jaga diri baik-baik, jangan telat makan dan yang pasti jaga hati. ;)

Samarinda, 17 November 2010



Oleh:
Diambil dari: http://justitiamustofa.com

Rekan Intim Kampus Budaya, Jenni Anggita

Jujur, gw belum juga mendapatkan jawaban dari Tuhan atas pertanyaan “mengapa kita dipertemukan di semester akhir?”.
Awal kuliah dulu, kita memang kenal, tapi ya hanya sekadar—mengenal teman sekelas—layaknya judul cerita di buku pelajaran anak-anak SD. Cuma saling tegur sapa, mengucap selamat pagi saat baru masuk kelas, selamat makan di Kansas, dan sampai jumpa saat jam pulang tiba.
Ah! Betapa klisenya hidup kita di kampus budaya. Kalo kata Krisdayanti ‘menghitung hari, detik demi detik, masaku nanti apa kan ada’, semacam mempertanyakan hidup setelah fase ini.

Mungkin Tuhan punya tujuan lain mempertemukan kita di masa-masa akhir begini: sebenarnya gw sangat muak dengan alasan ini, sangat basi. Namun, gw pun tak mengelak apabila pernyataan ini mutlak. Semoga kita bisa saling bersyukur, ya.

Jari kita tidak akan cukup menghitung seberapa lama lorong waktu dan kekosongan-kekosongan ini telah kita lewati. Tugas ini kita beri saja kepada para penggila eksak, biar mereka yang menikmati angka-angka berjalan melingkar di lintasan sarafnya.
Setuju? *tos gelas Es Tehnya Mas Agus* :D
Gw rasa, keintiman kita tidak perlu dipertanyakanlah, ya. Mungkin yang lebih cadas dipertanyakan adalah: kapan wisuda?kapan nikah? Err, ini juga ‘The Truly Klise’.

Jen, lo harus janji sama gw, kalo nanti kita berpisah, yang pisah hanya physically ya, bukan mentally. Raganya mah boleh ke mana-mana, tapi kalo untuk ‘ikatan partner-in-crime’ sebaliknya, sangat diharamkan. Deal! Huh, gw tarik dan buang napas dulu ya sebentar..

Janjian ambil matakuliah, makan bareng, nugas bareng, noilet bareng, ngeceng bareng, naksir bareng, galau bareng, tinggal tidur sekasur aja nih yang belum pernah bareng. Apakah lo pernah merasa lelah menapaki klisenya kehidupan ini? Saat gw merasa demikian, lo adalah obatnya. Pabrik obat generik terkenal mana pun belum punya produk andal semacam ini, gw rasa.
Untung gw bilang hal ini ke lo ya, yang udah kenal luar dalam dan pahit manisnya mulut gw, kalo gw bilang ke cowo, bisa mimisan kali itu anak *hmm, yang ini terlampau GR, I’m sorry my men ;p*

Nggak terasa ya Jen, teman-teman sehidup seperjuangan udah menyandang S. Hum. Mungkin mereka telah siap dengan ‘the real life-nya’. Kalo kata lo, setelah keluar dari kampus dan bukan lagi mahasiswa, kita turun kasta, nggak akan dianggap kaum intelektual lagi, nggak akan seringan biasanya menjawab pertanyaan orang: ‘kuliah di mana?’, karena dulu orang-orang menyebut kita MAHASISWA, apalagi nama kampus kita. Rasa takut pasti ada, manusiawi justru. Setiap orang yang pernah mencicipi bangku panas di level tertentu pasti akan merasakan sisi itu. The grey side..

Apalagi yang kita khawatirkan kalo bukan the comfort zone? Kansas, IKSI, PK, Ipul, Lapak 13, Martabak mie, klaster, pusat perbelanjaan—a.k.a Gedung IX, dan hot issue perseteruan kampus. Di ‘rumah baru’ kita nanti, memang nggak akan setiap detik bisa ketemu mereka, bahkan mereka ini tiada duanya karena Tuhan tidak menciptakan duplikatnya. Namun, satu hal yang harus kita simpan adalah bahwa kita pernah bersama mereka. Gw sangat bersyukur, gw dilempar ke FIB sama Tuhan—kalo kata orang, FIB itu IKJ-nya UI—mungkin ada benarnya.
Belajar menghargai perbedaan yang beragam. Mulai dari mahasiswa yang udah sebulan nggak mandi, nggak ganti baju, jeansnya bolong sana-sini, kaos kumal-kusam, beralas kaki jepit paling murah, rambut gondrong keriting semata kaki, setelan celana pendek, tank top, dan tentunya Hamba Allah—yang pasti kita rindukan, sampai mahasiswa tampilan mas-mas eksekutif muda, rambut klimis, wangi radius satu kilometer, sepatu harga selangit, dan orang-orang yang katanya jijik kalo makan di Kansas, harus kita akui, merekalah pewarna alami kita selama tiga tahun terakhir.

