14 January 2012

Kalau Boleh Meminta, Saya Ingin Jadi Jembatan

Bandung, 14 Januari 2012

Untuk kamu,

yang tanpa kusebut namamu pun, kamu pasti tau

Hey, apa kabar?

Agak aneh sebetulnya kalau ‘apa kabar’ jadi awal kalimat dalam surat pertama saya ini. Karena setahu saya, gak pernah kamu jawab pertanyaan itu dengan jawaban selain ‘baik.. sendirinya gimana?’ gak jarang juga jawaban itu dipakai untuk mengalihkan topik pembicaraan. Hahaaha sok tau yah? :p

Yah, beginilah saya kalau ke kamu. Sadar ataupun nggak, selama bertahun-tahun kita kenal, begitu banyak kebiasaan kamu yang saya rekam dalam ingatan. Freak? Bisa dibilang begitu. Saya pun gak ngerti kenapa saya terbiasa mempelajari kebiasaan orang-orang yang ada dalam lingkaran hidup saya. Apalagi mereka yang punya tempat khusus dalam hati dan pikiran. Dan kamu, kamu termasuk dalam lingkaran khusus itu.

Kurang lebih 5 tahun kita kenal. Konyolnya, kita kenal dari Friendster. Ohmygod, so yesterday banget kalau diingat-ingat. :D Entah apa maunya si takdir, sampai kita bisa kenalan waktu itu. Padahal awalnya, saya lebih dulu kenalan sama pacar kamu (waktu itu) tapi gak tau kenapa, justru saya lebih dekat dengan kamu, daripada dengan pacar kamu itu.

Dari perkenalan yang simple, makin lama saya dan kamu lebih banyak berbagi tentang segala hal. Saya ingat saat saya, yang waktu itu masih SMA, rela tidur terlambat hanya untuk berbagi cerita dengan kamu via Yahoo Messenger! Saya juga ingat betapa saya harus diam-diam menyalakan komputer di ruang tengah untuk bertukar kata dengan kamu dalam gelap. Soalnya, saya pasti akan digiring ke kasur kalau orangtua saya lihat saya masih melek lewat dari jam 11 malam. Hehehee :D


Tentang pacarmu, sekolahmu, musik kesukaanmu, keluargamu, teman-teman bandmu, film terbaru. Hampir segala hal kita bagi. Dan tanpa sadar, saya jadi ketagihan. Saya ketagihan dengar cerita kamu setiap hari. Saya ketagihan bantu memikirkan cara menyelesaikan masalah kamu dengan pacarmu, pun sekolahmu. Saya ketagihan dengar kamu ceritakan betapa lucunya adikmu yang waktu itu baru lahir. Saya juga ketagihan dengar cerita tentang kamu yang suka main musik dan nonton film, sama seperti saya, walaupun mungkin selera musik kita agak bertabrakan. Saya suka lagu-lagu tenang, biasanya didominasi petikan gitar, denting piano dan suara menye-menye si penyanyi. Sedangkan kamu, lagu ‘gedebag-gedebug’, itulah sebutan saya buat lagu-lagu kesukaan kamu yang mostly isinya musik-musik keras bertempo cepat, khasnya musik kesukaan cowok-cowok anak SMA zaman itu.


Tapi dari sekian banyak perbedaan, saya menemukan banyak kenyamanan saat saya berbagi dengan kamu. Yang mungkin jadi satu-satunya hal yang tidak nyaman adalah jarak. Jarak antara komputer saya yang ada di ruang tengah dengan komputer kamu yang ada di dalam kamar. Jarak antara setiap spasi dalam pikiran kamu saat ceritakan masalah, yang entah bagaimana, selalu ingin saya isi dengan solusi terbaik. Jarak antara saya dan kamu, itulah ketidaknyamanan yang mungkin sebenarnya justru menyamankan keadaan kita yang sebenarnya.


Mungkin kalau kita dipertemukan si takdir secara person to person, saya ataupun kamu belum tentu bisa sedekat ini. Mungkin kalau pacar kamu gak kenalan dengan saya, kita juga belum tentu bakal kenalan. Malah kemungkinan terburuknya, belum tentu juga saya dan kamu sekarang bisa tau nama masing-masing, mengingat kita benar-benar gak punya garis penghubung selain ‘ketidaksengajaan’ yang terjadi di Friendster saat itu.

Saya gak tau apakah Tuhan pernah dengar doa saya yang tanpa sengaja pernah menyebutkan :


“Kalau saja.. Kalau saja saya dan kamu berdekatan. Kalau saja saya dan kamu tidak sejauh beberapa jam terbang dari bandara. Kalau saja saya dan kamu bisa berbagi cerita langsung sambil bertukar udara ditempat yang sama. Kalau saja.. Kalau saja.. Kalau saja..”


Sebegitu banyak ‘kalau saja’ yang saya ucap dalam kepala, tapi mungkin Tuhan belum ijinkan. Dan kali ini, kalau boleh saya meminta, saya ingin jadi jembatan.

Tuhan, ijinkan saya jadi jembatan.

Pikiran saya memang bisa meraih kamu tanpa perlu menghitung jarak. Tapi..

Tuhan, ijinkan saya jadi jembatan.

Kata-kata saya memang bisa temui kamu lewat sambungan Yahoo Messenger! Tapi..

Tuhan, ijinkan saya jadi jembatan.

Saya ingin menyeberangi jarak, menjembatani kamu dan segala cerita kamu tanpa perantara.


Dari saya,

Adik berbeda keluarga yang kelewat cerewet. :)


Oleh: @idrchi

Diambil dari: http://abcdefghindrijklmn.tumblr.com

No comments:

Post a Comment