19 January 2012

to: you know who

Sayang, aku tak terbiasa mengirim surat. Berbincang denganmu pun biasanya singkat-singkat.

Aku akan pergi, untuk terakhir kali tolong baca surat ini. Paling tidak, kau mengerti. Dan akupun tak akan mengganggumu lagi.

Sejak bertemu pertama dulu. Aku tak mengerti perasaanku, kita memang tak ada apa-apa. Kau dengan duniamu, akupun dengan duniaku.

Beberapa hari belakangan aku malah menyukaimu, mulai rindu tiap sapa atau sekilas puisimu. Senyumku selalu merah jambu. Ya, kita sudah dewasa – tak perlu kujelaskan lagi ini apa.

Lalu kita sibuk mendiamkan. Hilang dan tak saling memperdulikan. Entah apa salahnya, hanya tak lagi bertegur sapa, hanya sebatas begitu-begitu saja. Sayang, apa kau hanya pura-pura?

Di depan semua orang aku kau rayu, lalu setelah jatuh hatiku, kau dengan enaknya mendiamkanku, seolah tak ada apa-apa. Ah, sebaiknya aku membencimu saja. Sayangnya tak bisa.

Meski kau tak jadi menikahiku, aku akan menyimpan keinginan itu. Tak lagi mengirim rindu padamu. Susah, tapi aku harus bisa. Karena mungkin hatiku telah patah.

Sayang, aku tak menangis. Hanya kecewa. tak usah balas surat ini bila kau memang tak cinta – seperti yang selama ini aku duga.

Yang menyayangimu,
Aku



Oleh:

Diambil dari: http://eqoxa.wordpress.com

No comments:

Post a Comment