Inget ya Jen, gw akan selalu ada buat lo. Pun setelah kita keluar dari IKJ-nya UI ini. Meskipun kita berdua nggak jarang beda ideologi, beda pendapat, beda pemikiran, yang kadang sampai bikin kita nggak bareng ke mana-mana seperti biasanya—karena kisruh kecil yang nggak penting—hingga beberapa hari, bagaimanapun lo masih best mate gw. Terima kasih banget atas pengertian lo yang luar biasa, kita beda agama, tapi saling toleransi—lo nungguin gw kelar sholat, bahkan ingetin sholat—luar biasa, gw doang nih yang belum pernah nemenin lo ke Gereja :)
Kadang gw heran, kok ada ya orang sesabar dan selembut lo, meskipun sedang dalam keadaan yang seharusnya nggak dilembutin. Gw baru ketemu perempuan macam lo gini yang tertarik sama feminisme setelah beberapa bulan kuliah. Mempertahankan argumen-argumen keperempuanan atas teori-teori yang udah lo ‘amin-i’. Yah, meskipun yaa kadang-kadang sometimes lo terlihat dominant in childish untuk saat-saat tertentu. Gw mah dibikin enak aja, tanpa perlu ngomelin/negur lo secara keras, dan menganggap kalo lo lagi ‘kumat’ begitu sebagai bentuk ujian praktik proses pendewasaan gw. Huahahaha.

Gw memang bukan orang yang bisa mengobati di saat kegalauan maksimal lo datang. Gw hanya ingin menemani di saat lo seperti itu. Nggak selamanya nasihat bisa jadi obat, iya toh? Fuh, lulus di tahun berapa pun karena alasan apa pun, yang terpenting bagi gw adalah bahwa gw punya banyak cerita dari lo yang bisa gw bawa pulang ke ‘rumah baru’ gw nanti jika saatnya telah tiba. Oh iya, tahun ini kita harus menyelesaikan resolusi kita ya: tulisan kita dibikin buku. Entah masih draft, atau masih di otak—syukur syukur siap cetak—we must try it! No offense! *nelen ludah, baca bismillah*

The last, “buat apa wisuda kalo belum ada pendampingnya!” dan semoga jargon (koleksi-seleksi-resepsi) kita lancar jaya tentram damai sejahtera sadayana :D

Shalom,

Untuk Cinaku

Dear Cina,
Aku masih ingat hari pertama bertemu denganmu, empat tahun yang lalu.

Rambutmu agak gondrong.
Dengan kemeja kotak-kotak lengan panjang yang terlihat agak kedodoran, mungkin milik kakakmu.
Logatmu medok. Jauh lebih medok daripada sekarang.
Tampangmu pun culun. Agak ndeso.
Jerawatan, banyak pula.
Tampak seperti minder, dan masih asing di tempat yang baru.
Sama sekali tidak keren.
Sungguh bukan kesan pertama yang menarik.

Tapi ketika kau berbicara di depan kelas, kau tampak yakin dan tak ragu-ragu.
Kata “eee….” yang berkali-kali terucap kulihat bukan karena kau tak yakin, tapi hanya karena kau masih memilih kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan pemikiranmu.
Terlihat dari konsistensi dalam setiap kalimatmu,
Dan dalam keberanianmu menyampaikan pendapatmu.

Dosen paling berwibawa di kampus yang sangat aku hormati pun menaruh kepercayaan padamu.
Seseorang dengan pengalaman seperti beliau pasti tak akan sembarangan menilai orang.
Baru hari pertama, tapi seisi kelas sudah sepakat mengangkatmu menjadi ketua.
Penilaianku saat itu tentangmu, di balik kesederhanaanmu kau punya bakat memimpin.


