20 January 2012

Sakitnya Keikhlasan

Selamat siang, Kisha tersayang..

Apakah tidak terlalu dini meraih suratku saat ini? Semoga kau telah membereskan semuanya dengan baik. Satu-satunya yang kutakutkan adalah, bahwa aku hanya akan menjadi lalat pengganggu bagimu.

Bagi seorang pecinta, impian terbesarnya adalah menjadi penyejuk, pengayom, sekaligus penghibur bagi yang dicintai. Namun kadangkala bukan perkara mudah untuk mendapatkan kesempatan berharga itu. Kecuali jika mereka telah terikat dalam penyatuan sempurna yang bernama pernikahan. Itulah mengapa pernikahan dianggap sebagai puncak dari pencapaian perjuangan cinta. Karena hanya dengan melalui pernikahan maka impian seorang pecinta dapat terwujud dengan mudah.

Ngomong-ngomong soal pernikahan, masih ingatkah kau bahwa dulu kita sering bermain pengantin? Tentu saja pengantin bohong-bohongan. Kita lah yang berpura-pura menjadi pasangan pengantin. Kau senang sekali memakai mahkota dari jalinan rumput liar yang dipilin-pilin. Kau selipkan kembang sepatu di telinga kirimu. Bagiku, kau tampak cantik sekali meski kawan-kawan kita cekikikan saat melihat dandananmu. Aku, yang berpura-pura menjadi pengantin pria, menyematkan cincin di jari manismu. Cincin itu terbuat dari serabut akar yang telah kujalin. Kemudian teman-teman yang lain berbaris berderet untuk menyalami kita, pura-pura memberi selamat. Selanjutnya para tamu dan juga kita disibukkan dengan pesta jamuan yang juga bukan sungguhan. Sajian penganan itu terbuat dari tanah, batu bata, bunga, dan dedaunan. Kita semua bergembira seolah benar-benar merayakan pesta. Namun jauh di lubuk hatiku, sempat terselip doa diam-diam, semoga permainan ini kelak menjadi kenyataan.

Tapi aku pun ingat pada suatu momen ketika kita bermain pengantin-pengantinan. Di tengah keasyikan permainan kita, tak sengaja mataku menangkap bercak merah pada rok bagian belakang yang kau pakai. Kau sendiri tampak tak menyadarinya, terus saja sibuk mondar-mandir  dan tertawa-tawa dengan teman-teman yang lain. Kupikir, apakah kau sedang terluka atau bagaimana. Tapi sepertinya kau tak tampak kesakitan. Mustahil jika itu adalah bekas bercak darah yang telah lama, karena sepertinya masih baru. Maka saat kau sedang menyusun bebungaan di sampingku, kugamit lenganmu. Kau menoleh padaku. Kutanyakan apakah kau sedang sakit atau terluka, kau menggeleng. Aku bersikeras bahwa kau sedang terluka — mungkin tersayat. Kukatakan bahwa aku melihat bercak darah di rok bagian belakangmu. Kau terkejut dan segera memeriksa bagian belakang rokmu. Keterkejutanmu semakin tergambar jelas. Saat itu juga, dengan gugup kau katakan bahwa kau hendak pulang, tak lagi meneruskan permainan. Aku menawarkan diri untuk mengantarmu.

Sepanjang perjalanan kau hanya terdiam, dan aku pun ikut-ikutan diam. Kita saling berjalan bersisian dalam keheningan. Langkahmu tergesa, membuatku semakin merasa khawatir. Kupikir kau memang benar-benar sakit.

Sesampai di halaman depan rumahmu, secepat kilat kau berlari ke dalam rumah. Aku memilih duduk di teras rumah, menunggumu sembari membolak-balik halaman koran yang tersedia disitu. Kutunggu-tunggu sampai beberapa lama, kau tak kunjung keluar menemuiku. Aku semakin tak sabar, sekaligus penasaran. Bagaimana keadaanmu? Apakah kau baik-baik saja atau memang sedang sakit? Karena ketaksabaranku, kemudian aku mencoba untuk melongok-longok melalui pintu ruang tamu sembari memanggil-manggil namamu. Kau tak jua menjawab.

