19 January 2012

Teruntuk Ibu Desy DP


Malang, 18 January 2012

“Selamat malam bu, maaf menganggu saya zifora mahasiswa ilmu komunikasi 2008” itulah kalimat pembuka ku setiap mengirimkan pesan untukmu ibu.

maka, surat ini juga akan kuawali dengan kalimat serupa..

Selamat malam bu, maaf menganggu saya zifora mahasiswa ilmu komunikasi 2008 . saya ingin menuliskan surat cinta untuk ibu, semoga ibu berkenan membaca dan saya akan merasa sangat terhormat apabila ibu juga membalas nya. Terimakasih

Syukur ku pada Tuhan yang telah mengenalkan ku pada mu ibu. Pada hari itu di kelas pengantar ilmu komunikasi, pertama kali aku menjadi mahasiswa ibu dan seketika itu juga aku langsung jatuh cinta dengan cara ibu mengajar kami, mahasiswa semester satu  dengan kelakuan SMA. Tidak sedikit teman-temanku yang mengerutu tentang ketegasan dan kedisiplinan ibu dalam mengajar, tapi aku selalu tersenyum dan dengan bangga berkata : “ibu Desi adalah dosen kesayanganku”.

Melanjutkan kuliah s2 di Belanda membuat aku dan teman-teman tidak lagi diajar oleh ibu, bukan ... bukan ... aku tak rela ibu pergi untuk menuntut ilmu... hanya aku merasa sepi dan rindu mengharapkan ibu kembali. Selama ibu pergi Dosen pembimbing akademik ku dialihkan, sedih dan hampa rasanya meminta tanda tangan KHS tanpa pertanyaan : “kenapa nilai mata kuliah ini jelek zifora?”

Aku tidak akan lupa hari pertama ibu mengajar kembali, pada siang itu di mata kuliah cultural studies. Apalagi ketika ibu masih ingat dengan ku, ah..... itu menyenangkan sekali.... 

Berkesempatan di bimbing magang ibu adalah anugrah bagi ku. aku tidak lupa kalau ibu menyuruh ku mengulang magangku, sungguh tak ada rasa menyesal dengan keputusan ibu. Karena dengan mengulang magang , aku mendapatkan kejelasan akan masa depanku. Kembali aku berutang budi padamu ibu...

Loncat-loncat kegirangan adalah ekspresi pertama ketika aku tau ibu menjadi dosen pembimbing skripsi ku. Do’a di sholat malamku terkabul, Tuhan kasih aku kesempatan menyelesaikan tugas akhir mahasiswa di bawah bimbingan ibu.

Entah  berapa banyak utang budi pada mu ibu , pahlawan tanpa tanda jasaku.

Dengan tetesan air mata yang tak dapat ku bendung saat menulis ini , aku haturkan do’a agar ibu mendapat kebahagian dunia dan akhirat.

Maaf apabila dalam surat ini ku gunakan kata “aku” bukan “saya” untuk menyebut diri, tentu saja bukan karena tidak menghormati mu ibu hanya saja kata “aku” membuat saya lebih menjiwai surat ini.

Dan tentu saja saya meminta maaf apabila ada kesalahan EYD , ini bukan skripsi kan bu? hehe


salam sayang


zifora 

Oleh @zeefora

No comments:

Post a Comment