Cina,
Ingatkah kamu, saat itu bulan Ramadhan.
Entah kenapa, aku sangat kecewa melihatmu minum dan merokok di siang hari bolong.
Padahal hampir semua teman kita yang lain juga melakukannya.
Tapi aku tak kecewa pada yang lainnya.
Hanya padamu saja.
Aku merasa, aku sudah salah menilaimu.

Kuakui masih ada orang lain di hatiku saat itu.
Tapi aku sudah percaya padamu.
Aku percaya kau memiliki kelebihan yang tak terlihat dari fisikmu.
Saat itu aku merasa, kau berpotensi jadi orang hebat di kemudian hari.
Maka aku pun dengan senang hati selalu membantumu saat kau butuh.
Sebagai temanmu, sebagai sahabatmu.

Dan hari berlalu,
Ternyata kau benar-benar berbakat menjadi pemimpin.
Ternyata benar penilaianku.

Tapi saat itu, aku tak pernah terpikir, perkembangan kita akan seperti sekarang.
Tak pernah terlintas, aku akan mencintaimu seperti saat ini.

Aku jatuh cinta kepada dirimu,
Orang yang tak pernah kubayangkan,

Tak pernah kupikirkan untuk bisa jadi pacarku….
(Tompi — Aku Jatuh Cinta)

Yang aku tahu, aku sudah mempercayaimu sejak awal.
Dan makin hari, kau bisa benar-benar meyakinkanku.
Makin hari, aku makin nyaman bersamamu.
Dan sampai hari ini, aku masih mempercayaimu.

Aku masih yakin, kau akan jadi orang hebat nantinya.
Aku akan membantumu mewujudkannya.
Satu-dua kekuranganmu tak akan membuatku mundur.
Memang ada kecewa, melihatmu tak sepenuhnya seperti harapanku.
Tapi aku tahu bahwa di dunia ini memang tak ada manusia yang sempurna.
Begitupun aku, yang mungkin juga tak sempurna untukmu.

“Di balik perempuan sukses ada cinta yang gagal. Di balik laki-laki sukses ada perempuan yang mencintai.”
Itu kata sebuah buku.

Aku akan bantu membuatmu sukses.
Dunia dan akhirat.
Meski tak akan mudah,
Meski harus jatuh bangun,
Meski akan penuh perjuangan.

Aku akan membantumu.
Aku akan di sampingmu.

Semoga untuk selamanya.

I’ll be at your side,
There’s no need to worry.
Together we’ll survive,
Through the haste and hurry.
I’ll be at your side,
If you feel like you’re alone,
And you’ve nowhere to turn,
I’ll be at your side…
(The Corrs — At Your Side)



Oleh:
Diambil dari: http://scrabbleholic.blogspot.com

Cangkir Spiderman

Kepada Cangkir Spiderman Yang Duduk Di Meja Makan.

Cangkir Spiderman, kamu sebetulnya milik kakakku. Dan cangkirku itu bergambar jerapah. Tapi aku senang sekali minum darimu.

Biasanya aku akan menemukan kamu setiap pagi di meja dengan teh didalamnya. Masih mengepulkan asap karena baru diseduh. Lalu aku akan menuangkan madu kedalammu. Seenaknya saja. Kadang terlalu banyak dan membuat rasa madunya menyangkut di tenggorokan. Kadang kurang, sampai tidak terasa manis sama sekali.

Di sore hari, aku akan mengambilmu dari lemari dan memasukkan serbuk-serbuk kopi bersama dengan palm sugar kedalammu. Kemudian kamu akan menemani aku bermain kejar-kejaran dengan batas waktu pengumpulan tugas.

Kamu juga yang selalu menemani aku di kamar. Bermain game sampai tengah malam bahkan terkadang sampai pagi kemudian aku akan mengisimu kembali. Melihat aku mengurai air mata saat bertengkar dan kemudian patah hati. Selalu ada kamu.

Saat aku menuliskan ini pun, kamu mengintip dari balik layar laptopku. Menunggu aku mengambilmu dan mempertemukan bibir kita berdua.

Tunggulah sebentar, cangkir. Setelah ini aku akan menuangkan kopi kedalammu dan aku akan segera menyesapnya darimu.