Namun tak seberapa lama ibumu muncul dan menemuiku. Pada beliau, aku memberanikan diri untuk bertanya, “Kisha dimana, mama?” Lagi-lagi, senyum ibumu terkembang sempurna. “Sepertinya hari ini Kisha tak bisa bermain, Ramu.” katanya lemah lembut. “Memangnya kenapa, mama? Apa Kisha sakit? Tadi aku melihat bercak darah di belakang roknya… Aku takut Kisha kenapa-napa, mama..” Aku tak lagi bisa menyembunyikan kekhawatiranku. “Tenang saja, Ramu. Kisha nggak kenapa-napa kok. Kamu tak perlu cemas, ya. Kisha sekarang sudah jadi wanita yang lebih dewasa, bukan anak-anak lagi. Sepertinya sekarang Kisha sedang ingin istirahat. jadi besok baru bisa ketemu Ramu lagi, ya.” tuturnya lembut. Sejenak aku merasa bingung. Apa maksud ucapan ibumu? Mengapa ia mengatakan sekarang kau sudah menjadi wanita yang lebih dewasa dan bukan anak-anak lagi? Tapi aku merasa tak enak bersikap terlalu cerewet di depan ibumu. Maka dengan masih menyimpan sejuta pertanyaan, kuputuskan untuk pulang.

Sesampai di rumah, aku enggan bergabung bersama adik-adikku yang sedang menonton kartun di ruang tengah. Aku masih memikirkan kamu sekaligus ucapan ibumu. Kulihat ibu sedang menata talam untuk persiapan pengajian. Tiba-tiba terbersit pikiran untuk membagi pengalaman dan ceritaku mengenai kamu kepada ibu. Biasanya, aku memang senang mencurahkan segala kisah maupun isi hatiku kepada ibu, terutama ketika aku sedang merasa galau. Maka kuhampiri ibu dengan hati-hati, kemudian duduk di sisinya. Aku mulai bercerita tentang kejadian mengenai kamu. “Itu namanya Kisha sedang dapat menstruasi. Perempuan yang sudah akil baligh akan mendapatkannya setiap bulan. Mungkin yang dialami Kisha itu adalah menstruasi pertamanya.” Ibu mencoba menjelaskan. “Memangnya mengapa perempuan harus mendapat menstruasi, ibu?” tanyaku, masih tak mengerti. “Kalau perempuan sudah mens berarti sudah boleh menikah dan sudah bisa punya anak.” Jawab ibu enteng. Aku masih tak yakin, tapi mencoba menerima jawaban ibu. “Apakah menstruasi itu sakit, bu?” tanyaku lagi. “Tergantung. Ada beberapa perempuan yang merasa sakit, ada yang tidak.” Sejenak aku mengkhawatirkanmu. Bagaimana jika kamu termasuk yang mengalami sakit saat menstruasi? Namun teringat pada penjelasan ibu bahwa perempuan yang sudah mendapat menstruasi boleh menikah dan punya anak, aku tersenyum. Kubayangkan sebuah pelaminan dimana aku dan kau duduk disana. Dan aku pun mulai membayangkan bayi-bayi…

Baru keesokan harinya aku dapat menjumpaimu di sekolah. Tapi tingkah lakumu tak seperti biasanya. Saat jam istirahat berdenting, kau memilih tetap tinggal di kelas, duduk di bangku belajarmu sembari membaca-baca buku yang kau pinjam dari perpustakaan tempo hari. Kuajak engkau bermain di halaman sekolah, kau menolak. Kurayu pergi ke kantin, kau pun tak hendak. Aku pantang menyerah, terus saja mencoba mengajakmu mengobrol. Tapi sepertinya kau sedang tak minat bicara banyak. Yang ada, kau justru seringkali senewen. Kurasakan senyummu pun mahal.

Nyaris selama tujuh hari berturut-turut kau menjadi sosok Kisha yang menjengkelkan. Kau jadi sedemikian sensitif bahkan terhadap hal-hal sepele dan gemar marah-marah. Tentu saja aku yang seringkali menjadi sasaran kemarahanmu karena memang akulah yang kerap memancing emosi marahmu. Sempat aku merasa sedih, mengira kau telah bosan berteman denganku. Kadang aku juga berpikir, jangan-jangan perubahan sikapmu adalah efek samping dari menstruasi yang kau alami. Apakah seorang anak yang telah menjadi gadis akan berubah menjadi semenyebalkan ini? Bukankah itu sama sekali tidak menyenangkan? Kalau begitu, mengapa anak-anak perempuan suka sekali berangan-angan untuk menjadi wanita dewasa? Aku sungguh tidak mengerti.

