19 January 2012

Halo Tuan Arsitek (3)

Halo Tuan Arsitek,


Aku mencintaimu tanpa aba-aba. Cinta yang jatuh begitu saja padamu dari kekosongan udara. Berawal dari cerita-cerita. Dimulai oleh sejumput inspirasi di sudut rasa.

Kamu singgah, laksana bayangan yang kemudian memiliki raga. Pelan-pelan kumaknai lewat rajutan wacana. Citra dalam kepala menjadi lembar-lembar berisi tatanan aksara. Penuh kamu, lahir dari kemurnian dan menjelma menjadi cinta.

Aku mencari.

Itu saja tak cukup.

Aku tidak ingin kisah itu hanya berupa rangka dari kata. Aku ingin imaji-imaji itu merupa.
Jari-jemariku adalah perangkai prosa, bukan pembentuk rupa. Aku bisa menggambarkannya dalam kalimat-kalimat bermakna. Namun hanya kamu yang dapat menuliskannya dalam gurat-gurat sketsa. Semua agar kisah itu makin sempurna. Agar kita saling menggenapi dalam rasa yang sama.

Aku mencari.

Dimulai dari surat ini dan surat yang lalu.

Aku menunggu.

Andai kau tahu.

Sampai jumpa di kesempatan yang tepat,

Nyonya Pengarangmu



Bogor, 17 Januari 2012

No comments:

Post a Comment