Oleh:

Diambil dari: http://flanelmerah.tumblr.com

Selamat Sore Hatiku

hai.
surat kedua ini untukmu. sebagai bentuk penghargaan bahwa sesakit apapun lukamu, kau tetap masih kurawat.
entah aku atau kau yang salah. kita sering sekali saling menyalahkan.
aku semacam kau buat tak punya pilihan. kau yang jatuh cinta seenaknya tapi aku yang menanggungnya. mataku yang basah. senyumku yang punah.

sekarang ku tanya, mau mu apa?

sudah berulang kali kau kuajarkan agar lebih hati-hati, jangan sembarang mencintai, nanti aku bisa mati.
kau juga terlalu pemilih. ada yang baik malah kau tolak. tapi yasudah, kuturuti maumu. aku tak ingin kita berseteru. sudah ku bilang kan? aku suka kesendirian dengan ditemani banyak permainan.
tapi kau lagi lagi membuatku marah, bisa bisanya kita kalah!!

aku lelah sekali dengan tingkahmu itu, apa kau sadar sekarang kita saling menjauh? ya.
karena aku memilih untuk berteman baik dengan logika ku.
sudahlah, aku tak ingin bermanis-manis untuk sebuah bagian yang membuatku sering menangis.


Oleh:
Diambil dari: http://iininiiniiin.blogspot.com

Sincerely. your left hand

menulis surat cinta
hendaknya dengan perasaan berbunga-bunga
alunan lagu-lagu Indie Art Wedding yang menyejukkan telinga
membantuku menulis surat ini

hei kamu si tangan kiri
aku sayang sekali sama kamu
kamu selalu menemaniku melakukan pekerjaan yang kusayangi, menulis
jadi kita saling menyayangi,bukan?

tangan kiri, sebelumnya aku minta maaf ya
banyak orang diluar sana mendiskriminasikanmu
padahal mereka tak tau berkatmu aku punya imaginasi dan berhasil menuangkannya
menorehkannya dengan gegap gempita

aku tak tau mengapa sejarahmu begitu kelam
tertanam di benak banyak orang
pasti kamu benci kan kalau dibandingkan dengan tangan kanan?
siapa yang suka dibandingkan? akupun tidak
siapapun tidak

jadi kenapa mereka 'menghakimimu'
sedangkan aku sendiri bangga memilikimu
aku jadi bisa main bulutangkis pakai tangan kiri
is it cool huh?

seingatku aku mulai berkawan denganmu sejak TK
yang walaupun samar namun aku cukup yakin adalah momentum ketika aku maju kemuka kelas
ibu guru menyuruhku menuliskan huruf-huruf asing yang baru kupelajari bersamamu
ketika aku menulis dengan tangan kiri, maka semua berseru bahwa aku kidal
apasih kidal itu?
aku tak ambil pusing, yang jelas aku merasa gambarku indah kalau ditorehkan olehmu

perkara makan memang kadang suka bikin heboh
kamu harus sabar dihujani pertanyaan 'aneh'
'makan pakai tangan apa? cebok pakai tangan apa'
banyak yang bilang ini kesalahan yang harus diluruskan
tapi toh nyatanya sejak kejadian di TK itu kedua orangtuaku cukup bijak untuk merelakan aku memilih sendiri kenyamananku, bersamamu.

aku suka terharu deh kalau bertemu 'kawan-kawan' mu diluar sana
individu-individu yang juga bertangan kiri
somehow aku merasa kita ini cool,loh
kita unik dan berbeda
kita punya ikatan kuat didalamnya
walaupun harus termiring-miring duduk di kursi yang pakai papan meja di lengan kanan. aku tak mengeluh
asik malah bisa serong kekanan kekiri ketika menulis

kamu harus bekerja keras lagi nampaknya
ada stigma yang bilang bahwa kita, individu dengan tangan kiri nya adalah pribadi yang kreatif
kita harus membuktikannya

paling tidak aku jadi kreatif ketika menyentuh pipi dan mengelus rambut kekasihku
entah kenapa kamu selalu membuat nyaman
orang bilang kekuatan si left handed ada di tangan kirinya, karena sering diajak 'bekerja'
that's why kita harus kompak dan menghasilkan karya yang bisa membuat si tangan kanan iri
tapi kamu harus rukun dengan si tangan kanan
kalian saling melengkapi loh
paling tidak ketika ada kalanya aku mengalami cinta 'bertepuk sebelah tangan'
kamu bisa senggol colek si tangan kanan untuk bertepuk bersama
dan kita melangkah menertawakan si cinta
biar dia yang rugi

hey kamu si tangan kiri
doakan aku bisa lebih kuat melewati hari ya
menemukan pria yang mau pipinya dan rambutnya kusentuh olehmu

terima kasih tangan kiri, aku cinta kamu!