Kisha yang seorang gadis cukup berbeda dengan Kisha kecil yang pertama kali kukenal, meski perbedaan itu tak terlalu jauh. Setidaknya, Kisha yang beranjak remaja tak lagi mau bermain lompat tali atau memanjat pohon. Tak lagi mau mandi bersama-sama di sungai bendungan atau  berenang di tepi lautan karena kau tak mau mencopot baju sembarangan. Begitulah alasan yang kau utarakan. Saat kita beranjak lebih besar, satu-satunya aktivitas yang masih menjadi kegemaran kita adalah membaca dan membicarakan cerita. Entah itu di bawah pohon di atas bukit, di pantai, atau di rumahmu. Kita pun senang bermain monopoli, permainan yang baru dibelikan oleh ayahmu. Di sekolah, kita semakin sering menghabiskan waktu di perpustakaan.
Saat itu kita memang sudah menginjak kelas tujuh di sekolah menengah. Kita masih tetap bersama-sama meski mulai jarang memainkan permainan-permainan di masa kecil.  Pelan-pelan, Kisha dan Ramu kecil menapak masa-masa pra remaja yang menjanjikan gairah yang berbeda. Kita mulai sibuk mencari-cari eksistensi pada dunia yang baru. Tapi aku pun juga disibukkan oleh geliat rasa cinta terpendamku kepadamu. Seperti mencermati gelegak air mendidih dalam ketel yang tertutup.

Sedangkan kau, semakin hari terlihat semakin cantik. Wajahmu yang oval mulai terpulas bedak, membuatmu semakin bersinar. Aku senang sekali memandangmu di kala pagi. Bahkan kesejukan yang kau timbulkan pada mataku jauh lebih dahsyat daripada aku memandangi hijaunya rimbunan semak. Tapi pernah pula aku melihat sebuah benjolan merah di sebelah kanan hidungmu. Semula aku tak terlalu memperhatikanmu. Namun karena kau bertingkah aneh dengan terus-terusan menutupi wajah bagian kanan dengan tanganmu, aku pun jadi curiga. Saat kau lengah, aku baru dapat mengetahui apa sebenarnya yang kau tutup-tutupi. Ah, rupanya kau sedang berjerawat. Kau punya satu jerawat yang besar sekali! Memerah, membengkak, dan menantang. Tentu saja aku tak asing dengan jerawat karena wajah ibuku senantiasa dipenuhi jerawat. Tanpa peduli perasaanmu, aku menggodaimu, mengolokmu tak bosan-bosan. Kupikir inilah saat yang tepat untuk membalasmu setelah masa-masa murammu yang menyebalkan itu. Kau semakin kesal padaku. Sambil mengejar-ngejar aku, kau lempar dengan penuh emosi buku matematikamu hingga tepat mengenai kepalaku. Aku meringis kesakitan, namun juga senang.

Aku telah cukup lama mengenalmu. Aku tahu betul bagaimana sifat dan watakmu. Kau bukanlah seorang pemarah, dan sejatinya kau pun bukanlah seorang pendendam. Yang tidak pernah berubah darimu, kau adalah seorang anak, seorang gadis yang periang. Sejengkel apapun kamu terhadapku, esok aku selalu masih menemukan senyum ceriamu. Esok aku selalu dapat bermain bersamamu, berada di dekatmu.
Saat itu kita memang masih sering bermain ke pantai. Namun selain pantai, sebenarnya ada pula tempat indah dan mengasyikkan yang menjadi favorit kita. Bukit Mahligai, begitu orang-orang menyebutnya. Bukit itu tak terlalu tinggi. Puncaknya hanya setinggi dua puluh meter dari permukaan laut. Terdapat banyak bebatuan besar yang tersusun acak. Tanahnya menghijau oleh rumput-rumput liar pendek. Beberapa penduduk gemar memangkasi rumput disana demi memberi makan ternak mereka. Selain semak-semak perdu, terdapat pula sebuah pohon akasia yang cukup besar dan rindang. Kita seringkali bermain dan beristirahat di bawahnya. Anak-anak yang lain pun kerap menjadikannya sebagai tempat bermain.  Jika siang hari, suasana disana lebih sepi ketimbang sore hari. Tapi kita lebih senang kesana pada siang hari selepas pulang sekolah. Rasanya lebih nyaman karena kita dapat menikmati semilirnya angin segar. Kadangkala kau membawa buku. Aku senang sekali tidur-tiduran di salah satu batu besar di bawah pohon itu sembari mendengarmu membaca buku keras-keras. Kadangkala kita membaca berganti-gantian.

