21 January 2012

Surat Kaleng untuk @yogiooh

Untuk Kamu, Pria yang Selalu Kunanikan Pesannya

Kepada:
@yogiooh


Halo, bayanganku! Eh, jangan tersinggung jika berbicara tentang hitam. Tidak, aku tidak sedang membicarakan warna kulit :p

Bagaimana keadaanmu sekarang, kawan? Pasti baik-baik saja. Ya, aku berani menjamin itu, karena kalau kamu sedang ada apa2, kamu selalu ingat aku untuk dihujani celotehanmu, kan? Tidak tidak, aku tidak ingin bilang kamu hanya ingat aku saat kamu sedih, tapi ingathlah kawan, aku tau kalau kamu baik baik saja di sana, dengan siapapun ia yang tak kau beritahu namanya.

Seandainya kamu tahu, aku tempe, eh tidak aku bercanda ._.

Seandainya kamu tau, aku selalu senang mendengarkan keluh kesahmu. Ya, walaupun yang kudengar selalu sedihmu, bukan berarti aku suka melihat kamu sedih ya. Aku senang melihat kamu senang, hanya saja kamu tidak memberikanku kesempatan untuk menunjukannya.

***

Halo pria yang selalu kunantikan pesannya,
Aku tau kita memang hanya sebatas teman, atau lebih? Ya, aku kembalikan semua ke kamu. Katanya pria? Hehe aku ikut saja.. :) sapaaanku di atas sungguhan lho, senyum selalu melatari wajahku kalau kita sedang bercakap-cakap via apapun, bbm, twitter, YM!, dan lain lain. Aku selalu menantikan kata “halo” yang dikhususkan untukku, yaa walaupun aku tau, bukan cuma aku yang kau kirimi halo itu.

Kamu tau aku suka kalimatmu. Semua kalimat dengan akhiran “<3” membuatku membacanya dengan nada lembut, selembut suara yang kau kirim ke aku sore itu. Siapapun itu, tapi dia menyanyikan lagu kita, ya, maksudku lagu favorit kita. Itu akan selalu menjadi lagu favoritku, bagaimana dengan kamu? :)

***

Teruntuk kamu yang mengetahui aku tanpa harus ku eja namaku,
Percayalah, aku senang kalau kamu senang. Aku tau semua percakapan kita selama ini memang tidak lebih dari sekedar guyonan. Aku tidak pernah menganggap itu serius kok (bohong(bohong(bohong(bohong(bohong))))), tapi aku serius ingin jadi temamu. Tentunya yang kamu ingat saat kamu senang maupun sedih. Sudah terlalu banyakkah temanmu sehingga kamu lupa menceritakan kebahagiaanmu kepadaku? Percayalah, aku tetap menunggu.

Sekarang, kapan mau kenalkan gadis yang akhir-akhir ini mengisi pikiranmu? Aku mohon jangan bilang gadis yang beruntung itu aku, aku lelah bersandiwara. Katakanlah apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan nyatamu, jangan selalu bercerita tentang “aku” yang kau bilang jadi pusat tata suryamu. Percayalah, aku tidak menganggap itu serius..

***

Teruntuk kamu yang kupeluk dalam kata,
Ingatlah, apapun yang aku tau tentang dirimu, tidak akan mengubah posisiku dalam pertemanan kita. Ya, pertemanan, hubungan yang sedari awal memang kita pahat untuk itu. Apapun yang kau katakan nanti tentang hidupmu, takkan membuatku bergerak menjauhi kamu, kutub yang membekukan kekakuanku.


Kamu yang namanya selalu kuingat ketika ingin bercerita,
Tolong, ingatlah aku juga dalam setiap tawa yang kamu punya. Sungguh, aku haus akan kisah bahagia, dengan kamu sebagai pemiliknya. Aku bukannya letih mendengar kisah sedihmu, hanya saja aku ingin melihat kau tersipu malu menceritakan kesenangan yang juga kau tandu.

 Satu kalimat penutup yang aku tujukan untukmu:

Ketika nanti saatnya tiba, kamu bisa dengar apa saja dariku --ingat itu dan selalu ingatkan aku--, kecuali marahku.


Dari aku pendengar yang menyimak,
Seseorang yang ingin dianggap sahabat :’)

No comments:

Post a Comment