Oleh:

Diambil dari: http://duodynamic.blogspot.com/

Kepada Dosen Muda yang Bersahaja

Halo Mas..

Awalnya agak aneh memanggil seorang dosen dengan sebutan ‘mas’ bukan ‘bapak’. Tapi lambat laun kata ‘mas’ makin enak diucapkan, karena memang inginnya kamu dipanggil demikian, yakan? Kata itu menggambarkan bahwa kamu memang lebih bersahabat dengan para mahasiswa, masih muda, cerdas dengan gelar S2. Aku masih ingat pertemuan pertama kita dikelas… Ah aku malu menyebut mata kuliah yang kau ajarkan. Boleh kan tak ku sebutkan? :)) Waktu itu pertemuan kedua di kelas, karena pada pertemuan pertama aku bolos mas. Pacaran. Dulu. Duluu sekali semester lalu :D

Aku juga masih ingat hal pertama yang kau ajarkan. Sigmund Freud. Ya, si Bapak Tua yang briliant itu. Aku tidak peduli tentang teori semiotikanya, atau mungkin paham post-modernismenya. Yang aku pedulikan hanya kata-katamu, bukan Bapak Tua asal Austria itu. Dari situ diam-diam aku mengagumimu. Aku suka caramu menyampaikan ilmu. Tidak seperti dosen lain yang terkesan menggurui, kamu cenderung mementori kami. Tapi yang paling aku suka adalah caramu berdeham sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaanku.

Kuharap nanti kita bertemu lagi sebagai mahasiswi dan pembimbing skripsi. Karena pasti nanti aku akan mencari-cari judul skripsi yang sesuai dengan spesialisasimu. Karena pastiaku akan membaca buku-buku yang kamu suka, menonton film-fim yang kamu rekomendasikan seperti ‘before sunshine’. Terima kasih telah memberiku nilai “A” semester lalu. Tetaplah menjadi penyampai ilmu yang bersahaja :)

Pengagummu



Oleh:

Diambil dari: http://keyikey.tumblr.com

Dear Kutu

Untukmu..Kutu.. @rispuun
Yang dengan santainya menjadikan otakku taman bermainmu..






Apa kabar Tu ?


Masih hidup ? (Pasti dong ya..)
Masih muda ? (Semoga tidak..)
Masih perempuan ? (HARUS BILANG IYA !!)
..
..
Masih tidak bisa bilang huruf "R" ? (MHUAHAHAHAK)
..
Semoga masih ya-tidak-dan-harus-iya untuk semuanya..
..
Kakak terakhir liat kutu itu sebelum lulus, lupa tepatnya kapan, tapi itu yang terakhir. Kakak penasaran kutu sudah jadi seperti apa sekarang, masih manusia atau sudah jadi kutu beneran ? Ada banyaaaaaaak sekali yang kakak mau ceritakan, Sekolah, Pacar, Kakak, dan Kutu sendiri..
Kayaknya cuma bakal tentang kakak dan kutu..
Hehehe..


Well,what can i say ? I miss(ed) you..like i always do..
Kakak merindukanmu.. , merindukan senyummu, merindukan caramu mengucapkan "Er" tapi kedengaran sepert "El", merindukan lubang kecil di pipimu yang disebut 'lesung pipi"..
Kakak merindukan caramu mengikat rambut yang selalu tampak culun..
Banyak hal yang kakak rindukan tentang dirimu..mungkin itu yang buat kakak tidak pernah bisa lupa..


Kakak tidak pernah lupa, pertama kakak kenalan sama kutu,itu di SD samping sekolah, kakak yang ceritanya waktu itu populer maximal, ya dikenal semua orang,terus jadi Mak Comblangnya Nors, tapi apa mau dikata,kakak jatuh cinta deh sama Kutu..
Sampai akhirnya kakak menyet dan jadian sama Kutu, 1 minggu itu (dulu) adalah minggu terindah dalam hidup kakak..
Waktu Cinta Monyet masih Cinta Bayi Monyet..
Kita putus..dan kakak tidak bisa Move On.. Kakak merasa kehilangan, tapi waktu itu kakak belum tahu ada yang namanya 'Galau'.. Pokoknya kehilanganlah..
Dan kakak tidak bisa..
Kalau diingat-ingat, sepertinya kakak sudah membuang-buang BANYAK waktu bersama Kutu.. Padahal, kakak punya kesempatan untuk tetap dan terus mencintai Kutu ada apanya..