Di bukit itu kau pernah mengungkapkan sesuatu yang kemudian membuat hatiku pecah berkeping-keping, patah hati sejadi-jadinya. Kala kita sedang asyik berdua membicarakan sekolah, teman-teman kita, guru-guru kita, tugas terakhir, sambungan serial televisi dan komik terbaru yang kau miliki, tiba-tiba kau bertanya sesuatu dengan sikap diluar kewajaran. “Ramu, menurutmu Andrea itu bagaimana?” Aku sempat bingung, hal apa yang membuatmu tiba-tiba menanyakan soal Andrea. Sepanjang obrolan, kita sama sekali tak pernah mengulas apapun yang menyangkut murid pindahan itu. Tapi tiba-tiba kau menanyakannya. Aku was-was. Yang menjadikan perasaanku tak enak, Andrea adalah seorang anak laki-laki yang sepatutnya kucemburui. Ia adalah siswa pindahan yang masuk ke kelas tujuh. Menruut banyak cerita, ia datang dari kota besar nun jauh disana, kemudian ayahnya dipindahtugaskan.

Andrea seorang anak yang kaya raya, dari keluarga yang terhormat pula. Wajahnya  tampan, perawakannya menawan. Ia benar-benar berpotensi menjadi idola murid-murid perempuan. Tapi aku sungguh tak berani membayangkan jika Kisha-ku, Kisha yang kucintai diam-diam, pun menaruh hati pada anak sombong itu. Kukatakan sombong karena sejauh ini ia begitu pemilih dalam bergaul. Tatapan matanya terlihat merendahkan. Gerak-geriknya terlihat sok, dan ia hanya mau berbicara dengan guru ataupun teman yang sepadan dengannya. Mengetahui kau menyebut nama Andrea saja sudah membuatku mulas. Dan yang membuatku merasa kesemutan, kau menyebut namanya dengan tersipu malu, dengan wajah merah merona.

“Mengapa kau tiba-tiba menanyakan soal Andrea?” Aku menyelidik. “Aku hanya sekedar bertanya. Menurutmu dia seperti apa? Apa kira-kira anak seperti dia sudah punya pacar?” Jawabmu setengah berbisik, setengah malu-malu. Ah, Kisha… Siapapun yang bertanya seperti itu, semua orang pasti tahu bahwa ia memiliki perasaan tertentu pada orang tersebut. Memiliki dugaan ini saja membuat hatiku rontok seketika. “Aku tahu! Kau pasti menyukainya! Iya, khan?” Aku mencoba menyimpulkan. Sedapat mungkin aku bersikap sewajarnya, seolah sama sekali tak terpengaruh. Aku harus menjaga sikap seolah-olah aku memang benar-benar sahabatmu yang dapat kau ajak berbicara apa saja – termasuk tentang seseorang yang kau taksir sekalipun.

Kau justru makin tersipu. Mukamu benar-benar memerah, tawamu pun merekah.  Kau bahkan berusaha untuk meutupi wajah dengan kedua tanganmu. Aku mencoba untuk ikut tertawa, menggodamu, membuat diri pun merasakan senang seperti yang kukira sedang kau rasakan. “Dengar, Ramu. Aku hendak menceritakan rahasia kepadamu. Tapi berjanjilah untuk tidak membocorkannya pada siapapun, terutama pada teman-teman kita.” Mimik mukamu berubah serius, dan sepertinya kau hendak membicarakan hal besar kepadaku. Aku lebih mendekat, bersiap mendengarmu. “Dua hari yang lalu Andrea mengirimiku surat cinta. Dia bilang dia suka padaku, dan ingin menjadi pacarku. Tapi sampai saat ini aku belum menjawabnya. Menurutmu bagaimana, Ramu?”

Hatiku mencelos kala mendengar apa yang kau katakan. Ah, ternyata tak cukup hanya Romi yang menyatakan cinta padamu. Dulu aku sudah dapat menduga dengan tepat bahwa Romi takkan punya peluang sama sekali. Namun kali ini sepertinya berbeda. Anak laki-laki itu adalah Andrea! Dan ia punya segalanya untuk menarik hatimu. Tiba-tiba tubuhku serasa kehilangan tulang. Tapi kucoba menguatkan diri, bersikap sewajarnya seorang sahabat. “Wah, itu bagus!” Seruku. Tapi kemudian aku sadar bahwa aku telah berekspresi keliru. “Kau sendiri menyukainya, tidak?” tanyaku supaya terlihat lebih perhatian. “mm… entahlah… Kurasa dia cukup menarik…” Kau menjawab dengan setengah melamun. Benakmu mulai mengembara. Kupikir aku tahu kau sedang mengembara kemana. Karena aku pun mulai membayangkan sosok Andrea.

