22 January 2012

Malam Yang Malang

Halo, Malam yang malang. Akhir-akhir ini ada berita buruk tentangmu. Aku mendengarnya dari redup suara kukuk Burung Hantu yang mengisyaratkan bahwa persediaanmu di atmosfer bumi semakin menipis. Itu kabar yang buruk. Apakah benar ?
Aku menyalahkan Bulan-Bintang yang belakangan sering tak terlihat. Mereka bukan teman terbaikmu, kan ? Lihat, mereka tidak ada di sisi masa terberatmu. Tapi kemudian, mereka melempar tudinganku ke arah Awan Mendung yang selama ini begitu sering menghalangi pendar cahaya malam mereka.
Berganti, kusalahkan Awan Mendung yang membuatmu tak lagi cantik. Lantas dia menurunkan alisnya, yang kubaca itu adalah raut kesedihan. Kehadirannya ditolak mentah oleh Matahari yang begitu sombong memangkas waktu. Terpaksa Awan Mendung mengusik waktumu, Malam. Terpaksa belakangan ini dia menghadirkan dirinya beserta si Hujan hanya pada saat hari mulai menggelap, mengurangi keindahanmu.
Tapi, tunggu. Matahari ? Ah, aku tidak bisa menyalahkan Matahari begitu saja. Dia sahabatku. Aku mencintainya beserta Langit Biru dan serat-serat Awan Putih yang menggantung lucu di angkasa seperti ornamen-ornamen yang terpasang di langit-langit kotak teater boneka yang sering aku lihat waktu masih TK. Iya, aku lebih terpikat pada warna-warni pagi hingga sore, yang tak kutemukan ketika aku memaksakan diri untuk terus berjalan di sisimu, Malam.
Maaf, Malam. Sudah pernah kukatakan, kan, bahwa sahabat itu tidak benar-benar ada ? Doakan saja, lain kali aku bisa mengkhianati Matahari dan memohonkan kepada Tuhan untuk menambah porsi ketersediaanmu di hari-hari manusia.
oleh: @pupusupup

No comments:

Post a Comment