Kakak ingat bagaimana kutu selalu terjebak dalam dilema diri sendiri kala itu, kakak rindu kutu yang polos dan kikuk..

Waktu itu,Kutu belum berbehel,giginya kutu juga tidak rapi dan berantakan kayak perpustakaan dibongkar-bongkar,tindis-tindis-an..
Kita suka ber-BBB ria , suka 'putus-nyambung' gitu, tapi tiap kali kita melakukannya,kakak rasa semakin jauh kita berdua dari satu sama lain,padahal,kakak (dulu) sangat mencintai Kutu..


Tahu tidak ?
Pacaran itu bukannya memperat tali kekerabatan antara satu dan yang lain..malah mendirikan sebuah tembok raksasa diantara pasangan itu dengan orang lain, kakak merasa kita dulu terjebak dalam dinding itu, karena prioritas kita berubah (untuk kakak mungkin)..
Kutu, kakak selalu penasaran, kira-kira kutu sayang kakak gak ya ? Kira-kira sms-sms (ALAY) kita dari satu ke yang lainnya itu ada artinya gak ya ? Penting gak ya ?
Kutu, pernah tidak kutu berpikir apa sih artinya hubungan kita satu dengan yang lainnya ?
Apakah hubungan kita ini merubah sesuatu ?
Pernahkah kutu mengenang semuanya ? Tidak,kan ? Kakak juga (berharap) tidak pernah melakukannya..


Tapi dari semua itu,kakak mau tahu..
Waktu itu, 4 Desember 2009, waktu ada sms dari kutu yang bilang "putus", kutu serius ? ikhlas ? semoga tidak, semoga yang kakak tanamkan dalam hati kakak tidak salah, bahwa waktu itu, kutu cuma harus memilih, memilih sahabat atau kakak, seandainya kakak mengerti,kakak mungkin akan merelakan semuanya..tapi tidak seperti itu bukan ?


Kakak tidak pernah lupa apa yang (mungkin) kakak lihat di mata kutu siang itu.
Kakak menemukan sedih di mata kutu, ada yang mengganggu kutu kan ? Maaf waktu itu kakak tidak berusaha mengerti, kalau dipikir-pikir, kakak selalu berharap ada jalan lain..


Siang itu..
..
Kakak tahu, Kutu itu..Cinta (Monyet) Pertama kakak..
Dan untuk pertama kalinya, kakak merasa kehilangan terbesar kakak,jauh lebih besar dari kehilangan pada tanggal 18 October yang sakral itu..


..
..
..
..
..


Apa tadi ya ?


Oh ya..


Layaknya remaja,kakak akhirnya sampai di titik kakak harus bertanya,"kakak itu siapa ?"
Kakak semakin tua dari hari ke hari, dan dari hari ke hari pula, kakak semakin lupa kutu itu siapa, semakin lupa apa yang pernah kakak lewati sama kutu..
Tapi,kakak tenang kakak sudah meninggalkan "tanda" atas seberapa pentingnya kutu ke kakak..
Kutu yang pertama, maksudnya.. korban pertama kakak yang suka menamai manusia sesuai tabiatnya.. Kutu,Siput,Marmut,Keong,Kutu lagi..
Jadi, tiap kata "kutu" disebut,kutu lagi-lagi bermain di kepala kakak dengan bebasnya..


Sampai kakak akhirnya pergi dari sekolah tempat kakak menyimpan semuanya, kakak terus bertanya, akankah kutu baik-baik saja ? Diam-diam kakak menjadi stalker timelinemu,hidupmu,wallmu.. Sampai kakak pun lelah,dan berhenti berharap, bukan berharap kutu akan menganggap kakak penting, tapi berhenti berharap kakak bisa terus-menerus menjaga kutu dari jauh, dan pada akhirnya..kakak berhenti..


..


Hidup berlanjut,hari berganti,orang datang dan pergi,tapi kutu selalu tinggal di hati kakak..
Semakin lama,kenangan akan semuanya tersimpan berdebu di hati kakak..
Dan kakak pun kehilangan arti semuanya..kakak berhenti mencari ketenangan dengan kebahagiaan kutu, kakak tahu kutu akan baik-baik saja.. Selalu..