Sejak itu, aku dihujani mimpi buruk tentang kau dan Andrea. Hatiku pedih tiap kali membayangkan kau akan menerima cinta Andrea dan bersedia menjadi pacarnya. Bagaimana dengan perasaanku sendiri? Aku telah cukup lama memendam cinta kepadamu. Sedangkan Andrea hanyalah seseorang yang tiba-tiba muncul. Namun kemunculannya itu telah sanggup memporakporandakan seluruh mimpiku, harapanku. Apalagi mengingat apa yang dimiliki Andrea, membuatku harus menelan ludah menerima kenyataan pahit. Aku bahkan tak layak untuk dibedakan dengan Andrea yang jelas lebih kaya dan lebih tampan daripadaku. Aku sadar siapa dan bagaimana diriku. Karena itulah yang membuatku tetap bertahan untuk lebih baik memendam cintaku terhadapmu. Barangkali aku memang hanyalah pungguk yang merindukan bulan. Kemarin aku mencoba untuk senantiasa berbesar hati menerima cinta yang terpendam karena keadaanku sekaligus tipisnya nyaliku. Tapi sekarang, ketika sosok Andrea tiba-tiba muncul, aku tak tahu seperti apa sikap berbesar hati itu. Aku terpuruk. Aku kesal. Aku marah.

Beberapa hari kemudian kau tergesa-gesa mengajakku kembali ke bukit. Kau tak peduli meski langit sedang menggantung mendung. Katamu, ini lebih penting daripada hujan. Sepertinya kau tak sabar hendak mengatakan sesuatu padaku. “Ramu, aku mau minta tolong padamu. Kuharap kau tidak menolaknya. Aku mohon, ya…” Kau merayuku. Kutatap wajah dan sorot matamu yang tanpa dosa, menghiba dan penuh pengharapan. Melihatmu demikian, siapa yang sanggup menolak? Andaikan saat itu kau minta aku untuk memindahkan bukit pun barangkali aku bersedia. “Aku minta tolong padamu untuk menyampaikan surat ini pada Andrea.” Kau mengeluarkan sebuah amplop dari balik lipatan buku cerita yang kau bawa. “Surat apa ini?” Aku tak tahan untuk ingin tahu. “Surat balasanku untuknya.”jawabmu. Aku teringat cerita tentang Andrea yang mengirimkan surat cinta untukmu. “Kau balas apa? Apa kau menerimanya?” Aku bertanya dengan dada yang bergemuruh. Kau tak menjawab, melainkan hanya tersenyum lebar. Senyum yang membuatku menyadari bahwa kau telah menerima cinta Andrea. “Baiklah. Aku akan menyampaikannya besok di sekolah, ya.” Kataku sedikit kaku. “Jangan, Ramu. Aku ingin kau menyampaikannya sekarang. Di sekolah sangat berbahaya. Bagaimana jika anak-anak tahu? Pergilah ke rumah Andrea sekarang. Kau tahu rumahnya, bukan? Aku mohon, Ramu…” Kau kembali memohon. Kutangkap cinta di matamu. Tapi aku tahu, bahwa cinta itu jelas bukan untukku. “Tapi sebentar lagi akan hujan, Kisha. Lagipula, rumah Andrea cukup jauh… Perlu tiga puluh menit naik sepeda.” Aku mencoba memberimu pengertian. Tapi tatap matamu terus menghiba. Tatap mata yang penuh pengharapan, menyimpan sejuta asa, kerinduan, dan cinta. “Baiklah, aku akan berangkat.” kataku pada akhirnya.

Dengan membawa surat cintamu, aku segera kembali ke rumah dan mengambil sepeda. Sementara itu, gumpalan awan kelabu yang terlihat berat menanggung beban berarak memayungi kampung Sammoa. Kukayuh cepat-cepat sepeda bututku menyusuri jalanan tanah yang berkerikil hingga mencapai jalan besar beraspal. Kuterjang batu-batu kecil yang menghadang. Beberapa ayam kampung yang melintas dengan melenggang berlari terbirit-birit hingga merontokkan helai bulu-bulu mereka. Kukayuh pedal dengan kekuatan maksimal. Aku bersepeda seperti orang kesetanan. Mungkin jiwaku pun sedang kesetanan. Mataku nanar menatap jalan lurus ke depan, tapi benakku penuh berisi kamu, Andrea, melintas-lintas, berganti-gantian. Kubayangkan kamu dan Andrea sedang tertawa. Terus saja tertawa. Bukan tertawa karena memadu bahagia, tetapi menertawaiku. Menertawai kebodohanku, kemalanganku, ketragisan nasib cintaku. Bunga mawar yang kutanam dan kurawat sepenuh hati dalam hatiku telah merontokkan kelopaknya satu persatu, pun dengan dahan yang telah mengkerut layu.

