27 January 2012

Ketika Sang Hujan bertanya tentang Cinta


Apa salahku ?

Hari - hari ini , aku selalu mendapat umpatan, makian, dan cercaan.

"Ah...rese..hujan !" , "Sebel banget deh, hujan !..." Ya ampuuun, hujan lagi !"...

dan aku bertanya-tanya, apa salahku ?

Bukankah aku turun ke bumi untuk memberi kesejukan ?

Bukankah DIA yang mentitahkanku untuk menyirami tanah yang gersang, sungai yang dangkal, hutan yang meranggas dan jiwa-jiwa yang kering ?

Bukankah aku membuat iklim menjadi sejuk, hingga para manusia itu tak perlu kelelahan berjalan di bawah terik sang matahari yang membara... ?

Bukankah aku adalah salah satu wujud rahmat-NYA yang diturunkan ke bumi ?

Bukahkah aku juga salah satu wujud rezeki NYA, nikmat NYA yang seharusnya di syukuri oleh para manusia...?

Bukahkah di belahan bumi lain, manusia merindukan kehadiranku, berdoa bersama di tanah lapang agar aku bersedia meneteskan butir-butir air bening di tanah mereka yang tandus ?


Berbulan-bulan kadang bertahun-tahun lamanya aku tak menyapa mereka di sana, sementara aku selalu rutin datang ke sini setiap tahun. Itu karena aku sayang, karena DIA sayang ...

Tapi, kenapa aku selalu disalahkan, diumpat, dicaci, digerutui...

"Banjir ! Macet ! Becek ! musim penyakit !" -

Salahku-kah semua itu ?

Tidakkah mereka mau bertafakur, bahwa banjir yang terjadi seiring datangnya aku adalah akibat ulah mereka sendiri yang serakah dan sombong ...

Tidakkah mereka sadar, bahwa kemacetan, kesumpekan dan carut-marutnya jalanan adalah masalah yang mereka timbulkan sendiri.


Mereka berlomba-lomba memperbanyak kendaraan pribadi, tak peduli sempitnya garasi rumah, gang, atau terbatasnya jalan raya...

Tidak kah mereka mau berfikir bahwa berbagai penyakit yang menimpa mereka adalah akibat hidup yang kotor.

Aku datang justru untuk membersihkan kotoran-kotoran itu...

Oh, kubayangkan seandainya para manusia itu bersuka cita menyambut kehadiranku.
Berlari, melompat, menari di bawah siraman ku yang lembut.

Berdzikir melafazkan asma NYA untuk setiap tetesku yang membasahi raga mereka, hingga mereka dapat merasakan sejuknya butiran air bening hingga merasuk jauh ke dalam qolbu-qolbu yang kering.

Membangkitkan genangan air mata di pelupuk mata. Air mata syukur atas rahmat NYA, air mata taubat atas dosa-dosa, air mata kerinduan pada NYA, dan air mata cinta ...

Ah, seandainya para manusia itu seperti pohon-pohon, yang menengadah menyambutku dengan suka cita tak terperi.


Seperti hewan- hewan ternak yang tunduk dalam-dalam menikmati genanganku di tanah yang basah.

Seperti angin yang berlari mengiringiku menyelesaikan tugas di bumi.

Atau seperti petir dan halilintar yang meneriakiku, memberi semangat untuk tetap istiqomah menyampaikan rahmat NYA.


Adakah di antara kalian yang mau tersenyum menyambutku ?

Atau kalian akan selalu menyalahkan kehadiranku ?

Kumohon, jangan salahkan aku...sebab aku bisa marah !!!

Atas izinNYA, aku bisa berubah menjadi malapetaka
Atas izin NYA, aku bisa membawa bencana
dan atas izin NYA, aku bisa meminta para sahabatku,…
Sang angin, petir, halilintar untuk membantuku mengingatkan kekhilafan kalian dengan cara yang menyakitkan hati...

Oh, tolonglah, agar semua itu tak harus aku lakukan...


No comments:

Post a Comment