Dan waktu untuk menggantikan kutu di hati kakak mungkin sudah dekat, toh, kutu juga tidak peduli lagi, kakak harus move-on,kan ?


FYI , kakak masih belum tahu, kakak ini siapa, kalau tidak salah,kutu sudah jawab, tapi kakak lupa..
Anyway,terima kasih sudah menjawab pertanyaan itu,kakak tahu kutu punya pilihan,dan terima kasih sudah menjawab "tidak"..


Sekarang,kakak minta maaf,ada orang lain yang mau bermain di otak kakak,giliran kutu sudah habis, tapi..ingatlah, sampai kapanpun, setua apapun otak kakak nantinya, kutu selalu boleh pulang bermain disini..


Maaf terlambat, I (always) Love(d) You








Regards


Jo


Oleh:

Diambil dari: http://paradise269.blogspot.com

Surat Tagihan, Harap Dilunasi

Jakarta, 15 Januari 2012 12:47 AM

Masih untuk kamu, si penyihir terhebat.

Hai penyihir. Berapa banyak wanita yang jatuh hati pada kamu hari ini? Semoga cuma sedikit atau bahkan tidak ada ya :p

Seperti biasa, malam ini aku masih berada didepan layar laptop untuk ‘mencari’ mu. Umm sepertinya salah jika menggunakan kata ‘mencari’ mu. Kata mencari digunakan seolah-olah kamu hilang, pergi jauh atau pun bersembunyi. Padahalkan tidak. Kamu kan ada disini : dimataku, diotakku dan dihatiku atau bisa dibilang di sebagian jiwaku.

Rasanya tiap benda yang ku lihat itu ada kamunya, rasanya tiap aku berpikir tentang sesuatu pasti berujung pada kamu, rasanya tiap aku ingin merindukan sesuatu pasti itu kamu. Ih kamu, kamu, kamu dan kamu terus, kamu betah sekali ya hinggap dan berlompat-lompatan di mataku, di otakku dan dihatiku. Sudah lama sekali kamu disana, tanpa pernah sedikit pun keluar.

Jadi, sekarang aku putuskan, untuk memberikanmu surat tagihan. Tagihan atas apa? Ya tagihan atas tempat tinggal, karena sudah lama sekali rasanya kamu tinggal di seluruh bagian jiwaku. Tenang, aku nggak akan usir kamu kok, aku cuma ingin menagih biaya nya. Kamu tidak harus membuka dompetmu untuk memberiku pundi uang. Kamu tidak harus memberikanku sebuah boneka lucu berpita. Tapi, cukup dengan seringlah muncul di timeline aku. Karna ketika melihat ada namamu di timelineku rasanya aku seperti membaca tulisan bahwa aku menang lotre, senang bukan main, berlonjak, tersenyum ah seperti orang gila. Dengan melihatmu di garis waktuku rasanya aku lega berarti kamu baik-baik saja. Ya walaupun bukan akun-ku yang berbalas mention denganmu.

Demikian surat tagihan ini aku buat, dimohon untuk melunasi ya soalnya kamu sudah lama sekali tinggal disana tanpa membayar. Jangan pernah bosan untuk tinggal di sebagian jiwaku ya! Hihihi..

Tertanda,

Pemilik mata, hati, dan otak yang kamu tempati ^^



Oleh:

Diambil dari: http://musimsemi.tumblr.com

Sepasang Malaikatku

Untukmu, Ayah dan Ibu.

Rasa-rasanya bukan suatu hal yg berlebihan jika surat untukmu ini kuberi judul demikian. Ayah, Ibu, kalian malaikatku. Malaikat yg beberapa saat sebelum aku menulis surat ini kulihat telah terlelap di kamar. Kalian pasti lelah setelah seharian memperjuangkan kebahagiaan kami, anak-anakmu, untuk hari ini dan masa yg akan datang.
Tidurlah Ayah, tidurlah Ibu. Semoga lelahmu lekas menguap bersama malam, lalu mengembun di dedaunan esok hari.