Mendung semakin gelap, segelap hatiku. Kurasakan titik-titik air yang mulai berjatuhan memerciki tubuhku, sepedaku, jalan-jalan, dan apapun yang kulintasi. Aku sudah berjanji padamu. Apapun yang terjadi, meski hatiku terkoyak, suratmu harus sampai di tangan Andrea. Ah, mengapa harus Andrea? Anak itu selalu beruntung sejak lahirnya. Tidakkah pernah terlintas dalam pikirannya bahwa keberuntungannya pun acapkali menggerus keberuntungan orang lain? Lihat apa yang telah dia lakukan. Kau jatuh bertekuk lutut menyerahkan cinta dengan begitu mudahnya. Padahal ia baru beberapa bulan di sekolah kita. Seberapa jauh dia mengenal sosok Kisha? Dan lihat! Betapa mudahnya ia menyatakan cinta dengan hanya perkenalan dan kebersamaan yang takkan bisa dibandingkan denganku! Lagipula, tidakkah kau menemukan kekurangan atau kelemahannya – yang setidaknya mampu membuatmu mempertimbangkan lebih lama untuk menerima cintanya? Perasaan dan emosiku terus berkecamuk hingga membuatku tak lagi peduli dengan perjalanan yang dihempas hujan. Kaos dan celana pendekku telah basah kuyup. Rambutku basah, wajahku basah, pipiku pun basah. Basah oleh hujan dan air mata yang semakin deras. Barangkali suratmu pun juga basah. Tapi aku tak mau ambil peduli. Biar saja basah, biar saja air hujan melunturkan tulisan dalam suratmu yang telah meruntuhkan harapanku, menghanguskan semangatku. Biar saja. Kalau perlu, biar saja surat itu hancur menjadi bubur oleh hujan lebat yang terus mengguyur. Itu bukan salahku! Salahkan saja hujannya. Salahkan Andrea!

Kekacauan yang menguasai pikiranku membuatku tak awas melihat jalan. Ditambah dengan air hujan yang menghalangi pandanganku, membuatku merasakan kesialan yang bertubi-tubi. Sekonyong-konyong rodaku menumbuk sesuatu yang membuatku jatuh dan terpelanting. Lulutku memar membentur aspal, membentuk goresan luka yang kemudian terasa perih saat terguyur hujan. Beberapa jari kakiku terkilir, sakit sekali rasanya. Aku berteriak dalam kesendirian. Aku merasa sakit keseluruhan. Sakit kakiku, sakit juga hatiku. Kuurut-urut sejenak jemariku hingga sedikit merasa lebih baik. Ah, mengapa aku selalu tidak beruntung? Bahkan sekedar hendak menyampaikan surat pun aku masih juga tidak beruntung! Kuperiksa keadaan, ternyata ada sebuah kayu lapuk yang tergeletak melintang di tepi kiri jalan. Dengan mengabaikan luka yang kualami, aku segera bangkit dan kembali meraih sepedaku. Kutabahkan diri untuk meneruskan perjalanan. Luka di lututku terasa pedih. Namun hatiku jauh lebih pedih.

Andrea berdiri kaku di hadapanku. Ia terkejut dan terheran-heran dengan kedatanganku. Ia menyuruhku masuk, tapi kutolak. Segera kuserahkan suratmu yang kusimpan dalam saku celanaku. Surat cinta itu telah benar-benar basah, namun tidak hancur – seperti harapanku. “Dari Kisha”, kataku lirih. Aku mencoba tak banyak bicara demi menyamarkan emosiku yang belum pulih.