Kira-kira, apa kata yg pantas kusematkan kepadamu yg telah menjadi perantara hadirnya aku di dunia ini sekaligus pembimbing hidupku, jika bukan malaikat?
Siapa lagi yg bisa menerbangkanku ke depan gerbang pintu surga dan membukakannya untukku, jika bukan malaikat sepertimu?
Bahkan aku yakin, malaikat pun pasti akan merasa tak pantas menyandang nama malaikat jika tau aku menyebut orang-orang hebat sepertimu sebagai malaikatku.

Ayah. Ibu.
Ini anakmu, yg sedang ingin menintakan cintanya kepadamu.
Ya, aku tau kalian pasti tak akan mengetahui apa yg kulakukan ini. Biarlah. Aku hanya ingin menceritakan kebanggaanku atas kalian kepada para penghuni dunia maya yg teramat luas ini, yg bahkan belum kuketahui batasnya. Biar mereka tau, bahwa aku punya Ayah dan Ibu sehebat kalian.

Ayahku sayang.
Yg berkumis lebat tapi selalu tersungging senyum ramah. Yg rambutnya mulai ditumbuhi banyak uban. Yg garis-garis keriput di wajahnya mulai nampak. Yg galak tapi juga humoris.
Kau ikhlas melelahkan ragamu yg mulai merenta, pun melelehkan keringat di sekujur tubuhmu. Semua itu kau lakukan hanya demi menebus senyum bahagia kedua anakmu.
Kau didik kami dengan keras namun penuh kasih sayang. Ucapan terima kasih berkali-kali pun tak akan cukup untuk membalas semua itu. Sungguh, aku mengidolakanmu.

Ayah, suaramu pertegas pejuanganku. Begitu kata Lyla dalam lagunya. Dan aku termasuk salah satu orang yg mengamininya. Kau tak pernah lelah memberiku asupan nasehat dan semangat dengan suara berat yg khas darimu. Mengobarkan semangat, mengaburkan ragu dan jenuhku. Terlebih setiap kali kau mengantarku yg hendak menuntut ilmu di perantauan. Tatapan matamu selalu meneguhkanku, meski aku tau sebenarnya kau juga berat melepasku.
Sungguh, ingin sekali aku menjadi sepertimu.

Ibuku tercinta.
Yg telah mengajarkanku memakai baju, memasang tali sepatu, menyisir rambut, dan segala hal yg sebelumnya aku tak bisa. Yg selalu bangun pagi menyiapkan sarapan untukku. Yg setia merawatku saat sehat maupun sakit. Yg dengan bangga bercerita tentang prestasi dan kenakalanku kepada teman dan tetangga. Yg matanya selalu berkaca-kaca setiap melepasku di stasiun, mencemaskanku perantauanku, dan menungguku pulang dalam bait-bait doa.
Aku sayang Ibu.

Jauh di relung kalbuku sebenarnya aku menyimpan kerinduan yg mendalam akan lakumu memanjakanku. Suapanmu, ciumanmu, belaianmu, timanganmu, pelukanmu. Aku rindu menjadi kanak-kanak. Rela aku menanggalkan remajaku sejenak.
Hanya saja aku malu. Sebab seiring bertambahnya usia kita, diam-diam sang waktu telah lancang mengikis kedekatan kita. Tapi aku yakin, keakraban itu bukan sirna, hanya tak kasat mata.

Ayah. Ibu.
Anakmu yg telah 21 tahun kau ajarkan makna kehidupan ini ingin sekali meminta maaf. Maaf jika sampai saat ini aku masih belum mampu menjadi anak seperti yg kalian harap. Maaf jika sampai saat ini aku masih belum mampu membahagiakanmu dan membuatmu bangga, sebangga aku memiliki malaikat seperti kalian.

Terakhir. Hanya sebait doa untuk kalian malaikatku, yg lirih kulafalkan sembari menuliskan surat ini dan setiap harinya kuulang berkali-kali.
Ayah. Ibu. Terima kasih. Beri aku kepercayaan, akan kuperjuangkan bahagiamu, akan kupertanggungjawabkan kebangganmu padaku.

Dariku, sulungmu.
.
.
.
ps : terima kasih kepada playlist yg menemaniku menulis surat ini (Melly G - Bunda ; Lyla - Baik di sini ; Revolvere Project - Apologia untuk sebuah nama ; Iwan Fals - Ibu ; Ada Band ft Gita Gutawa - Terbaik untukmu ; Black Stobe Cherry - Things that my father said)



Oleh:

Diambil dari: http://perekamgumam.tumblr.com