Pelan-pelan Andrea membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya. Ternyata ia pun masih dapat membaca baris-baris tulisan Kisha yang indah. Ternyata hujan tak cukup banyak melunturkannya. Kulihat Andrea tersenyum setelah membaca suratmu yang singkat. Ada binar bahagia pada matanya yang teduh. Sialan! Anak laki-laki ini memang pantas disukai! Meski seribu tahun aku sibuk mengorek-ngorek kekurangan dan kecacatannya, aku pasti tak akan dapat menemukannya. Meski sebelumnya aku sempat menduga bahwa ia adalah anak yang sombong dan angkuh, nyatanya ia tersenyum ramah padaku dan mempersilakanku masuk. Hatiku lah yang sebenarnya belum sanggup menerima kebaikannya. Ah, melihat kesempurnaannya secara langsung, betapa jauhnya ia dibanding diriku. Rasanya aku ingin mengecil serupa semut kemudian menghilang dari hadapannya.

Terlalu lama berdiri di depan Andrea membuatku kikuk. Maka tak menunggu lebih lama, aku berpamitan pulang. Ia sempat menahanku karena hujan masih juga belum reda. Kupikir dia itu sedikit tolol. Jelas sekali ia melihat aku datang dengan keadaan basah kuyup. Bisa-bisanya ia  masih mengkhawatirkanku dengan alasan hujan.

Meski luka itu masih menganga, tapi aku pulang dengan perasaan yang lebih ringan. Setidaknya, surat yang ‘memberatiku’ itu telah kusampaikan dengan sukses. Kurasa kau pasti akan senang. Kemudian kubayangkan senyummu yang biasa terkembang saat sedang senang. Bukankah itu juga akan menyenangkan hatiku? Apalagi yang bisa kuperbuat selain membuatmu senang? Kau memilihku atau tidak, kau tetap adalah cintaku. Demi kamu aku bahkan rela mengorbankan diriku di hadapan maut dengan terjun ke laut. Mengapa sekarang aku tak rela menghancurkan hatiku sendiri? Bukankah itu toh juga untuk kesenangan kamu, kebahagiaan kamu? Dibandingkan dengan rasa cintaku terhadapmu, keegoisanku masih jauh lebih kecil dan masih bisa kuatasi, meski dengan terpaksa. Barangkali aku memang harus lapang dada menerima kenyataan ini. Aku harus tabah, aku harus ikhlas, aku harus sabar. Bukankah orang sabar adalah orang yang beruntung? Pak ustad mengatakan itu berkali-kali.

Aku membayangkan kau sedang diliputi perasaan bahagia dan jatuh cinta. Tak bisa tidur karena memikirkan si dia sambil tersenyum-senyum. Aku pun tak bisa tidur karena memikirkanmu, memikirkan hatiku. Kadang aku menangis, tapi lebih sering kutahan-tahan. Saat kita bermain bersama, kau pun mulai kerap membicarakannya. Tentu saja dengan hati yang berbunga-bunga, dengan wajah yang berbinar-binar. Kau membicarakan apa saja tentangnya dengan tertawa-tawa senang. Kau pun ingin aku antusias dengan semua ceritamu, luapan perasaanmu. Aku melakukannya. Aku ikut tertawa, menggodamu, mendengarkan dengan penuh perhatian mengenai kisah-kasihmu bersama dia. Begitulah caraku membuat diriku sempurna di hadapanmu. Apakah aku sudah benar-benar tampak sempurna waktu itu, Kisha?

Sekedar itu tentu saja belum cukup. Bukankah aku juga cukup setia menemanimu? Maksudku menemani kalian? Kadangkala kau memintaku bergabung diantara kemesran kalian yang malu-malu. Entah itu di perpustakaan sekolah, di kantin, atau dimanapun kalian memiliki kesempatan untuk berduaan. Aku seolah menjadi penjaga yang siap mempertaruhkan nyawa untuk keselamatan kalian. Masihkah kau ingat bahwa kita bertiga pernah berjalan-jalan di pusat perbelanjaan yang terletak di pusat kota? Andrea yang mengajakmu, dan ayahnya yang mengantar kita. Kau tentu takkan mendapat ijin dari orang tuamu jika pergi seorang diri. Akulah yang menjadi penyelamatmu, bukan? Di mobil Andrea yang besar, kalian berdua duduk di tengah, sedang aku duduk sendiri di bagian belakang, menonton kalian yang sedang saling curi-curi pandang. Bukankah orang tua Andrea pun menyukaimu? Tentu saja menyukaimu karena derajatmu sepadan dengan mereka. Lagipula, orang tuanya pun terlihat  ramah dan baik, tak kalah dengan orang tuamu. Nah, betapa kalian adalah pasangan yang sangat serasi!

Tidakkah andilku memuaskan bagimu? Aku pun kerap menjadi penengah diantara kalian. Seorang penghubung yang baik. Di minggu-minggu pertama pacaran, kalian masih senang saling surat-suratan. Kau pikir siapa yang menjadi tukang pos cinta diantara kalian? Di tengah hubungan, acapkali kalian saling marahan. Apakah kau pikir hanya kau saja yang melampiaskan segenap perasaanmu? Bahkan kekasihmu yang tampan itu pun bertingkah laku sama denganmu. Ia kerap memintaku menjadi pendengarnya, menjadi corong atas hasrat hatinya supaya engkau lebih mendengar, lebih mengerti. Ia sering memintaku merayumu untuknya, dan kau pun sering memintaku untuk membetikkan pengertiannya. Tidakkah kau merasa beruntung berteman denganku, Kisha?

Andaikan ada yang mengetahui keseluruhan tentang sepak terjangku, perasaanku,  tentu mereka akan menganggapku gila. Menilaiku konyol. Mau-maunya aku melakukan itu semua! Tapi bukankah sudah kukatakan bahwa seseorang yang mencintai seringkali berlaku gila dan berbuat konyol? Kecintaanku padamu membuatku gila, dan kebodohanku membuatku bertingkah konyol. Antara gila dan konyol dalam diriku beda tipis. Aku gila sekaligus konyol.

Lagipula, lambat laun aku pun mulai terbiasa. Terbiasa menerima kenyataan bahwa selain ada aku dan kamu, juga ada dia. Pun terbiasa untuk kembali menyimpan cinta cukup di dalam dada. Bukankah dari dulu juga demikian? Barangkali aku memang harus mengikhlaskannya. Mencoba untuk memiliki sikap demikian membuatku merasa sedikit lebih nyaman dan tenang. Tapi entahlah, kadangkala kupikir pun beda tipis antara mengikhlaskan atau menyerah karena tak lagi dapat melakukan apapun. Pada kondisi yang sepesimis itu, tak ada yang lebih baik selain sekedar mengharap kamu bahagia dengan cara apapun yang kau kehendaki. Karena bahagiamu, kusadari pun adalah bahagiaku. Bagiku, lebih baik kutahan-tahankan diriku menatap keriangan kalian berdua daripada kehilangan senyummu sama sekali.

Tapi entahlah, apakah kemudian aku harus bersyukur atau turut bersedih. Tiga bulan menjelang, kujumpai kau terduduk murung di kursi terasmu. Saat melihatku, seperti biasa, kau tak sabar untuk menumpahkan segenap curahan hatimu. Kau ajak aku bergegas ke atas bukit. Disana kita saling duduk bersisian. Saat kutanya ada apa, kau malah menutup wajah dengan tanganmu. Di antara isak tangismu yang tertahan-tahan, kau katakan dengan terbata bahwa hubungan cintamu dengan pangeran yang sempurna itu telah berakhir.

Kisha yang kucintai,

Sesungguhnya apapun yang telah kita alami adalah anak tangga menuju posisi kita yang sekarang. Jangan pernah disesali, jangan pernah merasa bersalah, dan jangan pula membenci. Saat mengungkap semua ini kepadamu, kuharap kau tak kecewa padaku dan menganggapku menggenggam belati di balik punggungku. Kau tahu bahwa aku takkan pernah menyakitimu. Andaikan belati itu memang melukai, maka ia hanya akan menusuk jantungku sendiri. Namun itu tiadalah mengapa. Bukankah aku terbiasa dengan rasa sakit? Bukankah sudah kukatakan bahwa bagi seorang yang mencinta, bahkan rasa sesakit apapun takkan pernah dirasakannya? Maka janganlah kau mengkhawatirkanku. Sejak dulu hingga detik ini, yang kupedulikan hanyalah kebahagiaanmu. Andaikata kebahagiaanmu adalah dengan mencabik-cabik diriku, hatiku, aku rela dengan sepenuh hati. Jauh lebih baik daripada kehilangan senyummu sama sekali.

Kisha yang kucintai,

Barangkali kau merasa lelah sekarang. Aku pun mulai merasa lelah. Aku telah mengungkap banyak hal kali ini. Regangkan sejenak otot-ototmu supaya tak kaku. Tersenyumlah. Kau selalu lebih cantik jika tersenyum. Lihatlah ke arah luar. Apakah masih terdapat cahaya disana? Jika iya, berarti masih terdapat cahaya pula dalam hatimu, dalam rentang asa dan harapanmu. Bersabarlah. Aku akan kembali menjumpaimu esok.

Yang mencintaimu,

A Ramu

surat @bintangberkisah

No comments:

Post a Comment